Mutiara: Hidup Yang Terkadang Ya Begini Ini

Judul: Mutiara (The Pearl)
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tahun terbit: Februari 2016
Jumlah halaman: 148
ISBN: 9786022900627
Blurb:
Kino seorang nelayan miskin di Meksiko, gundah karena anaknya yang masih bayi jatuh sakit, sedangkan dia tak punya uang untuk membayar dokter yang mata duitan. Dalam kesedihannya, ia menemukan sebuah mutiara raksasa. Dia gembira karena berharap dapat menjual mutiara itu dengan harga tinggi. Namun, ternyata mutiara ini menjadi penyebab serangkaian kejadian tak terduga dalam hidupnya.

Inilah sebuah kisah menyentuh dan asyik dibaca. Tak hanya menghibur kita dengan kelincahan bercerita, dalam novel ini, Steinbeck pengarang pemenang hadiah Nobel Sastra dan hadiah Pulitzer menyadarkan kita akan makna kehidupan yang hakiki: harta bukanlah segalanya dan kebahagiaan tidak bisa dibeli.

*
Kalau mau jujur, saya lebih menyukai akhir cerita yang menyedihkan (tentu saja tanpa terkesan dipaksakan). Rasanya lebih memorable. Dan lebih besar kemungkinan mengalami book-hangover ketika tokoh utama tidak mendapatkan apa yang ia inginkan daripada sebaliknya. Seolah ingin mengheningkan cipta sejenak sebelum mulai membaca cerita baru. Rasa empati juga menjadi lebih kuat. Selain itu, bukankah kita belajar lebih banyak (kebijaksanaan) dari rasa sakit, kehilangan, dosa, pengorbanan, dsb? Topik-topik semacam itu menjadi telapak tangan yang akan menampar dan mengembalikan kesadaran kita dari, misalnya, angan-angan yang terlalu tinggi (tanpa disertai usaha untuk mewujudkannya).

Itulah sebab saya merasa senang ketika menutup halaman terakhir Mutiara karya John Steinbeck. Senang dan sedih, sih. Pada saat bersamaan. Bisa, ya? Senang, karena novel ini berakhir sebagaimana yang saya sangka/harapkan/suka. Sedih, karena jalan ceritanya benar-benar membuat saya gemas. Bagaimana mungkin seseorang dengan keyakinan yang begitu kuat (dan benar, karena diceritakan dari sudut pandang orang ketiga sehingga pembaca tahu mana yg benar mana yg salah) malah mengalami hal-hal buruk? Seorang nelayan yang sehari-harinya berkutat dengan mutiara tentu tahu bagaimana kualitas suatu mutiara dan berapa harga yang pantas untuk benda tersebut. Sehingga ketika Kino menemukan mutiara yang begitu besar dan berkualitas baik, ia yakin harga jual mutiara tersebut akan tinggi. Namun kenyataannya, beberapa tengkulak memberi harga rendah. Kino menolak menjual di bawah harga yang ia yakini, dan keputusan tersebut membawa Kino dan kekuarga kecilnya pada kejadian-kejadian yang tak menyenangkan.

“Keinginan haruslah sedang-sedang saja, kau harus bersiasat dengan Tuhan atau dewa-dewa.”

–Hal. 33

Mutiara menyajikan kenyataan-kenyataan pahit. Manusia-manusia yang menjadi baik hanya ketika melihat ada manfaat yang bisa didapat. Manusia-manusia serakah yang mengusahakan segala cara untuk memperkaya diri sendiri. Manusia-manusia jahat yang selalu menemukan cara untuk mewujudkan niatnya. Manusia-manusia berkeyakinan kuat hingga kadang membuatnya tidak berpikir realistis, berharap terlalu tinggi hingga lupa memperbaiki kondisi saat ini yang sudah rusak parah. Saya merasa diingatkan untuk senantiasa menyadari keberadaan orang-orang semacam itu tanpa mengurangi keyakinan akan suatu hal baik sebagaimana Kino meyakini harga mutiara yang ia miliki.

Sebagai tokoh utama, Kino dihadapkan pada kenyataan pahit atas apa yang ia yakini baik. Sebagai pembaca, saya dihadapkan pada kenyataan hidup yang terkadang ya begini ini.

4 bintang.

***

Advertisements

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s