[#GuestPost] Fantasy Books TBR (To-Be-Read) List

*

Hai semuanya! Kenalkan ini Afi dari blog Imaginary Book Corner. Sebagai bagian dari event Share the Love 2017 yang diselenggarakan oleh BBI, kali ini aku akan sedikit memperkenalkan genre fantasi dan buku-buku dalam genre itu yang ingin aku baca.

bbi-share-the-love

Menurut Wikipedia, fantasi adalah hal yang berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja.

Biasanya aku menganggap buku tertentu sebagai buku fantasi apabila memiliki salah satu elemen ini: sihir, dunia lain yang diakses melalui tempat/cara tertentu, dan hewan/makhluk fantasi dan dimana kau bisa menemukannya. Tentunya genre fantasi dapat diartikan lebih luas dibandingkan pemahamanku yang sempit itu. Tapi daripada aku membuat kalian bosan dengan diskusi mengenai hal tersebut, sebaiknya aku segera menuliskan beberapa sub-genre dari fantasi serta buku-buku apa yang ingin kubaca dalam waktu dekat.

1. High Fantasy
Buku yang masuk dalam kategori High Fantasy adalah buku yang bercerita mengenai dunia yang sangat berbeda dari dunia yang kita kenal saat ini. Contoh paling mudah adalah seri The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien dengan setting Middle Earth-nya. Pada dasarnya aku belum pernah membaca buku dalam seri ini, meskipun sudah berkali-kali menonton filmnya yang dibintangi Viggo Mortensen yang ganteng (#salahfokus).

Tapi untuk TBR-ku, rasanya lebih tepat kalau aku menuliskan seri Ther Melian karya Shienny M.S. yang bukunya telah kubeli beberapa waktu yang lalu. Aku tertarik untuk membaca buku ini karena penasaran dengan buku fantasi yang ditulis oleh penulis dalam negeri.

2. Paranormal romance
Genre ini merupakan perpaduan dari paranormal dan romance. Genre paranormal biasanya merupakan buku dengan kejadian-kejadian di luar nalar manusia. Seringkali dengan tambahan makhluk supernatural, UFO, dsb. Paranormal romance adalah buku dengan genre paranormal yang lebih menitikberatkan pada romansa dua (atau lebih) makhluk yang ada di dalam cerita.
Contoh paranormal romance yang pernah aku baca adalah Vampire Academy karangan Richelle Mead. Dan untuk TBR-ku dari genre ini, aku ingin membaca Bloodline, seri spin-off dari Vampire Academy. Keinginan untuk membaca buku ini merupakan suatu komitmen tersendiri untukku karena total ada 6 buku di dalamnya. Tapi… rasanya sayang kalau aku tidak melanjutkannya lagi. Apalagi aku lumayan kangen juga dengan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya.

3. Dystopian
Genre distopia, sejauh yang aku tahu, menceritakan tentang dunia setelah kiamat/apocalypse yang secara umum lebih buruk dari dunia yang kita hidupi saat ini. Buku dari genre ini yang telah kubaca adalah seri Divergent karya Veronica Roth dan The Hunger Games karya Suzanne Collins.

TBR-ku untuk genre ini adalah The Maze Runner karya James Dashner. Aku membeli 3 bukunya beberapa tahun yang lalu dan sayangnya sampai saat ini masih belum kubaca. Filmnya pun belum aku tonton. Payah, ya? Hahaha..
Kurang lebih itulah 3 sub-genre dari fantasi beserta buku yang ingin kubaca dalam waktu dekat. Semoga aku bisa berhasil membaca 13 buku dari 3 seri tersebut. Wish me luck!

***

Ditulis oleh: Afifah Tamher untuk sebelumprolog.wordpress.com dalam rangka #BBIShareTheLove2017

Baca Buku-Buku ini Kalau Kamu Ingin Tetapi Ragu Membaca E-Book

“We notice e-book readers, we don’t notice books.” –Douglas Adams

Siapa yang belum tahu mengenai buku elektronik atau yang beken disebut e-book? Rasanya semua orang sudah pernah mendengar tentang e-book, ya. Nah, kalau sudah kenal, apakah kalian sudah mulai sayang? Atau jangan-jangan, banyak di antara kalian yang justru lebih terbiasa membaca e-book dibandingkan dengan buku cetak? Wow!

Saya pribadi, pertama kali tergerak untuk mencoba membaca e-book adalah karena Gramediana (yang sudah lebur itu). Setelah itu, bergeser ke SCOOP. Dan yang paling baru, Google Play Books. Meski membaca e-book dapat dilakukan menggunakan berbagai perangkat, saya belum membaca e-book sesering/sebanyak membaca buku cetak. Tetapi semakin lama, saya mulai bisa menikmati. Sempat berpikir juga, buku apa ya yang sebaiknya dibeli-baca dalam versi e-book (karena buku-buku tertentu, tidak boleh tidak harus dimiliki versi cetaknya)? Kalau saya tanyakan ke orang-orang yang gemar membaca e-book, pasti jawabannya akan beragam.

Nah, bagi kamu yang ingin mulai membaca e-book tapi bingung hendak memulai dari mana, berikut saya buatkan daftar jenis-jenis buku untuk dibaca versi elektroniknya menurut pengalaman saya. Semoga bisa memberi pandangan lain.

FullSizeRender (4)

1. Buku puisi
Sama halnya dengan buku cetak, membaca e-book juga bisa melelahkan, untuk itu bagi yang belum terbiasa membaca e-book, bisa memulai dengan buku puisi. Alasan utamanya karena buku puisi, bagi saya, tidak untuk dibaca dalam sekali duduk. Puisi merupakan jenis bacaan yang mengharapkan orang untuk diam dan merenungi setiap kata. Membaca sebuah buku puisi bisa menghabiskan waktu yang lama. Selain itu, kalau kalian suka membaca twit puisi di Twitter, maka seharusnya kalian tidak akan kesulitan membaca buku (puisi versi) elektronik. Beberapa buku puisi yang saya baca dalam versi elektroniknya adalah Cinta dan Kesialan-Kesialan (Lang Leav), dan Kawitan (Ni Made Purnama Sari).

2. Kumpulan cerpen
Dengan alasan yang kurang lebih sama dengan buku puisi, buku kumpulan cerpen (kumcer) juga merupakan pilihan tepat untuk mulai membiasakan diri membaca e-book. Satu cerpen pada satu waktu, lalu baca satu lagi di lain waktu. Rasanya ini bisa menjadi ‘latihan’ yang menyenangkan. Kumcer versi e-book yang saya punya: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (Norman Erikson Pasaribu), Mata yang Enak Dipandang (Ahmad Tohari), Tentang Kita (Reda Gaudiamo).

012

3. Buku yang tidak terlalu tebal
Ketika kita membaca buku cetak, berapa jauh yang telah kita baca akan terlihat dari letak pembatas buku yang kita pakai. Apakah kita masih berada di tengah-tengah buku atau sudah menjelang akhir? Mengetahui sisa halaman berdasarkan letak pembatas buku, bagi saya, dapat memberikan efek yang unik, yang tidak bisa didapat ketika membaca e-book (ya, iyalah). Saya pernah membaca e-book yang cukup tebal, dan merasa tidak sabaran untuk mencapai ending. Efeknya malah buruk, yaitu tidak melanjutkan membaca. Sejak itu, salah satu kriteria ketika saya memutuskan membeli e-book adalah buku yang tidak terlalu tebal. Mencari Cinderella (Finding Cinderella – Colleen Hoover) hanya terdiri dari 198 halaman, Siddharta (Herman Hesse) terdiri dari 168 halaman, Api Awan Asap (Korrie Layun Rampan) hanya 164 halaman.

4. Buku dari penulis favorit tapi bukan karya unggulannya.
Untuk penulis tertentu, semua karyanya memang ingin saya koleksi dalam bentuk buku cetak (lebih bagus lagi kalau ada versi hardcover). Namun untuk beberapa penulis lain, saya hanya koleksi karya-karyanya yang sangat saya suka. Biasanya ini hasil dari meminta pendapat teman dan membaca-baca review dari pembaca yang juga menyukai penulis tersebut.

006

5. Buku untuk coba-coba selera
Berhubung saya termasuk orang yang gampang terpengaruh apalagi sejak aktif mengikuti berita-berita dari penerbit atau penulis mengenai buku-buku, maka seringkali saya merasa penasaran dengan karya penulis yang sebelumnya tak pernah saya baca. Apalagi kalau ada teman yang bilang bahwa karya penulis A layak baca. Dalam rangka coba-coba inilah, saya memilih untuk baca versi e-book. Ehehe.. Di kelompok ini ada Dil3ma (Mia Arsyad), Episode Para Lajang (Shandy Tan), Gema Sebuah Hati (Marga T), Tanjung Luka (Benny Arnas).

6. Majalah
Ada dua majalah yang selalu saya baca tiap bulan, yaitu Cosmopolitan dan Cinemags. Untuk Cosmopolitan, sejujurnya, barangkali hanya 40% dari keseluruhan isinya yang benar-benar saya baca. Ingin nggak usah baca, tapi merupakan hiburan juga. Jadi, ya marilah. Baca. Tapi versi e-book.

Nah, bagi yang sudah terbiasa, buku-buku seperti apa sih yang kamu pilih untuk dibaca dalam versi e-book? Yuk, berbagi pengalaman.

***

Menjadi Bookstagrammer? Kenapa Tidak!

Saya termasuk yang terlambat membuat akun di Instagram (IG). Alasannya, saya nggak pengin IG saya jadi semacam album Facebook (yang isinya campur-campur) karena kalau sama saja, buat apa punya dua wadah untuk satu fungsi. Lalu setelah mempertimbangkan apa yang kira-kira bisa saya buat di IG, akhirnya didapat keputusan bahwa IG saya adalah tempatnya berbagi kutipan buku. Meskipun belakangan ini diselipi banyak foto kopi serta hiburan lain tapi percayalah itu hanya untuk selingan saja, kok.

Semuanya berjalan baik-baik saja dan saya merasa keren-keren saja sampai timbulnya rasa penasaran terhadap ‘dunia’ di luar sana. Mulailah saya melakukan penelusuran terhadap beberapa hashtag alias tanda pagar (tagar) terkait buku. Mulai dari #kutipanbuku, #bookquotes, #bookish, #booklovers hingga ‘nyasar’ ke #bookstagram dan #bookphotography. Kok keren-keren! :O

MAU BIKIN YANG BEGITU JUGA!

Tapi berhubung saya nggak punya bakat di bidang fotografi, maka saya memperhatikan hal-hal lain selain teknis pengambilan gambar. Yang menarik perhatian saya, dan saya rasa lebih mudah diaplikasikan untuk menghasilkan foto buku yang satu tingkat lebih keren dibandingkan foto yang selama ini saya hasilkan, adalah penggunaan properti foto. Melihat #bookphotography di akun-akun Instagram buku unik, saya seperti baru sadar kalau ada yang namanya bunga, mini figure berbagai tokoh, kotak berbagai ukuran, lampu-lampu lucu, bahkan ranting pohon!

Nah, berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap foto-foto buku, berikut ini aksesori/properti sederhana yang banyak banget dipakai. Rasanya ini bisa dicontoh untuk menjadi bookstagrammer pemula. x))

1. Bunga. Siapa yang bisa menyangkal keindahan bunga? Apalagi sejak dahulu, bunga itu identik sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempercantik (apa saja). Bahkan satu tangkai bunga bisa membuat perbedaan yang besar. Semakin cocok lagi apabila buku yang difoto menggunakan properti ini adalah yang bergenre roman. Pas!

040 045 054

2. Kacamata. Bagi saya, kacamata bisa memberi kesan nerd. Barangkali karena yang namanya bookstagrammer (seharusnya) adalah si tukang baca. Nerd juga berarti orang yang suka banget akan satu hal tertentu, jadi pengguna aksesori ini saya anggap sebagai book nerd.

057 059 055

3. Secangkir Kopi. Saya rasa ini berkaitan sangat erat dengan budaya ngopi dan/atau nongkrong (di warung kopi) yang tumbuh pesat belakangan ini. Ngopi/nongkrong memberi kesan santai.

039 037 038

4. Snacks. Mulai dari semangkuk buah sampai biskuit yang masih terbungkus rapi, asalkan bisa memberi nilai tambah pada foto, silakan. Kalau saya pribadi, nggak bisa baca sambil makan jadi kalau ada snacks di foto buku saya maka itu tak lebih dari sekadar properti foto. :))

052 064 069

5. Alat tulis.  Rasa-rasanya ini properti yang paling sederhana juga standar tapi jangan-jangan itu juga yang jadi pertimbangan utama penggunaan aksesori ini. Mudah ditemukan. Tetapi meskipun sederhana, penggunaanya di banyak foto sangatlah berhasil.

060 063 056

6. Lampu hias LED. Penggunaan lampu hias LED mampu memberi kesan hangat dan elegan. Tapi rasanya butuh usaha lebih, ya. Hmm.

061 048 053

7. Alas bermotif. Ini adalah satu cara meningkatkan tampilan foto yang effortless. Cukup dengan satu motif tertentu dan foto pun jadi nggak monoton. Tapi hati-hati, jangan sampai perpaduan alas bermotif dengan sampul buku terkesan nabrak (motif).

041 066 062

8. Binatang peliharaan. Menjadikan anjing atau kucing sebagai model foto pastinya susah-susah gampang. PR utamanya adalah bikin mereka mau anteng. Setiap lihat foto buku yang melibatkan (model) binatang peliharaan, reaksi pertama saya sudah pasti tersenyum! Cute!

034 058 050

9. Aksesori lainnya. Lilin aromaterapi, seringnya yang berwarna-warni. Mini figure atau merchandise resmi buku bersangkutan. Kamera, selain karena alasan estetika bisa jadi karena bookstagrammer tersebut suka fotografi atau malah ‘merangkap’ sebagai traveler? Hmm. Produk tertentu, bisa untuk sekadar properti atau bisa juga karena sengaja promosi. Nggak masalah. :))

070 035 033  049 068 067

Yess, itu tadi hasil pengamatan saya terhadap fenomena bookstagrammer. Di antara kalian, adakah yang punya akun IG khusus buku? Coba kasih tahu akun IG kalian. Saya mau berkunjung. :))

***