Tanah Lada: Tanah yang Menumbuhkan Kebahagiaan

Di Tanah Lada

Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Oktober 2015
Jumlah Halaman: 240
ISBN: 9786020318967
Blurb:

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

Ditulis dengan alur yang penuh kejutan dan gaya bercerita yang unik, sudah selayaknya para juri sayembara memilih novel Di Tanah Lada sebagai salah satu juaranya.

*

SEGAR adalah kata yang rasanya pas menggambarkan perasaan saya ketika membaca Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Meskipun novel ini bukan novel pertama yang menggunakan sudut pandang anak kecil, tetapi ada sesuatu yang berbeda dengan Salva dibandingkan dengan tokoh anak-anak di novel lain. Kecintaannya akan kata-kata barangkali merupakan yang paling menonjol di antara sekian keunikan Salva yang saya tangkap. Bagaimana tidak, baru di halaman tiga saya sudah disuguhkan salinan kamus yang menjelaskan arti (bukan satu, tapi lima) kata:

1. Berbuat
2. Buat
3. Tolol
4. Bebal
5. Bodoh

Karena di novel ini Salva sedang ‘bercerita’ kepada pembaca dewasa tentunya, maka pembaca (dewasa) mana yang tidak paham arti kata-kata tersebut? Tapi begitulah uniknya Salva. Di tengah cercaan/kemarahan Papanya, ia memilih untuk menyibukkan diri dengan kamus bahasa Indonesia yang ia dapat dari Kakek Kia di ulang tahunnya yang ketiga. Setiap kali mendengar kata-kata yang tidak ia mengerti diucapkan orang lain, maka Salva akan langsung membuka kamus dan mencari arti kata-kata tersebut. Tak jarang, ia menjelaskan ulang arti kata yang dibacanya di kamus ketika ia sedang berbicara dengan orang lain di kemudian hari. Ingatan Salva sungguh baik. Kamus bahasa Indonesia tersebut juga mengandung pesan yang ditulis Kakek Kia, bahwa budi bahasa baik membentuk manusia bersahaja. Pesan inilah yang menjadi alasan mengapa Salva senantiasa menggunakan kata baku serta sesuai ejaan bahasa Indonesia. Tetapi perhatian Salva terhadap (ber)bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai terpecah setelah obrolannya dengan Kak Suri–teman P di Rusun Nero, yang berkata bahwa:

“Tapi yang lebih penting daripada bertutur kata yang baik adalah bertutur kata yang tepat. Kalau lawan bicara kamu nggak mengerti apa yang kamu bicarakan, nggak ada gunanya juga kamu bicara.” –Hal.66

Sejak itu, Salva belajar berkata ‘nggak’.

Saya menyukai cara Ziggy menunjukkan kecintaannya akan Bahasa Indonesia. Tentu saja cinta karena kalau tidak, mana mungkin Ziggy bersusah payah menyalin isi kamus ke dalam novelnya. Dengan senang hati, saya juga menganggap ini merupakan upaya Ziggy mengingatkan kita untuk kembali kepada KBBI (dan EBI). Belakangan ini, banyak kata yang sebenarnya netral, dengan sengaja digunakan secara terus menerus untuk menggiring opini (negatif) terkait isu-isu tertentu. Pada awalnya mungkin terlihat biasa saja, tetapi lama-lama kata-kata tersebut bisa mengalami pergeseran makna.

Misal ‘nyinyir’, siapa yang pertama kali salah menganggap ‘nyinyir’ sebagai ‘suka menyindir’ hingga menyebar luas? Atau apakah kalian melakukan salah satu dari dua puluh kesalahan yang kerap terjadi dalam berbahasa Indonesia seperti yang tertulis di sini?

*

Selain urusan bahasa Indonesia, urusan logika juga diangkat Ziggy di novel ini. Dari penuturan seorang anak berusia enam tahun, pembaca dihadapkan pada kesimpulan yang diambil berdasarkan (hanya) premis satu dan premis dua. Bila A adalah B, dan B adalah C, maka A adalah C.

“Orang-orang yang berjudi semuanya diajak setan. Papa bilang teman-temannya yang mengajak dia judi. Jadi, teman-temannya itu setan. Dan, kalau Papa mengajak orang lain untuk berjudi, Papa juga setan.” –Hal. 33

Pada orang dewasa, menyimpulkan sesuatu kerap menjadi hal yang rumit. Selain premis satu dan premis dua, masih ada premis tiga, empat, lima, dan faktor-faktor lain yang turut memengaruhi proses pengambilan kesimpulan. Ketika membaca kesimpulan Salva mengenai sosok Papa, besar sekali keinginan untuk mengatakan bahwa kesimpulan yang ia buat kurang tepat. Tapi Salva, kan, baru berusia enam tahun. Bagaimana ini?

Sosok Salva sangatlah menarik perhatian. Membuat saya teringat pada Matilda (tokoh rekaan Roald Dahl). Apalagi ketika membaca blurb Di Tanah Lada, bagian “Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna.” Salva dan Matilda sama-sama dianggap tidak berguna dan tidak disukai ayah masing-masing tanpa alasan yang jelas. Bedanya, Matilda punya Miss Honey, Salva punya P. Pada hubungan antara Matilda dan Miss Honey, masih dapat dirasakan aura anak-anak pada sosok Matilda yang jenius. Tetapi hubungan (pertemanan) antara Salva dengan P digambarkan sangat … dalam. Dan dewasa. Pertemanan tersebut mengantarkan mereka (juga kita, pembaca) ke petualangan demi petualangan yang berakhir di Tanah Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.

***

 

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s