Gila Atau Tidak Gila Hanyalah Perkara Sudut Pandang

028

Judul: Lho
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 1982
Jumlah halaman: 163
ISBN: –
Blurb: –

*

Lagi-lagi saya harus bilang bahwa saya suka novel yang tokoh utamanya, secara psikologis, agak berbeda dengan terminologi ‘normal’ di masyarakat. Ini poin pertama dan utama yang bikin saya menikmati membaca Lho.

“Itu, maksudku keinginan-keinginan jahat yang melintas dengan cepat yang tidak mungkin sama sekali dilaksanakan–bahkan yang sama sekali tidak pernah aku laksanakan–tetapi yang memberi kenikmatan.” –hal. 29

Poin kedua adalah deskripsi yang baik mengenai ketidaknormalan tokoh aku tersebut. Saya dibuat mengangguk setuju dengan setiap gerak geriknya. Perjalanan logika tokoh aku dari awal sampai akhir cerita juga tidak bisa (atau tidak perlu) dibantah karena setiap alasan yang ia kemukakan sebelum melakukan suatu tindakan terasa masuk akal. Inilah enaknya membaca cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama, kecil kemungkinan kita menyalahkan diri sendiri.

Ketiga, bromance di novel ini kental sekali. Tidak ada perempuan yang menjadi sentral cerita dan terlibat secara berlebihan dengan tokoh aku. Hanya ada dua tokoh perempuan di novel ini yang patut diperhitungkan yaitu yang mempekerjakan aku sebagai kernet truk, dan perempuan sebagai kekasih-singkat aku yang kemunculannya saya anggap hanya untuk melengkapi siklus hidup aku sebagai laki-laki khususnya dan sebagai manusia umumnya. Sebaliknya yang menonjol adalah hubungan pertemanan dan pekerjaan antarlelaki. Aku dan Zen (teman yang tulus membantu aku untuk sembuh dari gejala kegilaan, dan somehow hubungan mereka terasa menghangatkan hati), aku dan Bing (yang tidak pamrih), aku dan lelaki yang mempekerjakannya (sangat profesional). Tidak basa basi. Tidak drama. Semuanya berjalan jujur sebagaimana adanya.

Keempat, bab-bab disajikan pendek sehingga mampu mengurangi kemungkinan timbulnya perasaan bosan. Tapi pada dasarnya, jalinan kalimat Putu Wijaya memang tidak datar, sih.

Kelima, Lho adalah karya Putu Wijaya pertama yang saya baca dan saya mendapat kesan (pertama) yang baik. Semoga karya beliau berikutnya konsisten sesuai dengan selera saya. Haha. Agak merasa terlambat membaca karya Putu Wijaya karena rata-rata karya beliau diterbitkan oleh Balai Pustaka sebelum tahun 2000 dan ketika itu saya belum aktif membaca. Tapi toh lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Terakhir, penting untuk memeriksa kembali bagaimana cara kita memandang diri sendiri. Karena cara pandang tersebut rupanya sangat memengaruhi proses pengambilan keputusan di kehidupan sehari-hari. Bila merasa bahwa diri kita adalah orang jahat maka kita akan cenderung melihat orang lain dengan curiga, begitu juga sebaliknya. Di novel Lho, tokoh aku mengingatkan pembaca bahwa sekalipun orang lain menganggap kita gila, jangan sampai kita merasa sebagai orang gila. Gila atau tidak gila, itu kan hanya masalah sudut pandang.

“Aku ingin kembali menemukan basa-basi. Di  mana setiap orang berusaha untuk memoles dirinya sedikit dalam sikap maupun perbuatan, supaya manis. Dengan begitu hidup memang palsu akan tetapi tidak menjemukan.” –hal.

 

***

Advertisements

One thought on “Gila Atau Tidak Gila Hanyalah Perkara Sudut Pandang

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s