Mengintip Bobroknya Birokrasi Melalui 86

FullSizeRender

Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Maret 2011
Jumlah Halaman: 252
ISBN: 9789792267693
Blurb:

Apa yang bisa dibanggakan dari pegawai rendahan di pengadilan? Gaji bulanan, baju seragam, atau uang pensiunan?

Arimbi, juru ketik di pengadilan negeri, menjadi sumber kebanggaan bagi orangtua dan orang-orang di desanya. Generasi dari keluarga petani yang bisa menjadi pegawai negeri. Bekerja memakai seragam tiap hari, setiap bulan mendapat gaji, dan mendapat uang pensiun saat tua nanti.

Arimbi juga menjadi tumpuan harapan, tempat banyak orang menitipkan pesan dan keinginan. Bagi mereka, tak ada yang tak bisa dilakukan oleh pegawai pengadilan.

Dari pegawai lugu yang tak banyak tahu, Arimbi ikut menjadi bagian orang-orang yang tak lagi punya malu. Tak ada yang tak benar kalau sudah dilakukan banyak orang. Tak ada lagi yang harus ditakutkan kalau semua orang sudah menganggap sebagai kewajaran.

Pokoknya, 86!

*

“Semua orang di sini juga seperti itu. Jadi tahu sama tahu. Yang bego yang nggak pernah dapat. Sudah nggak dapat apa-apa, semua orang mengira dia dapat.”–hal.103

Bagi seseorang yang tidak punya sikap ideal, sudah pasti ia akan memilih untuk ikut arus. Buruknya, ketiadaan sikap ideal dan dibarengi dengan keluguan, justru bisa menjerumuskan. Itulah yang dialami Arimbi, seorang gadis desa yang lulus sebagai pegawai di pengadilan negeri. Tugasnya adalah sebagai juru ketik.

Awalnya menjadi juru ketik adalah pekerjaan yang ia lakukan sebagaimana adanya. Sesuai perintah Bu Danti, atasannya. Bu Danti yang menentukan mana kasus yang diutamakan untuk diketik hasilnya, mana kasus yang bisa menunggu. Arimbi menurut. Termasuk menurut ketika Bu Danti diam-diam memanfaatkannya untuk bertemu dengan seorang pengacara di sebuah restoran, untuk menerima suap. Sebuah pertemuan yang berakhir buruk.

Novel berlatar tahun 2004 ini mengupas tuntas praktik-praktik suap di lingkungan pengadilan negeri. Uang suap dari para pengacara disalurkan melalui panitera, kemudian panitera meneruskan pembagian kepada para hakim. Persidangan beres. Putusan beres. Pokoknya delapan enam! Membuat geleng-geleng juga membacanya. Bikin saya bersyukur karena menjadi birokrat di era reformasi birokrasi, tidak sempat ikut-ikutan menjadi penjajah di zaman jahiliyah.

Sebenarnya yang dikantongi Arimbi tidaklah seberapa, tetapi akibat yang ia terima memengaruhi sisi kehidupannya yang lain. Dan di tengah cobaan tersebut, juga kemunculan penyakit ibunya yang memerlukan banyak uang untuk pengobatan, keberadaan sang suami, Ananta, menjadi semacam oase bagi kerumitan hidup Arimbi. Di masa-masa sulit, yang kita perlukan adalah orang yang senantiasa ada, setia menemani.

Dengan cerita yang mengalir santai dan jalinan kalimat yang sederhana—saya jadi ingin membandingkan Okky Madasari dengan Arswendo Atmowiloto dalam hal kesederhanaan bahasa dan pengambilan topik yang merakyat—86 membuka mata kita lebar-lebar bahwa memang masih banyak yang harus dibenahi di republik ini. Khususnnya terkait birokrasi.

Jadi, para birokrat, dengan kondisi birokrasi yang seperti ini akankah kalian ikut memperbaiki sistem atau malah keluar dan melarikan diri? Jadi birokrat itu memang harus sepenuh jiwa, ya. Nggak bisa mengharapkan orang yang oportunis. Mending oportunis kalau pinter, tapi kalau oportunisnya numpang gajian doang, ya itu hanya nambah-nambahi beban negara.

Lima bintang untuk 86. Pokoknya delapan enam!

***

Advertisements

4 thoughts on “Mengintip Bobroknya Birokrasi Melalui 86

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s