A Copy of My Mind: Film Vs. Novel

068
Judul: A Copy of My Mind
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: April 2016
Jumlah Halaman: 199
ISBN: 9786023754014
BLurb:

Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.

Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.

Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.

*

Meski saya tidak menjalani hidup sekeras Sari menjalani hidup di Jakarta, tapi set cerita yang Jakarta banget, sukses mengena. Sepakat dengan kata beberapa review(-er) yang saya baca mengenai film A Copy of My Mind (ACoMM), bahwa Joko Anwar merekam Jakarta masa kini dengan sangat baik. Detail mengenai Jakarta yang diceritakan dengan kata-kata oleh Dewi Kharisma Michellia juga sama. Tersaji dengan sangat baik dalam ACoMM versi novel.

Entahlah apa alasan besar Joko Anwar, Grasindo, Dewi Kharisma Michellia, atau siapa pun yang ada di balik proyek ini, setuju untuk meluaskan dunia A Copy of My Mind dari (hanya) film menjadi film dan novel. Karena hasilnya tidak terlalu luas juga, sih. Adegan demi adegan dalam novel tidak jauh berbeda dengan apa yang kita saksikan di film, adapun yang bertambah adalah narasi alias isi kepala kedua tokoh utama. Sari dan Alek. Sari yang miskin tapi (kok) nggak ngotot pengin kaya, Alek yang tadinya cuma pengin bertahan hidup kemudian pengin punya uang banyak untuk mewujudkan cita-cita Sari membeli home theatre. Sari yang tukang ngutil dan Alek yang tukang (taruhan) balapan liar. Sari yang terjebak dalam drama para koruptor, lalu Alek yang menanggung akibatnya. Tapi pada akhirnya, Sari juga kena batunya terkait apa yang dialami Alek.

“Dia orangnya asyik, bisa ramah banget ke orang. Tapi, aslinya sinis sama dunia dan orang-orang di sekitarnya, seperti lu juga. Pokoknya, lu bakal benar-benar mabuk kepayang sama cewek satu ini.” –Hal. 57

Dibilang kompleks, tidak juga. Membingungkan, iya. Ada (plot) yang berlubang di versi film dan sempat membuat saya bertanya kenapa begini kenapa begitu. Apa orang-orang suruhan itu begitu bodohnya? Lalu di versi novel, semua terjelaskan. Mereka ya begitu itu. Wow.

Tapi terlepas dari uraian di atas dan gaya bercerita Dewi Kharisma Michellia yang tetap menjadi favorit saya, juga timbul perasaan bahwa pengetahuan saya tentang film sedang diuji. Adakah yang tahu film apa yang dimaksud penulis di kalimat ini: “…serial televisi monster pisang yang berupaya menaklukkan dinasti kera karena kera-kera itu menewaskan orang tua si monster pisang.” (Hal. 9)

Atau ini: “…trilogi film di mana di suatu perjalanan dengan kereta seorang perempuan yang merasa hidupnya sebatang kara bertemu lelaki yang yang merasa hidupnya sebatang kara juga.” (Hal. 10)

Atau ini: “…film Perancis tentang dua sahabat yang sejak kecil sampai dewasa menganggap hidup mereka seperti permainan. Ada sebuah kaleng mainan yang selalu mereka bawa bersama dan kaleng itu jadi saksi permainan-permainan yang terjadi di antara mereka.” (Hal. 97)

Ada yang tahu?

Kalau saya, sih, nggak tahu. Iya, pengetahuan saya tentang film memang payah. *nunduk* Tapi penasaran! Apakah benar-benar ada film sebagaimana yang ia tuliskan dalam novel ACoMM, atau itu hanya sekadar imajinasi?

Well, kalau kalian sudah sempat nonton (film) ACoMM, nggak ada salahnya baca ACoMM versi novel untuk lebih paham tentang karakter Sari dan Alek. Banyak pertanyaan yang akan terjawab. Tapi buat yang belum nonton filmnya, wajib banget baca ACoMM versi novel. Roman, sedikit komedi, banyak ironi, gamblangnya penggambaran mengenai polah koruptor negeri, dan Dewi Kharisma Michellia.

Keren!

***

Advertisements

5 thoughts on “A Copy of My Mind: Film Vs. Novel

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s