Mutiara: Hidup Yang Terkadang Ya Begini Ini

Judul: Mutiara (The Pearl)
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tahun terbit: Februari 2016
Jumlah halaman: 148
ISBN: 9786022900627
Blurb:
Kino seorang nelayan miskin di Meksiko, gundah karena anaknya yang masih bayi jatuh sakit, sedangkan dia tak punya uang untuk membayar dokter yang mata duitan. Dalam kesedihannya, ia menemukan sebuah mutiara raksasa. Dia gembira karena berharap dapat menjual mutiara itu dengan harga tinggi. Namun, ternyata mutiara ini menjadi penyebab serangkaian kejadian tak terduga dalam hidupnya.

Inilah sebuah kisah menyentuh dan asyik dibaca. Tak hanya menghibur kita dengan kelincahan bercerita, dalam novel ini, Steinbeck pengarang pemenang hadiah Nobel Sastra dan hadiah Pulitzer menyadarkan kita akan makna kehidupan yang hakiki: harta bukanlah segalanya dan kebahagiaan tidak bisa dibeli.

*
Kalau mau jujur, saya lebih menyukai akhir cerita yang menyedihkan (tentu saja tanpa terkesan dipaksakan). Rasanya lebih memorable. Dan lebih besar kemungkinan mengalami book-hangover ketika tokoh utama tidak mendapatkan apa yang ia inginkan daripada sebaliknya. Seolah ingin mengheningkan cipta sejenak sebelum mulai membaca cerita baru. Rasa empati juga menjadi lebih kuat. Selain itu, bukankah kita belajar lebih banyak (kebijaksanaan) dari rasa sakit, kehilangan, dosa, pengorbanan, dsb? Topik-topik semacam itu menjadi telapak tangan yang akan menampar dan mengembalikan kesadaran kita dari, misalnya, angan-angan yang terlalu tinggi (tanpa disertai usaha untuk mewujudkannya).

Itulah sebab saya merasa senang ketika menutup halaman terakhir Mutiara karya John Steinbeck. Senang dan sedih, sih. Pada saat bersamaan. Bisa, ya? Senang, karena novel ini berakhir sebagaimana yang saya sangka/harapkan/suka. Sedih, karena jalan ceritanya benar-benar membuat saya gemas. Bagaimana mungkin seseorang dengan keyakinan yang begitu kuat (dan benar, karena diceritakan dari sudut pandang orang ketiga sehingga pembaca tahu mana yg benar mana yg salah) malah mengalami hal-hal buruk? Seorang nelayan yang sehari-harinya berkutat dengan mutiara tentu tahu bagaimana kualitas suatu mutiara dan berapa harga yang pantas untuk benda tersebut. Sehingga ketika Kino menemukan mutiara yang begitu besar dan berkualitas baik, ia yakin harga jual mutiara tersebut akan tinggi. Namun kenyataannya, beberapa tengkulak memberi harga rendah. Kino menolak menjual di bawah harga yang ia yakini, dan keputusan tersebut membawa Kino dan kekuarga kecilnya pada kejadian-kejadian yang tak menyenangkan.

“Keinginan haruslah sedang-sedang saja, kau harus bersiasat dengan Tuhan atau dewa-dewa.”

–Hal. 33

Mutiara menyajikan kenyataan-kenyataan pahit. Manusia-manusia yang menjadi baik hanya ketika melihat ada manfaat yang bisa didapat. Manusia-manusia serakah yang mengusahakan segala cara untuk memperkaya diri sendiri. Manusia-manusia jahat yang selalu menemukan cara untuk mewujudkan niatnya. Manusia-manusia berkeyakinan kuat hingga kadang membuatnya tidak berpikir realistis, berharap terlalu tinggi hingga lupa memperbaiki kondisi saat ini yang sudah rusak parah. Saya merasa diingatkan untuk senantiasa menyadari keberadaan orang-orang semacam itu tanpa mengurangi keyakinan akan suatu hal baik sebagaimana Kino meyakini harga mutiara yang ia miliki.

Sebagai tokoh utama, Kino dihadapkan pada kenyataan pahit atas apa yang ia yakini baik. Sebagai pembaca, saya dihadapkan pada kenyataan hidup yang terkadang ya begini ini.

4 bintang.

***

KAPPA: Bicara Pinjam Lidah

Judul: Kappa
Penulis: Ryunosuke Akutagawa
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 9786024240950
Blurb:

Kappa menggambarkan karikatur kehidupan masyarakat modern Jepang yang maju setelah mengalami zaman teknologi modern, tetapi mengalami kemerosotan derajat rohani. Makhluk kappa dan masyarakatnya merupakan buah imajinasi Ryunosuke Akutagawa.

Akutagawa dipandang sebagai salah satu sastrawan terkemuka Jepang. Banyak yang menganggapnya setara dengan Gustave Flaubert. Selain Kappa, buah penanya yang terkenal antara lain: Rashomon dan Dalam Hutan.

Akutagawa meninggal pada tanggal 24 Juli 1927 dalam usia 35 tahun karena bunuh diri. Tak diketahui pasti penyebabnya, walaupun ia sendiri pernah berkata, seandainya ia bunuh diri, itu karena kabut ketakutan

*

Di Jepang, kappa adalah sebuah mitologi. Tampilan fisiknya  serupa anak sepuluh tahun, berdiri tegak dan dapat berbicara dalam bahasa manusia, memiliki paruh, di kepalanya yang berambut pendek terdapat lekukan cekung yang berisi air sedikit. Hidupnya di air, dan biasa keluar di malam hari untuk mencuri semangka, apel, dan hasil ladang lainnya.

Saya senang mengkhayal bahwa Ryunosuke Akutagawa menggunakan dunia kappa untuk menyampaikan apa yang takut ia sampaikan dalam wujudnya sebagai manusia.  Tentu saja karena isu yang hendak disampaikan cukup sensitif serius. Ada tiga isu yang menarik perhatian saya: pembatasan kelahiran, pembantaian pekerja, dan agama kepercayaan.

Terkait pembatasan kelahiran, sebelum lahir ke dunia, calon bayi kappa akan ditanyai mengenai kesediaannya untuk dilahirkan. Iya, calon bayi kappa sudah bisa bicara sejak dalam kandungan. Misal si calon bayi tidak mau dilahirkan dengan alasan tertentu, maka calon bayi akan hilang begitu saja dan perut sang ibu akan kempes lagi. Terkait pembantaian pekerja, banyak kappa pekerja yang di-PHK seiring pesatnya perkembangan teknologi sehingga tenaga mereka tidak lagi dibutuhkan. Untuk menghindari peningkatan angka pengangguran sebagai akibat dari PHK besar-besaran, pengusaha dibolehkan oleh undang-undang untuk membunuh para pekerja. Tidak hanya membunuh, mereka juga dibolehkan memakan daging para pekerja itu. Terakhir, terkait kepercayaan. Di dunia kappa ada agama sebagaimana agama di dunia manusia, tetapi yang paling utama adalah (agama) Modernisme atau Pemujaan Hidup. Sebentar, Modernisme? Ini nyindir dunia manusia, ya? *insecure*

“Aku tidak ingin dilahirkan. Pertama, karena aku tidak ingin mewarisi darahmu. Kegilaanmu sudah cukup mengerikan untuk dipikirkan. Kedua, karena aku yakin, bahwa kehidupan kappa terlalu mengerikan.” –Hal. 16

Semoga banyak yang setuju bahwa fantasi merupakan salah satu cara penulis untuk menyampaikan isi kepala, kegelisahan, atau isu yang menjadi perhatiannya dengan lebih aman. Karena di dunia literasi apalagi di genre fantasi, penulis bebas berimajinasi menciptakan dunia/tokoh/karakter/kondisi apa pun. Sehingga ketika didebat, tinggal bilang, “Itu kan novel fiksi.” seperti isu tentang…ah, sudahlah.

Membaca Kappa adalah membaca ide. Dan ide semestinya memang pendek, sependek Kappa yang berhenti di halaman 83. Dan karena ini ide maka minim konflik. Bisa dianggap juga sebagai esai atau artikel wisata ke dunia lain. Tapi barangkali dengan tulisan sependek itu, Ryunosuke Akutagawa sudah merasa cukup menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.

4 bintang!

***

Wonder: Aneh, Mengejutkan, dan Membuatmu Bertanya-tanya

Judul: Wonder
Penulis: R. J. Palacio
Penerbit: Corgi Childrens
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 0552565970
Jumlah Halaman:
Blurb:

August (Auggie) Pullman was born with a facial deformity that prevented him from going to a mainstream school—until now. He’s about to start 5th grade at Beecher Prep, and if you’ve ever been the new kid then you know how hard that can be. The thing is Auggie’s just an ordinary kid, with an extraordinary face. But can he convince his new classmates that he’s just like them, despite appearances?

R. J. Palacio has written a spare, warm, uplifting story that will have readers laughing one minute and wiping away tears the next. With wonderfully realistic family interactions (flawed, but loving), lively school scenes, and short chapters, Wonder is accessible to readers of all levels.

*

Seberapa besar pun keinginan saya supaya Auggie tumbuh menjadi anak yang pahit karena kekurangan yang ia miliki, pada akhirnya saya bersyukur karena Auggie dibesarkan menjadi anak yang menyenangkan, pintar, dan lucu. Satu hal yang saya sadari dari proses tumbuh kembang Auggie hingga ia menjadi sebagaimana diceritakan dalam novel adalah betapa peran keluarga sangat dominan. Meski Auggie memiliki kekuasaan penuh mengenai bagaimana ia akan menjalani hidupnya (d.h.i mengenyam pendidikan di sekolah umum atau tidak), pihak sekolah, kedua orang tua serta kakak perempuannya tetap berusaha membuat Auggie nyaman dan merasa bahwa ia bisa bersekolah di sekolah umum seperti anak lain seusianya.

“We’ve all spent so much time trying to make August think he’s normal that he actually thinks he is normal. And the problem is, he’s not.” –Hal. 90

Tidak mungkin dihindari, pengalaman pertama masuk sekolah umum dengan kondisi wajah seunik itu, pasti membuat Auggie mengalami berbagai macam perlakuan. Beberapa temannya bersikap sopan, beberapa lainnya bersikap kasar, sisanya cuek dan menganggap Auggie tidak ada. Perlakuan pihak sekolah, ditambah drama pertemanan remaja serta konflik kecil internal keluarga inilah yang menjadi benang merah dalam novel Wonder.

Bicara tentang keluarga, hal yang menarik perhatian saya di novel ini adalah bagaimana pelajaran mengenai kesopanan, moral, etika, bahkan tidak ikut campur dalam urusan orang lain sudah diajarkan ke anak sejak dini oleh orang tua mereka. Di beberapa adegan, diceritakan bahwa orang tua Auggie mengajaknya ke luar rumah entah ke supermarket, taman, dan lain-lain. Tentu saja banyak orang menoleh ke arah Auggie berkali-kali. Beberapa bahkan memandang dengan pandangan tajam, takut, jijik, prihatin, dan sebagainya. Bagi orang ‘sana’ memandang orang dengan pandangan seperti itu merupakan sesuatu yang kurang sopan. Beberapa akan bilang,

“It was bad how we did that. Just getting up (and go) like that, like we’d just seen the devil. The momma knew what was going on.” | “But we didn’t mean it.” | “Sometimes you don’t have to mean to hurt someone.” –hal.137

Menarik. Kalau pelajaran tentang tidak boleh berbicara kasar di depan orang yang lebih tua, saya yakin diajarkan di sebagian besar keluarga. Tetapi bagaimana dengan pelajaran tentang cara-cara bersikap di depan orang lain yang secara fisik berbeda? Saya pikir pelajaran-pelajaran semacam itu baik dibiasakan ke anak-anak. Semoga banyak orang tua yang sadar akan hal ini. Ah, jadi ingat ulasan saya tentang novel Liburan Para Alien yang tema besarnya adalah menerima/tidak kehadiran alien di muka bumi. Dengan penampilan yang aneh serta asalnya yang dari tempat asing, manusia menggangap alien adalah sosok jahat tanpa pernah mencoba untuk berkenalan, berbicara, berteman.

“You really are a wonder, Auggie. You are a wonder.” –Hal. 310

Selain hal-hal di atas, penggunaan sudut pandang yang tidak cuma satu, membuat novel ini menjadi utuh dan menyeluruh. Pembaca diajak menyelami isi kepala banyak tokoh sehingga jangan buru-buru menghakimi satu tokoh tertentu sebelum membaca cerita dari sudut pandangnya. Istilah kerennya cover both side.

Secara keseluruhan, Wonder merupakan bacaan wajib tidak hanya untuk orang tua tetapi juga semua anggota keluarga. Kalau mau dicari-cari, Wonder bisa dimirip-miripkan dengan Sabtu Bersama Bapak dalam hal bacaan keluarga yang menghangatkan hati.

4,5 bintang!

***

Sungu Lembu dalam Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

 raden-mandasia
Judul: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana Publishing
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 448
ISBN: 9789791079525
Blurb:

SUNGU LEMBU menjalani hidup membawa dendam. Raden Mandasia menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya. Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung.

Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa wahyu, bertemu dengan juru masak menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca—cermin-cermin di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.

Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki makian Anda dalam waktu berdekatan—mungkin bersamaan.

*

“Ia kadang tak perlu senjata dalam pengertian sesungguhnya. Musuhnya sangat dekat, ada dalam dirinya, hawa nafsunya sendiri.” –hal. 84

Ini lucu. Ingin membunuh seorang raja tetapi suka dan kagum dengan kondisi negeri yang dipimpin oleh raja tersebut. Iya, awalnya Sungu Lembu benci buta dengan Watugunung. Alasannya, karena Watugunung kebetulan adalah raja sebuah negeri bernama Gilingwesi yang mengakuisisi paksa negeri asal Sungu Lembu, Banjaran Waru. Dari sini saja, saya sudah diperlihatkan bagaimana dengan informasi yang kurang dari separuh, seseorang sudah bisa merasakan benci yang sungguh. Tetapi seiring bertambahnya usia serta pengalaman dan informasi yang sebagian besar ia dapat dari petualangannya bersama Raden Mandasia, Sungu Lembu tumbuh menjadi pembenci yang tabah. Keinginan untuk membalas dendam tetaplah ada namun kini ia lakukan dengan penuh kesadaran, tenang, dan tidak meledak-ledak. Barangkali kedewasaan ada kaitannya dengan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Omong-omong, yang sedang dibahas adalah novel berjudul Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi tetapi kenapa saya membuka tulisan ini dengan membicarakan Sungu Lembu? Pertama, karena bagi saya Sungu Lembu lebih menarik daripada Raden Mandasia. Kedua, karena novel ini diceritakan melalui sudut pandang Sungu Lembu dan 69% novel menggambarkan perjalanan hidup termasuk usahanya untuk membalas dendam. Ketiga, sama dengan nomor satu. Halah.

Jadi, silakan baca Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi kalau kalian suka:

1. Yusi Avianto Pareanom, karena tak kenal maka tak sayang. Tahu kan, that moment ketika kalian suka/tidak dengan seseorang maka semua tindakan orang tersebut menjadi terlihat menyenangkan/menyebalkan. Jadi, yes, suka dengan penulisnya akan membuat kalian lebih mudah menerima karyanya. Tapi menjadikan Raden Mandasia sebagai bahan perkenalan dengan Om Yusi juga boleh. Boleh banget, malah. Karena selalu ada kali pertama untuk semua hal, dan saya yakin perkenalan ini akan menjadi perkenalan yang hangat.

2. Cerita kolosal/silat/epos. Meskipun novel ini diberi label dongeng kontemporer, tapi masih sangat terasa kesan kolosalnya. Mulai dari cerita, latar, hingga penyajiannya. Era perang, seting kerajaan, pemilihan nama tokoh, deskripsi. Bisa dianggap novel petualangan juga, karena Sungu Lembu dan Raden Mandasia melakukan perjalanan ke Gerbang Agung, mirip-mirip perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci. Nah, berhubung bacaan dan tontonan saya sangat terbatas mengenai yang kolosal-kolosal, yang terbayang ketika baca Raden Mandasia adalah Mahabharata (Nyoman S. Pendit) dan Pendekar Tongkat Emas. Tahunya cuma itu.

3. Cerita satir. Entahlah apa Raden Mandasia bisa dikategorikan satir atau nggak, tapi salah satunya begini:

Sungu Lembu (SL): Bukan keturunan raja juga boleh (memimpin Banjaran Waru)?
Banyak Wetan (BW): Mengapa tidak, jika ia orang yang terbaik?
SL: Mana ada rakyat jelata yang sanggup memimpin kerajaan?
BW: Memangnya bodoh pintarnya seseorang ditentukan mutlak oleh garis keturunan? Aku percaya bahwa suatu saat anak petani atau tukang kayu bisa menjadi pemimpin negeri ini kalau ia memang cakap.

Banyak Wetan junjunganku!

4. Cerita vulgar. Nyai Manggis tentulah menjadi bintang dalam hal ini. Pemilik rumah judi plus plus ini bekerja sama dengan Sungu Lembu dalam usaha mereka membunuh Watugunung. Sejarah Sungu Lembu dan Nyai Manggis rada serupa suramnya. Lalu di bagian mana vulgarnya Nyai Manggis? Ya misal kutipan dari halaman 78 ini, sedikit tapi cukup untuk bikin panas dingin.

Nyai Manggis (YM): “Raden.”
SL: “Ya, Nyai?”
YM: Di atas sedikit.”

*benerin kacamata* Jelas ini bacaan dewasa.

5. Merasa wajib membaca karya pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Sebagai penyuka baca, saya sepakat bahwa KSK menentukan nomine dengan pas. Yang menjadi nomine saja keren-keren, maka pemenangnya adalah yang paling keren dari yang paling keren. Selain itu, sebagai ajang penghargaan yang bergengsi di Indonesia, baca karya pemenang KSK bisa jadi bahan untuk masuk ke kelompok-kelompok sastrawan elite kelas kakap.

Secara keseluruhan, terlepas dari penggunaan jatmika dan anjing yang terlalu sering, Raden Mandasia membawa kata-kata unik ke permukaan seperti kerambit, rungsing (rongseng), madah, dan bahar. Dipadu dengan atmosfer kolosal serta cerita kepahlawanan tadi, Raden Mandasia terasa entahlah, tua. Mungkin karena cerita silat/kepahlawanan berjaya di masa ketika orang tua kita masih remaja. Jadi di masa sekarang, kisah semacam itu terkesan jadul vintage.

Dengan alasan yang sama, Raden Mandasia juga menjadi bacaan yang segar. Setelah dijejali dengan novel-novel masa kini dengan tema berat, nyastra abis, atau suram/depresi, Raden Mandasia bagai gerimis di tengah terik siang.

LIMA BINTANG!

***

[Blogtour+Giveaway] Holy Mother by Akiyoshi Rikako

cw59yreuaaa3a7

Judul: Holy Mother
Penulis: Akiyoshi Rikako
Penerbit: Haru
Tahun Terbit: Oktober 2016
Jumlah Halaman: 277
ISBN: 9786027742963
Blurb:

Terjadi pembunuhan mengerikan terhadap seorang anak laki-laki di kota tempat Honami tinggal. Korban bahkan diperkosa setelah dibunuh.

Berita itu membuat Honami mengkhawatirkan keselamatan putri satu-satunya yang dia miliki. Pihak kepolisian bahkan tidak bisa dia percayai.

Apa yang akan dia lakukan untuk melindungi putri tunggalnya itu?

*

Seperti halnya kebanyakan novel detektif, awalnya saya pikir Akiyoshi Rikako mengajak pembaca menebak siapa yang merupakan pembunuh dalam kasus yang sedang diselidiki pihak kepolisian. Nyatanya, pembaca diajak untuk lebih memahami bagaimana para detektif itu bekerja hingga sampai pada kesimpulan mengenai pihak-pihak yang mungkin menjadi tersangka. Tidak cukup hanya logika dan cara berpikir yang tepat, rasanya sama dengan profesi lain, diperlukan juga intuisi yang kuat. Apalagi si pembunuh bekerja dengan sangat rapi, nyaris tidak ada jejak. NYARIS. Karena ingat, tidak ada kejahatan yang sempurna. Pasti ada jejak yang tertinggal. Sekecil apa pun.

Dibanding usaha untuk menebak siapa pembunuhnya, saya lebih menikmati membaca (atau menonton) yang seperti Holy Mother ini. Pembunuh sudah diungkap kepada pembaca sedari awal. Begitu saja. Sisanya, pembaca diajak menyaksikan perlombaan antara detektif dengan pembunuh. Siapa yang lebih dulu: para detektif berhasil membuktikan tokoh A sebagai tersangka, atau si pembunuh berhasil melakukan kejahatan berikutnya? Keberhasilan salah satu pihak, akan membuat pihak lain (termasuk pembaca) merasa kesal. Supaya tidak menjadi pembaca yang kesal, pandai-pandailah menemukan petunjuk yang bertebaran. Haha.

“Apakah tidak ada barang yang lebih mencurigakan? Misalnya barang-barang yang memiliki bekas darah, atau rambut manusia.”
–hal. 180

Pertanyaan saya mengenai pemilihan judul novel terjawab di banyak bagian. Terlepas dari kisah kejahatan yang terjadi di sebuah kota dan usaha untuk mengungkap kasusnya, Holy Mother merupakan kisah manis tentang hubungan ibu dan anak. Usaha Honami untuk bisa memiliki anak diberikan porsi yang sangat besar. Melalui flashback, Honami bercerita mengenai usahanya untuk hamil hingga mencoba bayi tabung. Dua kali keguguran di usia kehamilan sepuluh minggu, pengorbanan fisik, kejiwaan, dan keuangan, membuat saya merasa wajar saja jika Honami berusaha mati-matian, melakukan segalanya untuk melindungi anak yang akhirnya berhasil ia lahirkan.

“Karena anak ini akhirnya datang dalam kehidupannya. Hari itu, Honami bersumpah, ‘Karena itu aku harus melindungi anak gadisku.'”
–hal. 235

Jalinan cerita mengenai usaha detektif, si pembunuh, dan Honami diakhiri dengan sebuah ledakan yang keberadaan ‘bomnya’ tidak kita sadari. Ya gimana ya, cerita mengalir halus dan melenakan, membuat saya lupa mempertimbangkan beberapa hal sebagai petunjuk penting. Ini bikin kesal, in a good way tentunya. Sebagai pencinta fiksimini alias flash fiction yang terbiasa dengan twisted ending, saya merasa gagal. Halah.

Yang namanya twist memang seharusnya out of the box, dan penulis berhasil menyajikan kejutan yang tidak terduga maka saya sangat merekomendasikan Holy Mother untuk para pencinta fiksimini/flash fiction di luar sana. Kalau kalian biasanya membaca fiksimini di Twitter, ini ada novel sepanjang 277+ halaman. Nikmati aliran kisahnya, perhatikan petunjuk-petunjuknya, lalu bersiaplah dengan ledakan di belakangnya.

Mari beri 4 bintang untuk Akiyoshi Rikako, Holy Mother, dan Andry Setiawan (penerjemah). *tepuk tangan*

__

GIVEAWAY!!

cw0u5srveaaj3usga

Penerbit Haru dan saya mempersembahkan satu eksemplar Holy Mother untuk kalian yang beruntung melalui giveaway berikut ini. Simak dulu tata caranya:

1. Follow  @penerbitharu dan @mandewi di Twitter. *ketjup*
2. Bagikan info giveaway ini lewat berbagai media. Bebas. Jangan lupa tagar #HolyMother
3. Pertanyaan: “Ceritakan sifat/karakter/kejadian unik (dengan) ibu kalian yang menurut kalian merupakan bentuk perhatian.”
4. Jawab pertanyaan tersebut di kolom komentar dengan format:
Nama:
Akun media sosial yang aktif: (Twitter/Instagram/Facebook)
Jawaban:
5. Saya tunggu jawaban kalian sampai hari Sabtu, 19 November 2016 pukul 22.30 WIB.

Holy Mother recommended banget buat pencinta  cerita detektif, thriller, dan fiksimini. Jadi, jangan ragu untuk ikut giveaway #HolyMother yang diadakan serentak di lima blog sebagaimana tercantum di banner.

Terakhir, mari mengingat ibu. ❤

***

Aliens on Vacation: Ketika Para Alien Piknik ke Planet Bumi

img_8255

Judul: Liburan Para Alien (Aliens on Vacation – Intergalactic Bed and Breakfast #1)
Penulis: Clete Barrett Smith
Penerbit: Atria
Tahun Terbit: Juni 2012
Jumlah Halaman: 314
ISBN: 9789790245013
Blurb:
Pertama kali melihat kediaman neneknya yang berupa penginapan bertema Star Wars, Scrub berpikir kalau liburan musim panasnya kali ini adalah yang terburuk. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa turis-turis aneh yang harus dilayaninya di penginapan Grandma adalah alien. Terlebih lagi, mereka mulai bertingkah laku aneh di kota sehingga membuat Sherif Tate curiga.

Namun, ketika Scrub mulai menyukai pekerjaannya dan semua prasangka buruknya tidak terbukti, dia dan neneknya malah terancam harus menutup Penginapan Intergalaksi dan diusir dari Forest Grove. Padahal, Scrub baru saja berteman dengan Amy, anak perempuan yang menyukai segala hal tentang alien.

Masalahnya, setiap tindakan para alien itu selalu saja salah! Lalu, apa yang dilakukan Scrub untuk menyelamatkan penginapan neneknya?

*

Alasan utama saya baca buku anak/remaja adalah untuk diwariskan ke anak nantinya. Betapa visionernya, ya. Ck. Meskipun banyak yang bilang kalau anak sebaiknya dibebaskan memilih bacaan yang ia sukai tetapi namanya orang(tua) yang punya pengalaman (membaca) lebih banyak pasti akan gatal pengin memberi rekomendasi bacaan ke orang lain.

Salah satu kiblat saya terkait bacaan anak/remaja adalah penerbit Atria yang memang fokus menerjemahkan/menerbitkan bacaan untuk anak/remaja. Dengan spesialisasi tersebut, terbitan Atria menjadi sumber referensi yang bagus dan terpercaya. Siapa yang tidak tahu serial Diari Si Bocah Tengil karya Jeff Kinney yang terkenal itu? Barangkali tidak semua pembaca ngeh bahwa serial tersebut diterbitkan oleh Atria. Selain serial fenomenal itu, Atria juga menerbitkan versi bahasa Indonesia dari Wonder (R.J. Palacio), The Giving Tree (Shel Silverstein), The Vampire Diaries (L.J. Smith), Alice in Wonderland (Lewis Carroll), Gadis Korek Api (H.C. Andersen), dan masih banyak lagi. Terbitan Atria yang baru saja selesai saya baca adalah Liburan Para Alien alias Aliens on Vacation yang merupakan seri pertama dari trilogi Intergalactic Bed and Breakfast karya Clete Barrett Smith.

Sesuai judulnya (juga blurb), sudah dapat dibayangkan tema cerita novel ini. Yup, tentang para alien yang sedang liburan. Liburan di mana? Nah, ini yang menarik. Para alien ini liburan di bumi! Jadi ceritanya, bumi merupakan salah satu planet di semesta raya ini yang jadi tujuan wisata bagi para alien. Wisata, seperti misal orang Amerika liburan ke Bali gitu. Meski terkesan biasa bagi para alien, kedatangan mereka tetaplah menjadi sesuatu yang aneh dan dianggap berbahaya oleh penduduk bumi. Para alien tersebut tetap harus sembunyi-sembunyi dan harus pandai-pandai berbaur dengan sekitar. Mereka harus menyamar, mengenakan pakaian serta rias wajah sedemikian rupa sehingga penampilan mereka mirip dengan penduduk lokal.

Adapun pintu masuk ke bumi bagi para alien adalah sebuah penginapan yang memang terdaftar untuk itu. Penginapan ini milik nenek dari Scrub, dan ke tempat inilah Scrub ‘dikirim’ oleh orangtuanya untuk menghabiskan liburan musim panas. Scrub yang baru pertama kali main ke rumah neneknya sangat terkejut mendapati betapa uniknya penginapan tersebut. Dekorasinya bertema Star Wars. Mudah ditebak ya, kalau dekorasi itu hanya untuk menyamarkan tamu-tamu penginapan.

Keseruan novel ini ada di usaha sang nenek-yang kini dibantu oleh Scrub-untuk menjaga para tamunya dari kecurigaan berbagai pihak, terutama Sherif Tate yang sudah lama merasakan adanya keanehan di penginapan tersebut tetapi tak kunjung berhasil membuktikan kecurigaannya.

Hingga suatu hari, ada sekelompok alien yang membuat masalah. Oh, no!

“FOREST GROVE HANYALAH UNTUK MANUSIA DAN POHON-POHON SAJA, DAN ALIEN ILEGAL TIDAK AKAN DISAMBUT DENGAN BAIK.”
–Hal. 245

Saya pernah bilang bahwa yang namanya bacaan anak haruslah bacaan yang mudah dimengerti, memberi ruang yang cukup untuk berimajinasi, dan tentu saja bernilai. Liburan Para Alien memenuhi semuanya. Bahasa yang digunakan sederhana, mudah dimengerti, dan berhasil menghadirkan suasana petualangan yang seru. Imajinasi diciptakan dari deskripsi yang pas terutama tentang berbagai rupa para alien dan bagaimana mereka menyamarkan keunikan rupa tersebut. Terkait nilai, novel ini mengedepankan tema perbedaan. Bagaimana spesies berbeda seharusnya dapat diterima dengan baik sepanjang tidak berniat untuk merusak apa yang ada di bumi. Seandainya benar-benar ada alien yang piknik ke bumi dalam wujud aslinya, tanpa penyamaran baik dengan pakaian atau dengan rias wajah, apakah kita akan menerima mereka dengan tangan terbuka?

Kalau dianalogikan dengan kehidupan sehari-hari, novel ini membuat kita memikirkan kembali bagaimana kita memandang perbedaan di sekitar. Perbedaan tersebut bisa tentang banyak aspek misalnya perbedaan kondisi fisik, suku, sudut pandang, gaya hidup, dan masih banyak lagi. Apakah kita memandang orang-orang yang memilih traveling ke luar negeri dan orang-orang yang traveling di dalam negeri dengan cara yang berbeda? Apakah di mata kita orang yang lulus kuliah dengan sederet gelar memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang yang hanya lulus SMA?

“Kita semua berhak menikmati liburan yang tenang dan damai, bukan? Dan kita semua berhak diperlakukan dengan baik, tak peduli betapa berbeda penampilan kita.”

–Hal. 31

Secara keseluruhan, Liburan Para Alien merupakan bacaan anak/remaja yang asyik dengan konflik yang seru dan akhir yang keren. Rasanya pantas kalau diganjar dengan 4,5 bintang. Sayangnya, Atria tidak menerjemahkan/menerbitkan seri ke-2 dan ke-3. Sayang banget. Mungkin saya akan cari seri selanjutnya dalam versi asli berbentuk e-book, karena meski target utamanya adalah anak/remaja tetapi novel ini bisa jadi hiburan yang menyenangkan bagi pembaca dewasa.

***

Manuskrip yang Ditemukan di Accra

21402160

Judul: Manuskrip yang Ditemukan di Accra
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Maret 2014
ISBN: 9786020302799
Jumlah Halaman: 208
Blurb:

Apakah kesuksesan itu? Kesuksesan adalah bisa pergi tidur setiap malam dengan jiwa yang damai.

1099. Gerbang-gerbang Yerusalem tengah dikepung. Di dalam tembok kota, orang-orang berkumpul untuk mendengarkan kata-kata bijak seorang lelaki misterius yang dikenal sebagai sang Guru. Mereka bertanya tentang rasa takut, musuh, kekalahan, dan perjuangan; mereka merenungkan tekad untuk berubah, kebajikan dalam kesetiaan serta kesendirian; dan mereka mengajukan pertanyaan tentang keindahan, seks dan keluwesan, cinta, kebijaksanaan, dan masa depan. Dan berabad-abad kemudian, jawaban-jawaban orang bijak itu masih tetap berlaku sebagai rekam jejak nilai-nilai manusia yang tak lekang dimakan waktu.

Di tangan Paulo Coelho, Manuskrip yang Ditemukan Di Accra menunjukkan siapa diri kita; ketakutan dan harapan kita untuk masa depan berasal dari pengetahuan serta keyakinan yang ada dalam diri kita, bukan dari kesulitan yang mengepung kita.

*

“Kesetiaan berakar dari rasa hormat, dan rasa hormat adalah buahnya cinta.” –Hal. 173

Alasan pertama dan utama kenapa saya akhirnya mengambil Manuskrip yang Ditemukan di Accra (selanjutnya disebut Manuskrip) dari rak toko buku dan membawanya ke kasir adalah (nama) Paulo Coelho. Meskipun banyak orang barangkali belum pernah baca novelnya, tapi saya yakin mereka pernah dengar namanya. Dan setelah saya baca beberapa karya Paulo Coelho, saya sangat menyarankan orang-orang di masa hidupnya di dunia fana ini untuk membaca paling tidak satu novel Paulo Coelho. Saya pribadi, pertama kali mengenal Paulo Coelho melalui Sebelas Menit (Eleven Minutes) berkisah tentang seorang pelacur yang menemukan arti kenikmatan dalam rasa sakit. Halah.

Setelah Sebelas Menit, saya baca karya Paulo Coelho yang lain seperti Sang Alkemis, Veronika Memutuskan Mati, Brida, dan Sang Penyihir dari Portobello.

Kesukaan terhadap novel-novel Paulo Coelho itulah yang mengantarkan saya ke buku Manuskrip ini. Saya sebut ‘buku’ karena Manuskrip tidak masuk kategori novel menurut selera saya. Manuskrip tidak memiliki pembukaan, konflik, penyelesaian, dan akhir. Sesuai judulnya, Manuskrip merupakan sebuah teks yang ditulis berabad-abad lalu, ditemukan, dan dijadikan warisan sejarah. Oleh Paulo Coelho, teks tersebut disajikan kembali dalam bentuk buku. Yup, Manuskrip bukanlah tulisan asli Paulo Coelho.

Meski bukan novel, Manuskrip merupakan tulisan panjang dengan rentang waktu (penceritaan) yang sangat pendek. Hanya semalam, yaitu malam sebelum gerbang-gerbang Yerusalem dikepung. Orang-orang kota memutuskan untuk melawan, namun karena pada dasarnya mereka bukan tentara maka mereka memerlukan semacam motivasi sebelum memulai ‘perang’ keesokan harinya. Selain itu, karena merasa akan gugur dalam pertarungan tersebut, mereka perlu menegaskan kembali pemahaman mereka tentang arti hidup.

Sudah merasa diceramahi? 🙂

Disajikan dalam bentuk tanya jawab, Manuskrip menghadapkan masyarakat pada seseorang  yang dikenal dengan sebutan Guru. Rakyat bertanya tentang segala kegelisahan yang selama ini mereka rasakan kemudian Sang Guru, yang dalam hal ini bertindak ibarat motivator, menjawab pertanyaan tersebut dengan kalimat-kalimat motivasi–kalau nggak bisa dibilang ayat suci. Pertanyaan mereka pun bervariasi mulai dari perihal keindahan, kesendirian, cinta, seks, kematian, hingga masa depan. Saking menyeluruhnya tema pertanyaan yang diajukan, rasanya Manuskrip bisa dijadikan panduan hidup (di segala aspek). Ini kalau di Hindu bisa diibaratkan dengan Slokantara, nih. Semacam kitab etika. *segmented*

“Bila tak pernah sendirian, mana mungkin kau mengenal dirimu sendiri. Dan bila tak mengenal dirimu sendiri, kau pun mulai takut akan kekosongan.”
–Hal. 40

Dengan harapan yang tinggi akan karya-karya Paulo Coelho terdahulu, saya agak kecewa dengan Manuskrip. Mungkin lebih ke masanya yang kurang pas. Buku motivasi yang secara gamblang mencekoki kita dengan kalimat-kalimat indah seharusnya saya baca bertahun-tahun lalu, bersamaan dengan ketika saya menggemari serial Chicken Soup. Kalau sekarang, saya lebih menikmati panduan hidup yang disampaikan secara implisit melalui tokoh-tokoh dalam novel. Terlepas dari selera saya yang saat ini sedang tidak menikmati buku motivasi, Manuskrip tetaplah bacaan yang berguna. Banyak ilmu serta pencerahan-pencerahan, yang sebenarnya tak lekang oleh waktu, yang saya yakin penting untuk diketahui banyak orang.

Seandainya teks dalam Mansukrip ini terang-terangan disebut sebagai kitab suci maka lima bintang dari saya, tetapi karena bukan maka tiga bintang rasanya cukup. Nah, sejalan dengan itu, seandainya saya bisa bertemu Paulo Coelho, hal pertama yang akan saya tanyakan adalah, “Nggak berniat bikin agama baru, Om?”

***

Sesi Motivasi/Konsultasi Bersama @alexandrarheaw

268

Judul: Twivortiare 2
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit: Desember 2014
Jumlah halaman: 488
ISBN: 9786020311364
Blurb:

“You know you’re in love with the right person when falling in love with him turns you into the best version of yourself.”

Setiap pasangan punya cerita masing-masing, kadang manis, kadang juga pahit. Enam tahun setelah Divortiare dan dua tahun setelah Twivortiare, Alexandra dan Beno kembali hadir melalui akun Twitter @alexandrarheaw. Melalui buku ini, kita kembali diajak “mengintip” kehidupan mereka sehari-hari, pemikiran Alexandra yang witty dan selalu apa adanya, bahkan merasakan langsung interaksi antar karakter-karakter yang diceritakannya. Membaca Twivortiare 2 seperti mendengarkan sahabat sendiri bercerita tentang manis dan pahitnya hidup, tentang pilihan, kesalahan masa lalu, dan tentang makna sesungguhnya dari kesempatan kedua.

*

Pengin tahu rasanya follow cuma satu akun di Twitter? Coba baca Twivortiare dan Twivortiare 2 karya Ika Natassa, karena novel-novel tersebut disajikan dalam bentuk kumpulan twit dari akun si tokoh utama, Alex (@alexandrarheaw). Ketika baca Twivortiare dulu, nggak nyangka akan ada lanjutannya. Jadi begitu Twivortiare 2 terbit, penasaran ingin baca.

Untuk Twivortiare 2, rentang waktu ceritanya hampir dua tahun. Tahun pertama, cerita lebih ditekankan pada usaha Alex dan Beno yang ingin segera punya anak tetapi tak kunjung berhasil. Kekecewaan Alex setiap kali mendapatkan siklus bulanannya diperparah dengan tuntutan kerabat yang kerap kali bertanya “Sudah ‘isi’ belum?”

Lalu twit mengenai tuntutan kerabatnya tersebut diikuti serangkaian twit motivasi mengenai kesabaran dan kepasrahan.

“When you reach a certain age, your maternal/paternal instinct just arise. You just started to love playing with babies, holding them.” –hal. 79

Agak repetitif juga ketika beberapa kali Alex mengungkapkan kekecewaannya setiap kali datang bulan. Untungnya, twit Alex diselingi dengan cerita (kalau nggak bisa dibilang racauan) tentang kehidupan sehari-hari, khususnya menyangkut pekerjaan dan rumah tangga. Mengenai pekerjaan, Alex termasuk yang sering mengeluhkan situasi rapat yang bertele-tele, dan sebagainya. Kalau mengingat betapa media sosial (katanya) dijadikan alat bagi bagian HRD suatu perusahaan untuk memantau (calon) pekerjanya, agak geleng-geleng juga melihat betapa Alex seterbuka itu mengeluhkan kondisinya di kantor. Meskipun sering juga Alex menceritakan sisi positif kantornya, tapi tentu kecenderungan manusia adalah lebih mudah mengingat hal buruk dibandingkan hal baik. Setiap baca twit Alex yang mengeluhkan kantor, saya jadi ingat twit keluhan di akun sendiri dan mendadak, “Oh, begini toh rasanya jadi followers yang baca keluhan saya. Haha..” Semacam bercermin gitu, deh.

Kemudian, mengenai rumah tangga. Nah ini yang saya suka. Karena banyak sekali cerita tentang kelakukan Beno di Twivortiare 2. Mulai dari yang remeh macam hobinya makan Bengbeng, sampai beratnya pekerjaan sebagai dokter bedah yang lumayan sering dapat panggilan mendadak. Saking banyaknya cerita tentang Beno, saya sampai merasa bahwa Ika Natassa a.k.a Alex benar-benar mengeksploitasi Beno. Ha! Demi apa? Demi pembaca/fans/groupies yang senantiasa halu sama dokter bedah nan ganteng banget ituuu! Ya, siapa yang nggak gemes sama Beno yang dari luar terlihat dingin dan kaku tetapi ternyata mesum juga? Eh.

“Sometimes a woman needs to play dress up to feel beautiful, Ben. | Sama aku, kamu nggak usah pake apa-apa juga cantik. Makanya di rumah aja.” –hal. 360

Ya ya ya.. Penonton bahagiaa~~

Semakin bahagia ketika akhirnya drama Alex yang berkali-kali gagal hamil, akhirnya berhenti. Karena apa? Ya, karena akhirnya hamil. Yeay! Eh, semoga ini bukan termasuk spoiler, ya karena hamil adalah hal yang wajar dalam rumah tangga dan kecil kemungkinan juga novel metropop hanya berisi kemurungan mengenai tokohnya yang nggak hamil-hamil. Novel metropop rasanya kurang pas kalau sesuram itu.

Well, di  masa kehamilan Alex ini, pembaca dipaparkan dengan suka duka perempuan yang baru pertama kalinya hamil, lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran-kekhawatiran. Ada banyak kekhawatiran yang diungkap Alex melalui twitnya dan dijawab oleh followers-nya dan interaksi antara Alex dan followers-nya ini semakin membuat @alexandrarheaw terasa seperti akun asli, bukannya rekaan. Interaksi Alex dan followers-nya bisa dibilang aktif karena Alex juga kerap membuka sesi tanya-jawab mengenai hubungan percintaan, dan tentunya dijawab berdasarkan pengalaman/pemikiran Alex sendiri. Cocoklah buat pembaca yang galau mengenai status/kejelasan/kelanjutan hubungannya dengan pasangan. Selebtwit/Mario Teguh gitu.

“Ini nasihat buat para perempuan di timeline gue: do not be an option to someone, you should be his only choice. Titik.” –hal. 88

“Don’t try to change your spouse. Not gonna work. And even if he does, you might regret it later because that’s not the person you fell in love with.” –hal. 226

Lalu banyak perempuan pun baper~~

Twivortiare 2 beralur maju dan berfokus pada dua kondisi itu tadi, sebelum dan selama Alex hamil. Nggak banyak kejutan di novel ini, semuanya berjalan normal dan kisah mereka diakhiri dengan kalem. Tapi setidaknya dari novel ini, saya bisa dapat banyak kutipan bagus buat nambah-nambah isi Instagram. Heu. Penasaran, Alex bisa ngetwit banyak banget kalimat motivasi bagus gitu, dapat dari mana ya? Gimana caranya ‘memetik’ sesuatu dari sekitar untuk di-convert jadi kalimat bagus–karena saya yakin nggak semuanya berdasarkan pengalaman pribadi? Hmm. Pertanyaan bagus untuk sang penulis, nih.

Tapi, satu poin penting dari Twitter yang nggak diikutkan Ika Natassa di bukunya adalah waktu (jam) twit. Buat saya ini penting, karena beda jam beda juga bahasannya. Twitter gitu, loh. Cepat sekali topik berganti. Kadang baca serangkaian twit Alex dalam sehari jadi berasa nggak nyambung, yang pasti karena rentang waktu antartwit lumayan panjang. Tapi lagi, maklum saja lah. Ada Beno ini. Yha!

Lima bintang untuk Beno, tiga untuk twit motivasi Alex, tiga untuk ceritanya, dua untuk penyajiannya. Rata-rata: 3,25 menurut kalkulator saya.

***

 

*) Review ini dibuat untuk reading challenge @MondayFF bulan Agustus 2016 dengan tema: buku yang sudah lama kamu punya tapi selalu tertunda dibaca. Twivortiare 2 sudah berkali-kali masuk keluar daftar bacaan bulanan, tetapi selalu ‘kalah’ oleh buku lain. Akhirnya bulan ini memutuskan untuk baca, karena masih ada dua novel Ika Natassa yang antre untuk dibaca–sebagai persiapan sebelum nonton filmnya. Harus berurut bacanya, biar sip. x)

Gila Atau Tidak Gila Hanyalah Perkara Sudut Pandang

028

Judul: Lho
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 1982
Jumlah halaman: 163
ISBN: –
Blurb: –

*

Lagi-lagi saya harus bilang bahwa saya suka novel yang tokoh utamanya, secara psikologis, agak berbeda dengan terminologi ‘normal’ di masyarakat. Ini poin pertama dan utama yang bikin saya menikmati membaca Lho.

“Itu, maksudku keinginan-keinginan jahat yang melintas dengan cepat yang tidak mungkin sama sekali dilaksanakan–bahkan yang sama sekali tidak pernah aku laksanakan–tetapi yang memberi kenikmatan.” –hal. 29

Poin kedua adalah deskripsi yang baik mengenai ketidaknormalan tokoh aku tersebut. Saya dibuat mengangguk setuju dengan setiap gerak geriknya. Perjalanan logika tokoh aku dari awal sampai akhir cerita juga tidak bisa (atau tidak perlu) dibantah karena setiap alasan yang ia kemukakan sebelum melakukan suatu tindakan terasa masuk akal. Inilah enaknya membaca cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama, kecil kemungkinan kita menyalahkan diri sendiri.

Ketiga, bromance di novel ini kental sekali. Tidak ada perempuan yang menjadi sentral cerita dan terlibat secara berlebihan dengan tokoh aku. Hanya ada dua tokoh perempuan di novel ini yang patut diperhitungkan yaitu yang mempekerjakan aku sebagai kernet truk, dan perempuan sebagai kekasih-singkat aku yang kemunculannya saya anggap hanya untuk melengkapi siklus hidup aku sebagai laki-laki khususnya dan sebagai manusia umumnya. Sebaliknya yang menonjol adalah hubungan pertemanan dan pekerjaan antarlelaki. Aku dan Zen (teman yang tulus membantu aku untuk sembuh dari gejala kegilaan, dan somehow hubungan mereka terasa menghangatkan hati), aku dan Bing (yang tidak pamrih), aku dan lelaki yang mempekerjakannya (sangat profesional). Tidak basa basi. Tidak drama. Semuanya berjalan jujur sebagaimana adanya.

Keempat, bab-bab disajikan pendek sehingga mampu mengurangi kemungkinan timbulnya perasaan bosan. Tapi pada dasarnya, jalinan kalimat Putu Wijaya memang tidak datar, sih.

Kelima, Lho adalah karya Putu Wijaya pertama yang saya baca dan saya mendapat kesan (pertama) yang baik. Semoga karya beliau berikutnya konsisten sesuai dengan selera saya. Haha. Agak merasa terlambat membaca karya Putu Wijaya karena rata-rata karya beliau diterbitkan oleh Balai Pustaka sebelum tahun 2000 dan ketika itu saya belum aktif membaca. Tapi toh lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Terakhir, penting untuk memeriksa kembali bagaimana cara kita memandang diri sendiri. Karena cara pandang tersebut rupanya sangat memengaruhi proses pengambilan keputusan di kehidupan sehari-hari. Bila merasa bahwa diri kita adalah orang jahat maka kita akan cenderung melihat orang lain dengan curiga, begitu juga sebaliknya. Di novel Lho, tokoh aku mengingatkan pembaca bahwa sekalipun orang lain menganggap kita gila, jangan sampai kita merasa sebagai orang gila. Gila atau tidak gila, itu kan hanya masalah sudut pandang.

“Aku ingin kembali menemukan basa-basi. Di  mana setiap orang berusaha untuk memoles dirinya sedikit dalam sikap maupun perbuatan, supaya manis. Dengan begitu hidup memang palsu akan tetapi tidak menjemukan.” –hal.

 

***