Mutiara: Hidup Yang Terkadang Ya Begini Ini

Judul: Mutiara (The Pearl)
Penulis: John Steinbeck
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tahun terbit: Februari 2016
Jumlah halaman: 148
ISBN: 9786022900627
Blurb:
Kino seorang nelayan miskin di Meksiko, gundah karena anaknya yang masih bayi jatuh sakit, sedangkan dia tak punya uang untuk membayar dokter yang mata duitan. Dalam kesedihannya, ia menemukan sebuah mutiara raksasa. Dia gembira karena berharap dapat menjual mutiara itu dengan harga tinggi. Namun, ternyata mutiara ini menjadi penyebab serangkaian kejadian tak terduga dalam hidupnya.

Inilah sebuah kisah menyentuh dan asyik dibaca. Tak hanya menghibur kita dengan kelincahan bercerita, dalam novel ini, Steinbeck pengarang pemenang hadiah Nobel Sastra dan hadiah Pulitzer menyadarkan kita akan makna kehidupan yang hakiki: harta bukanlah segalanya dan kebahagiaan tidak bisa dibeli.

*
Kalau mau jujur, saya lebih menyukai akhir cerita yang menyedihkan (tentu saja tanpa terkesan dipaksakan). Rasanya lebih memorable. Dan lebih besar kemungkinan mengalami book-hangover ketika tokoh utama tidak mendapatkan apa yang ia inginkan daripada sebaliknya. Seolah ingin mengheningkan cipta sejenak sebelum mulai membaca cerita baru. Rasa empati juga menjadi lebih kuat. Selain itu, bukankah kita belajar lebih banyak (kebijaksanaan) dari rasa sakit, kehilangan, dosa, pengorbanan, dsb? Topik-topik semacam itu menjadi telapak tangan yang akan menampar dan mengembalikan kesadaran kita dari, misalnya, angan-angan yang terlalu tinggi (tanpa disertai usaha untuk mewujudkannya).

Itulah sebab saya merasa senang ketika menutup halaman terakhir Mutiara karya John Steinbeck. Senang dan sedih, sih. Pada saat bersamaan. Bisa, ya? Senang, karena novel ini berakhir sebagaimana yang saya sangka/harapkan/suka. Sedih, karena jalan ceritanya benar-benar membuat saya gemas. Bagaimana mungkin seseorang dengan keyakinan yang begitu kuat (dan benar, karena diceritakan dari sudut pandang orang ketiga sehingga pembaca tahu mana yg benar mana yg salah) malah mengalami hal-hal buruk? Seorang nelayan yang sehari-harinya berkutat dengan mutiara tentu tahu bagaimana kualitas suatu mutiara dan berapa harga yang pantas untuk benda tersebut. Sehingga ketika Kino menemukan mutiara yang begitu besar dan berkualitas baik, ia yakin harga jual mutiara tersebut akan tinggi. Namun kenyataannya, beberapa tengkulak memberi harga rendah. Kino menolak menjual di bawah harga yang ia yakini, dan keputusan tersebut membawa Kino dan kekuarga kecilnya pada kejadian-kejadian yang tak menyenangkan.

“Keinginan haruslah sedang-sedang saja, kau harus bersiasat dengan Tuhan atau dewa-dewa.”

–Hal. 33

Mutiara menyajikan kenyataan-kenyataan pahit. Manusia-manusia yang menjadi baik hanya ketika melihat ada manfaat yang bisa didapat. Manusia-manusia serakah yang mengusahakan segala cara untuk memperkaya diri sendiri. Manusia-manusia jahat yang selalu menemukan cara untuk mewujudkan niatnya. Manusia-manusia berkeyakinan kuat hingga kadang membuatnya tidak berpikir realistis, berharap terlalu tinggi hingga lupa memperbaiki kondisi saat ini yang sudah rusak parah. Saya merasa diingatkan untuk senantiasa menyadari keberadaan orang-orang semacam itu tanpa mengurangi keyakinan akan suatu hal baik sebagaimana Kino meyakini harga mutiara yang ia miliki.

Sebagai tokoh utama, Kino dihadapkan pada kenyataan pahit atas apa yang ia yakini baik. Sebagai pembaca, saya dihadapkan pada kenyataan hidup yang terkadang ya begini ini.

4 bintang.

***

Advertisements

KAPPA: Bicara Pinjam Lidah

Judul: Kappa
Penulis: Ryunosuke Akutagawa
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 9786024240950
Blurb:

Kappa menggambarkan karikatur kehidupan masyarakat modern Jepang yang maju setelah mengalami zaman teknologi modern, tetapi mengalami kemerosotan derajat rohani. Makhluk kappa dan masyarakatnya merupakan buah imajinasi Ryunosuke Akutagawa.

Akutagawa dipandang sebagai salah satu sastrawan terkemuka Jepang. Banyak yang menganggapnya setara dengan Gustave Flaubert. Selain Kappa, buah penanya yang terkenal antara lain: Rashomon dan Dalam Hutan.

Akutagawa meninggal pada tanggal 24 Juli 1927 dalam usia 35 tahun karena bunuh diri. Tak diketahui pasti penyebabnya, walaupun ia sendiri pernah berkata, seandainya ia bunuh diri, itu karena kabut ketakutan

*

Di Jepang, kappa adalah sebuah mitologi. Tampilan fisiknya  serupa anak sepuluh tahun, berdiri tegak dan dapat berbicara dalam bahasa manusia, memiliki paruh, di kepalanya yang berambut pendek terdapat lekukan cekung yang berisi air sedikit. Hidupnya di air, dan biasa keluar di malam hari untuk mencuri semangka, apel, dan hasil ladang lainnya.

Saya senang mengkhayal bahwa Ryunosuke Akutagawa menggunakan dunia kappa untuk menyampaikan apa yang takut ia sampaikan dalam wujudnya sebagai manusia.  Tentu saja karena isu yang hendak disampaikan cukup sensitif serius. Ada tiga isu yang menarik perhatian saya: pembatasan kelahiran, pembantaian pekerja, dan agama kepercayaan.

Terkait pembatasan kelahiran, sebelum lahir ke dunia, calon bayi kappa akan ditanyai mengenai kesediaannya untuk dilahirkan. Iya, calon bayi kappa sudah bisa bicara sejak dalam kandungan. Misal si calon bayi tidak mau dilahirkan dengan alasan tertentu, maka calon bayi akan hilang begitu saja dan perut sang ibu akan kempes lagi. Terkait pembantaian pekerja, banyak kappa pekerja yang di-PHK seiring pesatnya perkembangan teknologi sehingga tenaga mereka tidak lagi dibutuhkan. Untuk menghindari peningkatan angka pengangguran sebagai akibat dari PHK besar-besaran, pengusaha dibolehkan oleh undang-undang untuk membunuh para pekerja. Tidak hanya membunuh, mereka juga dibolehkan memakan daging para pekerja itu. Terakhir, terkait kepercayaan. Di dunia kappa ada agama sebagaimana agama di dunia manusia, tetapi yang paling utama adalah (agama) Modernisme atau Pemujaan Hidup. Sebentar, Modernisme? Ini nyindir dunia manusia, ya? *insecure*

“Aku tidak ingin dilahirkan. Pertama, karena aku tidak ingin mewarisi darahmu. Kegilaanmu sudah cukup mengerikan untuk dipikirkan. Kedua, karena aku yakin, bahwa kehidupan kappa terlalu mengerikan.” –Hal. 16

Semoga banyak yang setuju bahwa fantasi merupakan salah satu cara penulis untuk menyampaikan isi kepala, kegelisahan, atau isu yang menjadi perhatiannya dengan lebih aman. Karena di dunia literasi apalagi di genre fantasi, penulis bebas berimajinasi menciptakan dunia/tokoh/karakter/kondisi apa pun. Sehingga ketika didebat, tinggal bilang, “Itu kan novel fiksi.” seperti isu tentang…ah, sudahlah.

Membaca Kappa adalah membaca ide. Dan ide semestinya memang pendek, sependek Kappa yang berhenti di halaman 83. Dan karena ini ide maka minim konflik. Bisa dianggap juga sebagai esai atau artikel wisata ke dunia lain. Tapi barangkali dengan tulisan sependek itu, Ryunosuke Akutagawa sudah merasa cukup menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.

4 bintang!

***

Sungu Lembu dalam Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

 raden-mandasia
Judul: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana Publishing
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 448
ISBN: 9789791079525
Blurb:

SUNGU LEMBU menjalani hidup membawa dendam. Raden Mandasia menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya. Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung.

Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa wahyu, bertemu dengan juru masak menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca—cermin-cermin di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.

Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki makian Anda dalam waktu berdekatan—mungkin bersamaan.

*

“Ia kadang tak perlu senjata dalam pengertian sesungguhnya. Musuhnya sangat dekat, ada dalam dirinya, hawa nafsunya sendiri.” –hal. 84

Ini lucu. Ingin membunuh seorang raja tetapi suka dan kagum dengan kondisi negeri yang dipimpin oleh raja tersebut. Iya, awalnya Sungu Lembu benci buta dengan Watugunung. Alasannya, karena Watugunung kebetulan adalah raja sebuah negeri bernama Gilingwesi yang mengakuisisi paksa negeri asal Sungu Lembu, Banjaran Waru. Dari sini saja, saya sudah diperlihatkan bagaimana dengan informasi yang kurang dari separuh, seseorang sudah bisa merasakan benci yang sungguh. Tetapi seiring bertambahnya usia serta pengalaman dan informasi yang sebagian besar ia dapat dari petualangannya bersama Raden Mandasia, Sungu Lembu tumbuh menjadi pembenci yang tabah. Keinginan untuk membalas dendam tetaplah ada namun kini ia lakukan dengan penuh kesadaran, tenang, dan tidak meledak-ledak. Barangkali kedewasaan ada kaitannya dengan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Omong-omong, yang sedang dibahas adalah novel berjudul Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi tetapi kenapa saya membuka tulisan ini dengan membicarakan Sungu Lembu? Pertama, karena bagi saya Sungu Lembu lebih menarik daripada Raden Mandasia. Kedua, karena novel ini diceritakan melalui sudut pandang Sungu Lembu dan 69% novel menggambarkan perjalanan hidup termasuk usahanya untuk membalas dendam. Ketiga, sama dengan nomor satu. Halah.

Jadi, silakan baca Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi kalau kalian suka:

1. Yusi Avianto Pareanom, karena tak kenal maka tak sayang. Tahu kan, that moment ketika kalian suka/tidak dengan seseorang maka semua tindakan orang tersebut menjadi terlihat menyenangkan/menyebalkan. Jadi, yes, suka dengan penulisnya akan membuat kalian lebih mudah menerima karyanya. Tapi menjadikan Raden Mandasia sebagai bahan perkenalan dengan Om Yusi juga boleh. Boleh banget, malah. Karena selalu ada kali pertama untuk semua hal, dan saya yakin perkenalan ini akan menjadi perkenalan yang hangat.

2. Cerita kolosal/silat/epos. Meskipun novel ini diberi label dongeng kontemporer, tapi masih sangat terasa kesan kolosalnya. Mulai dari cerita, latar, hingga penyajiannya. Era perang, seting kerajaan, pemilihan nama tokoh, deskripsi. Bisa dianggap novel petualangan juga, karena Sungu Lembu dan Raden Mandasia melakukan perjalanan ke Gerbang Agung, mirip-mirip perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci. Nah, berhubung bacaan dan tontonan saya sangat terbatas mengenai yang kolosal-kolosal, yang terbayang ketika baca Raden Mandasia adalah Mahabharata (Nyoman S. Pendit) dan Pendekar Tongkat Emas. Tahunya cuma itu.

3. Cerita satir. Entahlah apa Raden Mandasia bisa dikategorikan satir atau nggak, tapi salah satunya begini:

Sungu Lembu (SL): Bukan keturunan raja juga boleh (memimpin Banjaran Waru)?
Banyak Wetan (BW): Mengapa tidak, jika ia orang yang terbaik?
SL: Mana ada rakyat jelata yang sanggup memimpin kerajaan?
BW: Memangnya bodoh pintarnya seseorang ditentukan mutlak oleh garis keturunan? Aku percaya bahwa suatu saat anak petani atau tukang kayu bisa menjadi pemimpin negeri ini kalau ia memang cakap.

Banyak Wetan junjunganku!

4. Cerita vulgar. Nyai Manggis tentulah menjadi bintang dalam hal ini. Pemilik rumah judi plus plus ini bekerja sama dengan Sungu Lembu dalam usaha mereka membunuh Watugunung. Sejarah Sungu Lembu dan Nyai Manggis rada serupa suramnya. Lalu di bagian mana vulgarnya Nyai Manggis? Ya misal kutipan dari halaman 78 ini, sedikit tapi cukup untuk bikin panas dingin.

Nyai Manggis (YM): “Raden.”
SL: “Ya, Nyai?”
YM: Di atas sedikit.”

*benerin kacamata* Jelas ini bacaan dewasa.

5. Merasa wajib membaca karya pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Sebagai penyuka baca, saya sepakat bahwa KSK menentukan nomine dengan pas. Yang menjadi nomine saja keren-keren, maka pemenangnya adalah yang paling keren dari yang paling keren. Selain itu, sebagai ajang penghargaan yang bergengsi di Indonesia, baca karya pemenang KSK bisa jadi bahan untuk masuk ke kelompok-kelompok sastrawan elite kelas kakap.

Secara keseluruhan, terlepas dari penggunaan jatmika dan anjing yang terlalu sering, Raden Mandasia membawa kata-kata unik ke permukaan seperti kerambit, rungsing (rongseng), madah, dan bahar. Dipadu dengan atmosfer kolosal serta cerita kepahlawanan tadi, Raden Mandasia terasa entahlah, tua. Mungkin karena cerita silat/kepahlawanan berjaya di masa ketika orang tua kita masih remaja. Jadi di masa sekarang, kisah semacam itu terkesan jadul vintage.

Dengan alasan yang sama, Raden Mandasia juga menjadi bacaan yang segar. Setelah dijejali dengan novel-novel masa kini dengan tema berat, nyastra abis, atau suram/depresi, Raden Mandasia bagai gerimis di tengah terik siang.

LIMA BINTANG!

***

Manuskrip yang Ditemukan di Accra

21402160

Judul: Manuskrip yang Ditemukan di Accra
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Maret 2014
ISBN: 9786020302799
Jumlah Halaman: 208
Blurb:

Apakah kesuksesan itu? Kesuksesan adalah bisa pergi tidur setiap malam dengan jiwa yang damai.

1099. Gerbang-gerbang Yerusalem tengah dikepung. Di dalam tembok kota, orang-orang berkumpul untuk mendengarkan kata-kata bijak seorang lelaki misterius yang dikenal sebagai sang Guru. Mereka bertanya tentang rasa takut, musuh, kekalahan, dan perjuangan; mereka merenungkan tekad untuk berubah, kebajikan dalam kesetiaan serta kesendirian; dan mereka mengajukan pertanyaan tentang keindahan, seks dan keluwesan, cinta, kebijaksanaan, dan masa depan. Dan berabad-abad kemudian, jawaban-jawaban orang bijak itu masih tetap berlaku sebagai rekam jejak nilai-nilai manusia yang tak lekang dimakan waktu.

Di tangan Paulo Coelho, Manuskrip yang Ditemukan Di Accra menunjukkan siapa diri kita; ketakutan dan harapan kita untuk masa depan berasal dari pengetahuan serta keyakinan yang ada dalam diri kita, bukan dari kesulitan yang mengepung kita.

*

“Kesetiaan berakar dari rasa hormat, dan rasa hormat adalah buahnya cinta.” –Hal. 173

Alasan pertama dan utama kenapa saya akhirnya mengambil Manuskrip yang Ditemukan di Accra (selanjutnya disebut Manuskrip) dari rak toko buku dan membawanya ke kasir adalah (nama) Paulo Coelho. Meskipun banyak orang barangkali belum pernah baca novelnya, tapi saya yakin mereka pernah dengar namanya. Dan setelah saya baca beberapa karya Paulo Coelho, saya sangat menyarankan orang-orang di masa hidupnya di dunia fana ini untuk membaca paling tidak satu novel Paulo Coelho. Saya pribadi, pertama kali mengenal Paulo Coelho melalui Sebelas Menit (Eleven Minutes) berkisah tentang seorang pelacur yang menemukan arti kenikmatan dalam rasa sakit. Halah.

Setelah Sebelas Menit, saya baca karya Paulo Coelho yang lain seperti Sang Alkemis, Veronika Memutuskan Mati, Brida, dan Sang Penyihir dari Portobello.

Kesukaan terhadap novel-novel Paulo Coelho itulah yang mengantarkan saya ke buku Manuskrip ini. Saya sebut ‘buku’ karena Manuskrip tidak masuk kategori novel menurut selera saya. Manuskrip tidak memiliki pembukaan, konflik, penyelesaian, dan akhir. Sesuai judulnya, Manuskrip merupakan sebuah teks yang ditulis berabad-abad lalu, ditemukan, dan dijadikan warisan sejarah. Oleh Paulo Coelho, teks tersebut disajikan kembali dalam bentuk buku. Yup, Manuskrip bukanlah tulisan asli Paulo Coelho.

Meski bukan novel, Manuskrip merupakan tulisan panjang dengan rentang waktu (penceritaan) yang sangat pendek. Hanya semalam, yaitu malam sebelum gerbang-gerbang Yerusalem dikepung. Orang-orang kota memutuskan untuk melawan, namun karena pada dasarnya mereka bukan tentara maka mereka memerlukan semacam motivasi sebelum memulai ‘perang’ keesokan harinya. Selain itu, karena merasa akan gugur dalam pertarungan tersebut, mereka perlu menegaskan kembali pemahaman mereka tentang arti hidup.

Sudah merasa diceramahi? 🙂

Disajikan dalam bentuk tanya jawab, Manuskrip menghadapkan masyarakat pada seseorang  yang dikenal dengan sebutan Guru. Rakyat bertanya tentang segala kegelisahan yang selama ini mereka rasakan kemudian Sang Guru, yang dalam hal ini bertindak ibarat motivator, menjawab pertanyaan tersebut dengan kalimat-kalimat motivasi–kalau nggak bisa dibilang ayat suci. Pertanyaan mereka pun bervariasi mulai dari perihal keindahan, kesendirian, cinta, seks, kematian, hingga masa depan. Saking menyeluruhnya tema pertanyaan yang diajukan, rasanya Manuskrip bisa dijadikan panduan hidup (di segala aspek). Ini kalau di Hindu bisa diibaratkan dengan Slokantara, nih. Semacam kitab etika. *segmented*

“Bila tak pernah sendirian, mana mungkin kau mengenal dirimu sendiri. Dan bila tak mengenal dirimu sendiri, kau pun mulai takut akan kekosongan.”
–Hal. 40

Dengan harapan yang tinggi akan karya-karya Paulo Coelho terdahulu, saya agak kecewa dengan Manuskrip. Mungkin lebih ke masanya yang kurang pas. Buku motivasi yang secara gamblang mencekoki kita dengan kalimat-kalimat indah seharusnya saya baca bertahun-tahun lalu, bersamaan dengan ketika saya menggemari serial Chicken Soup. Kalau sekarang, saya lebih menikmati panduan hidup yang disampaikan secara implisit melalui tokoh-tokoh dalam novel. Terlepas dari selera saya yang saat ini sedang tidak menikmati buku motivasi, Manuskrip tetaplah bacaan yang berguna. Banyak ilmu serta pencerahan-pencerahan, yang sebenarnya tak lekang oleh waktu, yang saya yakin penting untuk diketahui banyak orang.

Seandainya teks dalam Mansukrip ini terang-terangan disebut sebagai kitab suci maka lima bintang dari saya, tetapi karena bukan maka tiga bintang rasanya cukup. Nah, sejalan dengan itu, seandainya saya bisa bertemu Paulo Coelho, hal pertama yang akan saya tanyakan adalah, “Nggak berniat bikin agama baru, Om?”

***

Sesi Motivasi/Konsultasi Bersama @alexandrarheaw

268

Judul: Twivortiare 2
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit: Desember 2014
Jumlah halaman: 488
ISBN: 9786020311364
Blurb:

“You know you’re in love with the right person when falling in love with him turns you into the best version of yourself.”

Setiap pasangan punya cerita masing-masing, kadang manis, kadang juga pahit. Enam tahun setelah Divortiare dan dua tahun setelah Twivortiare, Alexandra dan Beno kembali hadir melalui akun Twitter @alexandrarheaw. Melalui buku ini, kita kembali diajak “mengintip” kehidupan mereka sehari-hari, pemikiran Alexandra yang witty dan selalu apa adanya, bahkan merasakan langsung interaksi antar karakter-karakter yang diceritakannya. Membaca Twivortiare 2 seperti mendengarkan sahabat sendiri bercerita tentang manis dan pahitnya hidup, tentang pilihan, kesalahan masa lalu, dan tentang makna sesungguhnya dari kesempatan kedua.

*

Pengin tahu rasanya follow cuma satu akun di Twitter? Coba baca Twivortiare dan Twivortiare 2 karya Ika Natassa, karena novel-novel tersebut disajikan dalam bentuk kumpulan twit dari akun si tokoh utama, Alex (@alexandrarheaw). Ketika baca Twivortiare dulu, nggak nyangka akan ada lanjutannya. Jadi begitu Twivortiare 2 terbit, penasaran ingin baca.

Untuk Twivortiare 2, rentang waktu ceritanya hampir dua tahun. Tahun pertama, cerita lebih ditekankan pada usaha Alex dan Beno yang ingin segera punya anak tetapi tak kunjung berhasil. Kekecewaan Alex setiap kali mendapatkan siklus bulanannya diperparah dengan tuntutan kerabat yang kerap kali bertanya “Sudah ‘isi’ belum?”

Lalu twit mengenai tuntutan kerabatnya tersebut diikuti serangkaian twit motivasi mengenai kesabaran dan kepasrahan.

“When you reach a certain age, your maternal/paternal instinct just arise. You just started to love playing with babies, holding them.” –hal. 79

Agak repetitif juga ketika beberapa kali Alex mengungkapkan kekecewaannya setiap kali datang bulan. Untungnya, twit Alex diselingi dengan cerita (kalau nggak bisa dibilang racauan) tentang kehidupan sehari-hari, khususnya menyangkut pekerjaan dan rumah tangga. Mengenai pekerjaan, Alex termasuk yang sering mengeluhkan situasi rapat yang bertele-tele, dan sebagainya. Kalau mengingat betapa media sosial (katanya) dijadikan alat bagi bagian HRD suatu perusahaan untuk memantau (calon) pekerjanya, agak geleng-geleng juga melihat betapa Alex seterbuka itu mengeluhkan kondisinya di kantor. Meskipun sering juga Alex menceritakan sisi positif kantornya, tapi tentu kecenderungan manusia adalah lebih mudah mengingat hal buruk dibandingkan hal baik. Setiap baca twit Alex yang mengeluhkan kantor, saya jadi ingat twit keluhan di akun sendiri dan mendadak, “Oh, begini toh rasanya jadi followers yang baca keluhan saya. Haha..” Semacam bercermin gitu, deh.

Kemudian, mengenai rumah tangga. Nah ini yang saya suka. Karena banyak sekali cerita tentang kelakukan Beno di Twivortiare 2. Mulai dari yang remeh macam hobinya makan Bengbeng, sampai beratnya pekerjaan sebagai dokter bedah yang lumayan sering dapat panggilan mendadak. Saking banyaknya cerita tentang Beno, saya sampai merasa bahwa Ika Natassa a.k.a Alex benar-benar mengeksploitasi Beno. Ha! Demi apa? Demi pembaca/fans/groupies yang senantiasa halu sama dokter bedah nan ganteng banget ituuu! Ya, siapa yang nggak gemes sama Beno yang dari luar terlihat dingin dan kaku tetapi ternyata mesum juga? Eh.

“Sometimes a woman needs to play dress up to feel beautiful, Ben. | Sama aku, kamu nggak usah pake apa-apa juga cantik. Makanya di rumah aja.” –hal. 360

Ya ya ya.. Penonton bahagiaa~~

Semakin bahagia ketika akhirnya drama Alex yang berkali-kali gagal hamil, akhirnya berhenti. Karena apa? Ya, karena akhirnya hamil. Yeay! Eh, semoga ini bukan termasuk spoiler, ya karena hamil adalah hal yang wajar dalam rumah tangga dan kecil kemungkinan juga novel metropop hanya berisi kemurungan mengenai tokohnya yang nggak hamil-hamil. Novel metropop rasanya kurang pas kalau sesuram itu.

Well, di  masa kehamilan Alex ini, pembaca dipaparkan dengan suka duka perempuan yang baru pertama kalinya hamil, lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran-kekhawatiran. Ada banyak kekhawatiran yang diungkap Alex melalui twitnya dan dijawab oleh followers-nya dan interaksi antara Alex dan followers-nya ini semakin membuat @alexandrarheaw terasa seperti akun asli, bukannya rekaan. Interaksi Alex dan followers-nya bisa dibilang aktif karena Alex juga kerap membuka sesi tanya-jawab mengenai hubungan percintaan, dan tentunya dijawab berdasarkan pengalaman/pemikiran Alex sendiri. Cocoklah buat pembaca yang galau mengenai status/kejelasan/kelanjutan hubungannya dengan pasangan. Selebtwit/Mario Teguh gitu.

“Ini nasihat buat para perempuan di timeline gue: do not be an option to someone, you should be his only choice. Titik.” –hal. 88

“Don’t try to change your spouse. Not gonna work. And even if he does, you might regret it later because that’s not the person you fell in love with.” –hal. 226

Lalu banyak perempuan pun baper~~

Twivortiare 2 beralur maju dan berfokus pada dua kondisi itu tadi, sebelum dan selama Alex hamil. Nggak banyak kejutan di novel ini, semuanya berjalan normal dan kisah mereka diakhiri dengan kalem. Tapi setidaknya dari novel ini, saya bisa dapat banyak kutipan bagus buat nambah-nambah isi Instagram. Heu. Penasaran, Alex bisa ngetwit banyak banget kalimat motivasi bagus gitu, dapat dari mana ya? Gimana caranya ‘memetik’ sesuatu dari sekitar untuk di-convert jadi kalimat bagus–karena saya yakin nggak semuanya berdasarkan pengalaman pribadi? Hmm. Pertanyaan bagus untuk sang penulis, nih.

Tapi, satu poin penting dari Twitter yang nggak diikutkan Ika Natassa di bukunya adalah waktu (jam) twit. Buat saya ini penting, karena beda jam beda juga bahasannya. Twitter gitu, loh. Cepat sekali topik berganti. Kadang baca serangkaian twit Alex dalam sehari jadi berasa nggak nyambung, yang pasti karena rentang waktu antartwit lumayan panjang. Tapi lagi, maklum saja lah. Ada Beno ini. Yha!

Lima bintang untuk Beno, tiga untuk twit motivasi Alex, tiga untuk ceritanya, dua untuk penyajiannya. Rata-rata: 3,25 menurut kalkulator saya.

***

 

*) Review ini dibuat untuk reading challenge @MondayFF bulan Agustus 2016 dengan tema: buku yang sudah lama kamu punya tapi selalu tertunda dibaca. Twivortiare 2 sudah berkali-kali masuk keluar daftar bacaan bulanan, tetapi selalu ‘kalah’ oleh buku lain. Akhirnya bulan ini memutuskan untuk baca, karena masih ada dua novel Ika Natassa yang antre untuk dibaca–sebagai persiapan sebelum nonton filmnya. Harus berurut bacanya, biar sip. x)

Gila Atau Tidak Gila Hanyalah Perkara Sudut Pandang

028

Judul: Lho
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 1982
Jumlah halaman: 163
ISBN: –
Blurb: –

*

Lagi-lagi saya harus bilang bahwa saya suka novel yang tokoh utamanya, secara psikologis, agak berbeda dengan terminologi ‘normal’ di masyarakat. Ini poin pertama dan utama yang bikin saya menikmati membaca Lho.

“Itu, maksudku keinginan-keinginan jahat yang melintas dengan cepat yang tidak mungkin sama sekali dilaksanakan–bahkan yang sama sekali tidak pernah aku laksanakan–tetapi yang memberi kenikmatan.” –hal. 29

Poin kedua adalah deskripsi yang baik mengenai ketidaknormalan tokoh aku tersebut. Saya dibuat mengangguk setuju dengan setiap gerak geriknya. Perjalanan logika tokoh aku dari awal sampai akhir cerita juga tidak bisa (atau tidak perlu) dibantah karena setiap alasan yang ia kemukakan sebelum melakukan suatu tindakan terasa masuk akal. Inilah enaknya membaca cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama, kecil kemungkinan kita menyalahkan diri sendiri.

Ketiga, bromance di novel ini kental sekali. Tidak ada perempuan yang menjadi sentral cerita dan terlibat secara berlebihan dengan tokoh aku. Hanya ada dua tokoh perempuan di novel ini yang patut diperhitungkan yaitu yang mempekerjakan aku sebagai kernet truk, dan perempuan sebagai kekasih-singkat aku yang kemunculannya saya anggap hanya untuk melengkapi siklus hidup aku sebagai laki-laki khususnya dan sebagai manusia umumnya. Sebaliknya yang menonjol adalah hubungan pertemanan dan pekerjaan antarlelaki. Aku dan Zen (teman yang tulus membantu aku untuk sembuh dari gejala kegilaan, dan somehow hubungan mereka terasa menghangatkan hati), aku dan Bing (yang tidak pamrih), aku dan lelaki yang mempekerjakannya (sangat profesional). Tidak basa basi. Tidak drama. Semuanya berjalan jujur sebagaimana adanya.

Keempat, bab-bab disajikan pendek sehingga mampu mengurangi kemungkinan timbulnya perasaan bosan. Tapi pada dasarnya, jalinan kalimat Putu Wijaya memang tidak datar, sih.

Kelima, Lho adalah karya Putu Wijaya pertama yang saya baca dan saya mendapat kesan (pertama) yang baik. Semoga karya beliau berikutnya konsisten sesuai dengan selera saya. Haha. Agak merasa terlambat membaca karya Putu Wijaya karena rata-rata karya beliau diterbitkan oleh Balai Pustaka sebelum tahun 2000 dan ketika itu saya belum aktif membaca. Tapi toh lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Terakhir, penting untuk memeriksa kembali bagaimana cara kita memandang diri sendiri. Karena cara pandang tersebut rupanya sangat memengaruhi proses pengambilan keputusan di kehidupan sehari-hari. Bila merasa bahwa diri kita adalah orang jahat maka kita akan cenderung melihat orang lain dengan curiga, begitu juga sebaliknya. Di novel Lho, tokoh aku mengingatkan pembaca bahwa sekalipun orang lain menganggap kita gila, jangan sampai kita merasa sebagai orang gila. Gila atau tidak gila, itu kan hanya masalah sudut pandang.

“Aku ingin kembali menemukan basa-basi. Di  mana setiap orang berusaha untuk memoles dirinya sedikit dalam sikap maupun perbuatan, supaya manis. Dengan begitu hidup memang palsu akan tetapi tidak menjemukan.” –hal.

 

***

Dru dan Kisah Lima Kerajaan

Dru

Judul: Dru dan Kisah Lima Kerajaan
Penulis: Clara Ng, Ilustrasi oleh Renata Owen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit: April, 2016
Jumlah halaman: 208
ISBN: 9786020321592
Blurb:

“Bagaimana cara menyembunyikan pikiran?”
“Kamu ingin tahu caranya? Cobalah mencurinya dari pikiran kami.”
“Bagaimana cara mencuri pikiran kalian?”
“Caranya ada di dalam pikiran kami.”

Alkisah, seorang gadis cilik mencari selendangnya yang hilang, bertemu dengan lima raja yang kesepian.

Seekor Keong Emas bertutur asal usul pohon Kapaltaru, membuka perjalanan menembus jagat, untuk menebus satu kesalahan.

*

Dru adalah anak perempuan berusia dua belas tahun yang sangat lincah. Suatu ketika, Dru sedang asyik memetik rambutan. Hasil petikannya ia lemparkan begitu saja ke tanah untuk kemudian dikumpulkan lalu dinikmati. Tanpa diduga, seorang anak laki-laki memunguti dan memakan hasil jerih payah Dru! Hal tersebut menyulut emosi dalam diri Dru sehingga terjadi perselisihan antara Dru dan anak laki-laki tersebut. Peristiwa itu diketahui Ibu dan itu membuat Ibu menangis. Ibu juga mengingatkan bahwa Dru tidak boleh ‘sok jagoan’.

“Dru harus bisa mengontrol emosinya dan tidak boleh menjadi gadis yang congkak, demikian kata Ibu.” –hal. 15

Atas perbuatannya, Dru dihukum tidak boleh ke mana-mana. Jadilah ia terkurung di kamarnya dan hanya bisa menatap laut dari birai jendela. Pada saat ia asyik memandang laut, angin kencang menerbangkan selendang yang ada di bahu Dru. Ia berusaha meraih selendangnya tetapi gagal. Lalu sesuatu terjadi, Dru melihat buih-buih ombak menjelma menjadi kupu-kupu yang sangat besar. Dru melompat ke punggung kupu-kupu berharap kupu-kupu tersebut membawanya mendapatkan selendangnya kembali. Di tengah usahanya, Dru malah terjatuh ke dalam lubang dan berakhir di sebuah negeri ajaib.

Petualangan Dru di lima kerajaan pun dimulai.

*
Bagi saya, bacaan untuk anak-anak haruslah bacaan yang mudah dimengerti, memberi ruang yang cukup untuk berimajinasi, dan tentu saja bernilai. Dru dan Kisah Lima Kerajaan (Dru) mengakomodasi semuanya. Penggunaan kalimat yang sederhana dan jelas serta alur maju dan tidak berbelit-belit tentu saja membuat anak merasa nyaman ketika membaca tulisan panjang. Terlebih lagi bila si anak adalah pembaca yang masih tergolong hijau. Selain itu, kemudahan untuk memahami bacaan akan secara langsung memengaruhi gambaran yang dihasilkan anak di benaknya. Deskripsi-deskripsi yang baik jelas akan membantu memantik daya khayal anak. Menyajikan Dru satu paket dengan ilustrasi-ilustrasi indah juga merupakan pilihan yang tepat, mengingat imajinasi tidak hanya dapat dilatih melalui jalinan kalimat tetapi juga melalui gambar. Anak-anak dibantu membayangkan seperti apa rupa Bibi Keong dengan jam di punggungnya dan Raja Nala yang setengah harimau. Lalu, setelah dihadapkan pada petualangan demi petualangan, akan sangat baik jika anak bisa mendapatkan pengetahuan baru dari apa yang ia baca.

Kegiatan membaca yang dibiasakan ke anak merupakan upaya orangtua untuk menunjukkan cara belajar yang menyenangkan. Ini kepercayaan saya, sih. Belajar di sini bukan belajar hal-hal formal seperti di sekolah, tetapi lebih ke belajar mengenai apa, sih, isinya dunia di luar sana. Sangat baik membuat anak tahu bahwa ada berbagai macam jenis manusia dan ada berbagai macam permasalahan hidup beserta jalan keluarnya. Adegan pertama saja bisa digolongkan dalam ‘permasalahan hidup’ dan bisa jadi bahan diskusi yang baik antara anak dan orangtua. Anak laki-laki yang mengambil rambutan Dru, apakah ia bisa disebut sebagai pencuri? Apakah ia bersalah? Bahkan, apakah rambutan yang dipetik Dru dari pohon-yang-bukan-miliknya bisa dikatakan sebagai milik Dru? Duh, kenapa jadi serius.

Well, selain menjadi bacaan yang menyenangkan, menyambung bahasan mengenai membaca-adalah-belajar, Dru juga menyediakan ruang bagi anak untuk meluaskan perbendaharaan kata. Clara Ng dengan baik menggunakan masygul, birai, horizon, pekak, dan sebagainya yang barangkali terdengar asing di telinga anak. Nah, untuk yang satu ini para orangtua harus lebih dahulu tahu arti kata-kata tersebut, untuk berjaga-jaga seandainya si anak bertanya.

 

“Bukalah matamu. Selama kamu percaya, keajaiban akan menampilkan keberadaannya.” –hal. 41

Secara keseluruhan, Dru adalah bacaan yang bagus. Saya menyukai Dru karena tampil dalam versi hardcover, saya menyukai desain sampul Dru, saya menyukai dominasi warna oranye dan emas yang menimbulkan kesan ceria dan lincah. Sangat cocok untuk cerita petualangan. Ilustrasi karya Reanta Owen yang memanjakan mata semakin menambah sisi positif novel ini. Saya juga menyukai nilai-nilai budaya yang disisipkan dalam Dru. Menurut Clara Ng, Dru mengandung unsur petualangan Alice di Negeri Ajaib (karena Clara Ng adalah fans berat Alice) dipadukan dengan lokalitas. Saya menemukan Alice dijelmakan pada tokoh Dru sendiri, pada bagian ketika Dru masuk lubang, juga fenomena Dru yang bisa membesarkan atau mengecilkan tubuhnya di dunia ajaib. Sedangkan unsur lokal muncul di dalam dunia ajaib itu sendiri. Ada Pandu dan kelima anaknya yang terdengar sama dengan Pandawa, penggunaan nama-nama yang bernuansa wayang banget seperti Patala dan Wrekodara, serta selipan budaya lokal seperti kuda lumping.

“Semua raksasa berukuran sekecil bunga ketika masih kanak-kanak, Dru. Mereka akan tumbuh cepat dan pesat ketika melewati usia dua belas tahun.” –hal. 139

Saya akan sangat bahagia bila ada lebih banyak lagi buku cerita anak seperti Dru.

***

[Blogtour+Giveaway] Tell Me Your Wish by Kim Rang

image

Judul: Tell Me Your Wish
Penulis: Kim Rang
Penerbit: Haru
Tahun Terbit: April, 2016
Jumlah Halaman: 499
ISBN: 9786027742857
Blurb:

Gaon:
Seorang dokter wanita yang dicampakkan pacar rahasianya dengan cara yang tidak manusiawi hingga terkena serangan jantung.

Dojin:
Pria yang dengan senang hati melakukan CPR pada seorang dokter wanita yang terkena serangan jantung, dan merasa bertanggung jawab atas wanita tersebut.

Demi menenangkan hatinya, Gaon dengan asal mengucapkan permohonan-permohonan pada telur mainan ‘Tell Me Your Wish’, termasuk permintaan ‘dikelilingi oleh segerombolan pria yang datang mengemis cintanya’. Apa jadinya kalau semua permohonan Gaon akhirnya terkabul?

*

Seperti halnya sebuah perjalanan, beberapa orang tidak berfokus pada tujuan melainkan bagaimana menikmati perjalanan itu sendiri. Akhir yang mengejutkan/menyenangkan, adalah bonus. Begitu juga dengan perjalanan membaca novel ini, saya sangat menikmati perkembangan hubungan antara Gaon dan Dojin diselingi ‘gangguan’ mantan dan rahasia keluarga, tanpa perlu repot menebak bagaimana akhirnya. Ini novel roman, ya. :))

Novel ini dibuka dengan adegan Gaon yang berpura-pura pingsan agar terhindar dari cercaan pengendara lain karena ia mengerem kendaraannya dengan sangat mendadak. Alasannya? Karena ia mendengar di radio, kekasihnya yang artis Korea terkenal itu, mengumumkan bahwa si kekasih berpacaran dengan sesama artis. Ya, si kekasih masih berstatus sebagai kekasih Gaon lalu berpacaran dengan perempuan lain. Betapa syok Gaon ketika mendengar kabar tersebut! Gaon pun membeli telur mainan ‘Tell Me Your Wish’ dan dalam keadaan sakit hati karena dikhianati, ia mengucapkan permohonan agar dikelilingi oleh banyak pria yang mengemis cintanya. Keinginannya berhasil. Permasalahan selanjutnya, bagaimana ia menentukan dan memilih mana laki-laki yang mencintainya dengan sepenuh hati, bukannya karena efek magis dari telur mainan itu?

Mengusung label komedi romantis, Tell Me Your Wish kemudian menjadi bacaan yang menyenangkan. Banyak kejadian lucu dan seru yang dialami Gaon dan Dojin, membuat pembaca tak akan sempat bosan hingga halaman terakhir. Karakter masing-masing tokoh juga menyenangkan, dan penggambarannya cukup kuat. Apalagi kedua tokoh utama. Gaon yang meledak-ledak, dan Dojin yang sok cool cenderung narsis. Selain itu, tokoh pendukung juga disajikan dengan porsi pas. Tokoh pendukung yang saya suka adalah kakak perempuan Gaon.

“Gunakan aku sebagai air dan juga obat. Dengan begitu aku akan menyirami hatimu yang kering dan mengoleskan obat pada hatimu yang terluka.” –hal. 317

Ada beberapa ungkapan perasaan yang menurut saya agak berlebihan tapi berhubung ini adalah novel komedi (romantis), maka dimaafkan. Bahkan kalau dipikir-pikir, kalimat seperti itulah yang membangun keseruan ketika membaca. Apa memang ungkapan seperti ini merupakan hal yang biasa di K-Iyagi, ya? Karena, fyi, ini adalah K-Iyagi pertama yang saya baca dan lucu juga. So sweet. :’D

Secara keseluruhan, Tell Me Your Wish ini merupakan perpaduan antara metropop dan harlequin. Metropop, karena memceritakan kehidupan masa kini di kota besar dengan segala problematikanya. Harlequin, karena gaya penceritaannya sangat detail. 499 halaman untuk menceritakan kejadian selama empat bulan. Tapi tetap saja, seru banget ‘nonton’ mereka.

Empat bintang untuk Tell Me Your wish! ❤

*

>>>GIVEAWAY!!!

Berhubung saya suka Tell Me Your Wish, maka saya rekomendasikan kalian untuk membaca novel ini juga. That’s why, saya dan Penerbit Haru mengadakan giveaway berhadiah satu eks novel Tell Me Your Wish! Yeay!

Simak syarat dan ketentuannya di gambar berikut, ya.

image

Selamat menjawab, dan semoga kamu yang beruntung. ❤

*

[UPDATE 30 Juni 2016!! Pemenang Giveaway #TellMeYourWish]

Terima kasih untuk semua yang sudah turut berbagi mengenai harapan-harapan yang ingin diwujudkan untuk orang lain. Membaca jawaban-jawaban yang masuk benar-benar bikin terharu. :’)

Nah, dari sekian banyak jawaban, tim juri pun telah menentukan satu pemenang. Siapa dia?

SELAMAT UNTUK LULU LAILIYAH (@LULUVLUV)!! Kamu berhasil memenangkan giveaway #TellMeYourWish di sebelumprolog.wordpress.com. Sila sampaikan data pengiriman hadiah ke email saya di alamat mandewi.mandewi@gmail.com. Ditunggu, ya!

Untuk yang belum beruntung, jangan khawatir. Masih ada satu giveaway lagi yang berhadiah novel Tell Me Your Wish, dan novel-novel kece lainnya. Cus, follow @penerbitharu.

Sampai jumpa di giveaway lainnya, ya. ❤

***

Tanah Lada: Tanah yang Menumbuhkan Kebahagiaan

Di Tanah Lada

Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Oktober 2015
Jumlah Halaman: 240
ISBN: 9786020318967
Blurb:

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

Ditulis dengan alur yang penuh kejutan dan gaya bercerita yang unik, sudah selayaknya para juri sayembara memilih novel Di Tanah Lada sebagai salah satu juaranya.

*

SEGAR adalah kata yang rasanya pas menggambarkan perasaan saya ketika membaca Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Meskipun novel ini bukan novel pertama yang menggunakan sudut pandang anak kecil, tetapi ada sesuatu yang berbeda dengan Salva dibandingkan dengan tokoh anak-anak di novel lain. Kecintaannya akan kata-kata barangkali merupakan yang paling menonjol di antara sekian keunikan Salva yang saya tangkap. Bagaimana tidak, baru di halaman tiga saya sudah disuguhkan salinan kamus yang menjelaskan arti (bukan satu, tapi lima) kata:

1. Berbuat
2. Buat
3. Tolol
4. Bebal
5. Bodoh

Karena di novel ini Salva sedang ‘bercerita’ kepada pembaca dewasa tentunya, maka pembaca (dewasa) mana yang tidak paham arti kata-kata tersebut? Tapi begitulah uniknya Salva. Di tengah cercaan/kemarahan Papanya, ia memilih untuk menyibukkan diri dengan kamus bahasa Indonesia yang ia dapat dari Kakek Kia di ulang tahunnya yang ketiga. Setiap kali mendengar kata-kata yang tidak ia mengerti diucapkan orang lain, maka Salva akan langsung membuka kamus dan mencari arti kata-kata tersebut. Tak jarang, ia menjelaskan ulang arti kata yang dibacanya di kamus ketika ia sedang berbicara dengan orang lain di kemudian hari. Ingatan Salva sungguh baik. Kamus bahasa Indonesia tersebut juga mengandung pesan yang ditulis Kakek Kia, bahwa budi bahasa baik membentuk manusia bersahaja. Pesan inilah yang menjadi alasan mengapa Salva senantiasa menggunakan kata baku serta sesuai ejaan bahasa Indonesia. Tetapi perhatian Salva terhadap (ber)bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai terpecah setelah obrolannya dengan Kak Suri–teman P di Rusun Nero, yang berkata bahwa:

“Tapi yang lebih penting daripada bertutur kata yang baik adalah bertutur kata yang tepat. Kalau lawan bicara kamu nggak mengerti apa yang kamu bicarakan, nggak ada gunanya juga kamu bicara.” –Hal.66

Sejak itu, Salva belajar berkata ‘nggak’.

Saya menyukai cara Ziggy menunjukkan kecintaannya akan Bahasa Indonesia. Tentu saja cinta karena kalau tidak, mana mungkin Ziggy bersusah payah menyalin isi kamus ke dalam novelnya. Dengan senang hati, saya juga menganggap ini merupakan upaya Ziggy mengingatkan kita untuk kembali kepada KBBI (dan EBI). Belakangan ini, banyak kata yang sebenarnya netral, dengan sengaja digunakan secara terus menerus untuk menggiring opini (negatif) terkait isu-isu tertentu. Pada awalnya mungkin terlihat biasa saja, tetapi lama-lama kata-kata tersebut bisa mengalami pergeseran makna.

Misal ‘nyinyir’, siapa yang pertama kali salah menganggap ‘nyinyir’ sebagai ‘suka menyindir’ hingga menyebar luas? Atau apakah kalian melakukan salah satu dari dua puluh kesalahan yang kerap terjadi dalam berbahasa Indonesia seperti yang tertulis di sini?

*

Selain urusan bahasa Indonesia, urusan logika juga diangkat Ziggy di novel ini. Dari penuturan seorang anak berusia enam tahun, pembaca dihadapkan pada kesimpulan yang diambil berdasarkan (hanya) premis satu dan premis dua. Bila A adalah B, dan B adalah C, maka A adalah C.

“Orang-orang yang berjudi semuanya diajak setan. Papa bilang teman-temannya yang mengajak dia judi. Jadi, teman-temannya itu setan. Dan, kalau Papa mengajak orang lain untuk berjudi, Papa juga setan.” –Hal. 33

Pada orang dewasa, menyimpulkan sesuatu kerap menjadi hal yang rumit. Selain premis satu dan premis dua, masih ada premis tiga, empat, lima, dan faktor-faktor lain yang turut memengaruhi proses pengambilan kesimpulan. Ketika membaca kesimpulan Salva mengenai sosok Papa, besar sekali keinginan untuk mengatakan bahwa kesimpulan yang ia buat kurang tepat. Tapi Salva, kan, baru berusia enam tahun. Bagaimana ini?

Sosok Salva sangatlah menarik perhatian. Membuat saya teringat pada Matilda (tokoh rekaan Roald Dahl). Apalagi ketika membaca blurb Di Tanah Lada, bagian “Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna.” Salva dan Matilda sama-sama dianggap tidak berguna dan tidak disukai ayah masing-masing tanpa alasan yang jelas. Bedanya, Matilda punya Miss Honey, Salva punya P. Pada hubungan antara Matilda dan Miss Honey, masih dapat dirasakan aura anak-anak pada sosok Matilda yang jenius. Tetapi hubungan (pertemanan) antara Salva dengan P digambarkan sangat … dalam. Dan dewasa. Pertemanan tersebut mengantarkan mereka (juga kita, pembaca) ke petualangan demi petualangan yang berakhir di Tanah Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan.

***