Dru dan Kisah Lima Kerajaan

Dru

Judul: Dru dan Kisah Lima Kerajaan
Penulis: Clara Ng, Ilustrasi oleh Renata Owen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit: April, 2016
Jumlah halaman: 208
ISBN: 9786020321592
Blurb:

“Bagaimana cara menyembunyikan pikiran?”
“Kamu ingin tahu caranya? Cobalah mencurinya dari pikiran kami.”
“Bagaimana cara mencuri pikiran kalian?”
“Caranya ada di dalam pikiran kami.”

Alkisah, seorang gadis cilik mencari selendangnya yang hilang, bertemu dengan lima raja yang kesepian.

Seekor Keong Emas bertutur asal usul pohon Kapaltaru, membuka perjalanan menembus jagat, untuk menebus satu kesalahan.

*

Dru adalah anak perempuan berusia dua belas tahun yang sangat lincah. Suatu ketika, Dru sedang asyik memetik rambutan. Hasil petikannya ia lemparkan begitu saja ke tanah untuk kemudian dikumpulkan lalu dinikmati. Tanpa diduga, seorang anak laki-laki memunguti dan memakan hasil jerih payah Dru! Hal tersebut menyulut emosi dalam diri Dru sehingga terjadi perselisihan antara Dru dan anak laki-laki tersebut. Peristiwa itu diketahui Ibu dan itu membuat Ibu menangis. Ibu juga mengingatkan bahwa Dru tidak boleh ‘sok jagoan’.

“Dru harus bisa mengontrol emosinya dan tidak boleh menjadi gadis yang congkak, demikian kata Ibu.” –hal. 15

Atas perbuatannya, Dru dihukum tidak boleh ke mana-mana. Jadilah ia terkurung di kamarnya dan hanya bisa menatap laut dari birai jendela. Pada saat ia asyik memandang laut, angin kencang menerbangkan selendang yang ada di bahu Dru. Ia berusaha meraih selendangnya tetapi gagal. Lalu sesuatu terjadi, Dru melihat buih-buih ombak menjelma menjadi kupu-kupu yang sangat besar. Dru melompat ke punggung kupu-kupu berharap kupu-kupu tersebut membawanya mendapatkan selendangnya kembali. Di tengah usahanya, Dru malah terjatuh ke dalam lubang dan berakhir di sebuah negeri ajaib.

Petualangan Dru di lima kerajaan pun dimulai.

*
Bagi saya, bacaan untuk anak-anak haruslah bacaan yang mudah dimengerti, memberi ruang yang cukup untuk berimajinasi, dan tentu saja bernilai. Dru dan Kisah Lima Kerajaan (Dru) mengakomodasi semuanya. Penggunaan kalimat yang sederhana dan jelas serta alur maju dan tidak berbelit-belit tentu saja membuat anak merasa nyaman ketika membaca tulisan panjang. Terlebih lagi bila si anak adalah pembaca yang masih tergolong hijau. Selain itu, kemudahan untuk memahami bacaan akan secara langsung memengaruhi gambaran yang dihasilkan anak di benaknya. Deskripsi-deskripsi yang baik jelas akan membantu memantik daya khayal anak. Menyajikan Dru satu paket dengan ilustrasi-ilustrasi indah juga merupakan pilihan yang tepat, mengingat imajinasi tidak hanya dapat dilatih melalui jalinan kalimat tetapi juga melalui gambar. Anak-anak dibantu membayangkan seperti apa rupa Bibi Keong dengan jam di punggungnya dan Raja Nala yang setengah harimau. Lalu, setelah dihadapkan pada petualangan demi petualangan, akan sangat baik jika anak bisa mendapatkan pengetahuan baru dari apa yang ia baca.

Kegiatan membaca yang dibiasakan ke anak merupakan upaya orangtua untuk menunjukkan cara belajar yang menyenangkan. Ini kepercayaan saya, sih. Belajar di sini bukan belajar hal-hal formal seperti di sekolah, tetapi lebih ke belajar mengenai apa, sih, isinya dunia di luar sana. Sangat baik membuat anak tahu bahwa ada berbagai macam jenis manusia dan ada berbagai macam permasalahan hidup beserta jalan keluarnya. Adegan pertama saja bisa digolongkan dalam ‘permasalahan hidup’ dan bisa jadi bahan diskusi yang baik antara anak dan orangtua. Anak laki-laki yang mengambil rambutan Dru, apakah ia bisa disebut sebagai pencuri? Apakah ia bersalah? Bahkan, apakah rambutan yang dipetik Dru dari pohon-yang-bukan-miliknya bisa dikatakan sebagai milik Dru? Duh, kenapa jadi serius.

Well, selain menjadi bacaan yang menyenangkan, menyambung bahasan mengenai membaca-adalah-belajar, Dru juga menyediakan ruang bagi anak untuk meluaskan perbendaharaan kata. Clara Ng dengan baik menggunakan masygul, birai, horizon, pekak, dan sebagainya yang barangkali terdengar asing di telinga anak. Nah, untuk yang satu ini para orangtua harus lebih dahulu tahu arti kata-kata tersebut, untuk berjaga-jaga seandainya si anak bertanya.

 

“Bukalah matamu. Selama kamu percaya, keajaiban akan menampilkan keberadaannya.” –hal. 41

Secara keseluruhan, Dru adalah bacaan yang bagus. Saya menyukai Dru karena tampil dalam versi hardcover, saya menyukai desain sampul Dru, saya menyukai dominasi warna oranye dan emas yang menimbulkan kesan ceria dan lincah. Sangat cocok untuk cerita petualangan. Ilustrasi karya Reanta Owen yang memanjakan mata semakin menambah sisi positif novel ini. Saya juga menyukai nilai-nilai budaya yang disisipkan dalam Dru. Menurut Clara Ng, Dru mengandung unsur petualangan Alice di Negeri Ajaib (karena Clara Ng adalah fans berat Alice) dipadukan dengan lokalitas. Saya menemukan Alice dijelmakan pada tokoh Dru sendiri, pada bagian ketika Dru masuk lubang, juga fenomena Dru yang bisa membesarkan atau mengecilkan tubuhnya di dunia ajaib. Sedangkan unsur lokal muncul di dalam dunia ajaib itu sendiri. Ada Pandu dan kelima anaknya yang terdengar sama dengan Pandawa, penggunaan nama-nama yang bernuansa wayang banget seperti Patala dan Wrekodara, serta selipan budaya lokal seperti kuda lumping.

“Semua raksasa berukuran sekecil bunga ketika masih kanak-kanak, Dru. Mereka akan tumbuh cepat dan pesat ketika melewati usia dua belas tahun.” –hal. 139

Saya akan sangat bahagia bila ada lebih banyak lagi buku cerita anak seperti Dru.

***

Advertisements

2 thoughts on “Dru dan Kisah Lima Kerajaan

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s