Merayakan Rima di Senin Rasa Jumat

Cd1tKT_WAAAU4oC

Judul: Rabu Rasa Sabtu
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 239
ISBN: 9786020318806
Blurb:

Seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong. Pandangannya kosong. Untuk mengganti giginya yang tanggal, dipasang gigi anjing. Tapi suara Ayang jadi melengking…

Kutipan di atas ada dalam buku ini. Tapi itu bukan cerita yang sesungguhnya, karena kejadian membentuk ceritanya sendiri. Setiap kata mengajak kata yang berdekatan, lalu ada kalanya bergenit menyaru sebagai puisi, atau berusaha membentuk kalimat. Misalnya bahwa Ayang sudah ditentukan umurnya–meskipun mati karena batuk kurang dramatis, dan ada lelaki yang suka
menggendong, mencintainya, walaupun Ayang tinggal separuh. Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu.

*

Sudah membaca kalimat pertama pada blurb di atas? Terasa berima tidak?

Yup, rima.

Itulah hal pertama yang menarik perhatian saya ketika membaca halaman awal novel ini. Rima bertebaran di banyak sudut dan membuat saya merasa bahwa Arswendo sedang bermain-main dengan kata. Barangkali novel ini sekaligus adalah jurnal hasil penelitiannya akan kamus-rima. Di beberapa tempat, rima memang terasa pas. Di tempat lain, terasa lepas (dari konteks). Apakah sebuah kata bisa merasa terpaksa ditempatkan dalam kalimat? Apakah sebuah kata bisa merasa tidak nyaman karenanya?

“Selain jorok, mereka tak pernah kapok dan sudah biasa diolok-olok.” –hal. 18

“Mereka spontan ber-toss. Saking gembiranya bibir Way sampai mencos. Pembeli lain kelihatannya ikut gembira, tak ada yang melengos.” –hal. 53

“Jalmo makin kikuk, tapi senyum Mama Tera tak membuatnya terpuruk. Kakinya diselonjorkan agar tidak tertekuk.” –hal. 56

Terlepas dari masalah rima, perasaan saya menjadi tak menentu ketika membaca Bagian Satu novel ini. Sungguh haru menyaksikan seseorang yang jatuh cinta di masa-masa akhir hidupnya. Bahagia dan tidak bahagia pada saat yang bersamaan. Bagi yang sehat dan merasa akan hidup lama, barangkali cinta adalah sesuatu yang biasa. Masih panjang waktu untuk menikmati cinta dalam berbagai wujudnya. Sebaliknya, bagi yang sekarat dan merasa hidup akan segera berakhir, mencintai adalah sesuatu yang wah. Mewah.

“Cinta adalah ketidakpastian yang menyenangkan, cinta adalah hidup. Kalaupun sebentar lagi mati, paling tidak aku sudah merasakan ini. Dan ini namanya bahagia.” –hal. 62

Adalah Wayang Supraba, biasa dipanggil Way, menderita batuk yang aneh. Batuk aneh yang tak sembuh meskipun sudah diobati dengan berbagai cara. Batuk aneh yang bisa merenggut nyawa Way kapan saja. Sempat dirawat intensif di rumah sakit namun tak menunjukkan perkembangan berarti, orangtua Way memutuskan untuk membawa Way pulang dan merawatnya di rumah. Segala peralatan kedokteran lengkap disediakan, untuk berjaga-jaga seandainya penyakit Way kumat di waktu yang tak terduga.

Pada suatu hari, saat keadaannya lumayan baik, Way datang ke kantor ibunya dan bertemu dengan salah satu pegawai bernama Jalmo yang kemudian diajak/diperintah untuk menemani Way berenang. Berawal dari berenang, lama-lama Jalmo dan Way malah saling menyatakan perasaan sayang.

Mauuuu…

*

Novel berjudul Senin Rasa Jumat, eh Rabu Rasa Sabtu, ini sangat tepat menggambarkan perasaan saya yang bingung. Bukan bingung akan hari seperti halnya Way yang setiap kali tersadar dari koma selalu merasa bahwa jarum jam tak bergerak.  Membuatnya mengalami semacam disorientasi waktu. Melainkan saya bingung dengan fokus cerita. Apakah ini cerita tentang kematian, tentang buaya putih, atau tentang orientasi seksual? Apakah ini cerita tentang Way atau Jalmo? Bahkan saya bingung dengan keberadaan beberapa tokoh. Siapa Ratu? Siapa Jauhari Efendi? Mengapa harus ada porsi cerita yang cukup besar tentang mereka? Siapa Juwe? Untuk apa ia dimunculkan kembali?

Bagi pembaca lain, mungkin pertanyaan tersebut tak sempat muncul karena pada dasarnya novel ini sangat bisa dinikmati. Tapi bagi saya yang sedang belajar menulis, rasanya ingin sekali pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh penulis. Atau paling tidak, editornya.

Secara keseluruhan, sebagai penggemar karya-karya Arswendo terdahulu, saya bersenang hati. Beliau konsisten dengan nuansa cerita yang ndeso down to earth. Meski Way berasal dari keluarga yang kaya raya, keberadaan Jalmo yang orang biasa, seting cerita (Bagian Dua) di pinggir sungai di Desa Eretan, ditambah lagi dengan cerita rakyat tentang buaya putih, membuat saya tersenyum senang.

Kalau boleh memilih satu kalimat untuk menggambarkan apa yang ingin disampaikan penulis melalui novel ini, maka kutipan berikut rasanya yang paling tepat:

“Kematian dan kelamin itu kekuasaan Tuhan. Bukan kuasa kita. Jadi kalau menyangkut kematian dan kelamin, saya tinggal terima saja. ” –hal. 202

Bagaimana? Setuju dengan Arswendo atau tetap mau ribut tentang keberadaan kaum LGBT?

***

 

 

Advertisements

[Fifty Shades of Grey] Praktik Prostitusi ala Christian Grey

image

Judul: Fifty Shades of Grey
Penulis: E.L. James
Penerbit: Arrow Books
Tahun Terbit: April 2012
Jumlah Halaman: 514
ISBN: 0099579936
Blurb:

When literature student Anastasia Steele interviews successful entrepreneur Christian Grey, she finds him very attractive and deeply intimidating. Convinced that their meeting went badly, she tries to put him out of her mind – until he turns up at the store where she works part-time, and invites her out.

Unworldly and innocent, Ana is shocked to find she wants this man. And, when he warns her to keep her distance, it only makes her want him more.

But Grey is tormented by inner demons, and consumed by the need to control. As they embark on a passionate love affair, Ana discovers more about her own desires, as well as the dark secrets Grey keeps hidden way from public view.

*

Fifty Shades of Grey adalah roman–bercerita tentang perjalanan cinta kedua tokoh utamanya–dengan kisah yang standar. Anastasia Steele yang hanyalah seorang gadis biasa jatuh cinta pada Christian Grey yang adalah seorang pangeran tampan.

Namun kisah ini menjadi tidak biasa karena didukung oleh karakter Christian yang … unik. Di satu sisi, ia adalah seorang pelaku bisnis yang profesional, tegas, disiplin. Karakter-karakter tersebut berhasil membuat Christian menjadi biliuner di usia 27 tahun. Di sisi lain, ia senang menyewa perempuan untuk dijadikan objek eksperimen ketika berhubungan seks. Satu perempuan, satu kontrak, jangka waktu tiga bulan. Kesenangan ini membuat Christian hendak menjadikan Anastasia sebagai perempuan sewaan keenambelas.

Hubungan yang awalnya direncanakan sebagai hubungan profesional, ternyata menjadi lebih personal. Anastasia dideskripsikan memiliki sesuatu yang membuat Christian tidak bisa menjauh. Alih-alih segera menyelesaikan negosiasi kontrak sewa-menyewa, mereka malah menjalin hubungan seperti sepasang kekasih. Christian memperlakukan Anastasia dengan sangat terhormat, menjaga, mengenalkan Anastasia kepada keluarganya, sedemikian rupa hingga Anastasia jatuh cinta dengan mudah dan gundahnya.

Membaca cerita dari sudut pandang Anastasia, membuat saya terpaksa jatuh cinta juga kepada Christian. Bahkan kekurangan-kekurangan Christian, dengan mudah tersamarkan oleh deskripsi, misalnya, kemeja putih dan celana bahan yang jatuh sempurna di pinggul Christian.

Sudahlah masalah cinta-cintaan, yang lebih menarik perhatian saya ketika membaca novel panas ini adalah perihal perjanjian antara Dominant (pihak penyewa, dalam hal ini adalah Christian) dan Submissive (pihak yang disewa, dalam hal ini Anastasia).

“The fundamental purpose of this contract is to allow the Submissive to explore her sensuality and her limits safely, with due respect and regard for her needs, her limits, and her well-being.”

Sejak awal novel, Christian dengan blak-blakan meminta Anastasia untuk menjadi Submissive sembari menyodorkan konsep surat perjanjian yang berisi hak dan kewajiban kedua belah pihak, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Dominant kepada Submissive. Submissive juga punya hak untuk menentukan kapan ia mau atau tidak mau diperlakukan dengan cara tertentu. Dan apabila Submissive berkata tidak, maka Dominant berkewajiban untuk menghentikan keinginannya. Selain hak dan kewajiban, perihal sanksi juga dijabarkan. Submissive dilarang melanggar isi kontrak, karena ada hukuman yang akan ditimpakan kepadanya. Jenis hukuman ditentukan sepenuhnya oleh Dominant.

Poin-poin dalam perjanjian tersebut, selain membahas hal-hal terkait kegiatan ketika berhubungan seks, juga memuat kehendak Dominant untuk memastikan bahwa Submissive selalu berada dalam kondisi prima. Untuk itu, Submissive berkewajiban menjaga kesehatan dengan memakan hanya makanan yang telah ditentukan, tidur minimal 8 jam sehari (yang kemudian dinegosiasi menjadi 6 jam), olahraga rutin empat kali seminggu (dinegosiasi menjadi tiga kali dalam seminggu), pemeriksaan kesehatan secara rutin, dan sebagainya.

Pada akhirnya, prostitusi bermartabat yang mereka praktikkan memiliki dasar hukum yang harus ditaati. Dan karena isi perjanjian yang ditandatangani merupakan hasil dari proses negosiasi, maka dapat dipastikan tidak ada pihak yang dirugikan.

“I want to hurt you. But not beyond anything that you couldn’t take. Why? I just need it.” –hal. 503

Barangkali bisnis prostitusi along with feminism issue harus mencontoh cara-cara Christian. Sebelum seseorang menggunakan jasa Pekerja Seks Komersial (PSK), harus ada perjanjian tertulis mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kedua pihak. Bila terjadi pelanggaran, maka ada sanksi yang dikenakan.

Jangan ada lagi kasus di mana pihak perempuan mendapat siksaan tanpa bisa melawan/membela diri.

Bagaimana bila dibuat perjanjian bahwa sebelum bertransaksi, kedua belah pihak, misalnya, harus berada dalam keadaan bersih dan wangi? Bisa saja karena bau badan, salah satu pihak merasa tidak nyaman, lalu menyindir/mengejek lawannya, lalu pihak lawan tersinggung dan membunuh si penyindir. Bisa terjadi, kan?

Nikmat tak didapat, bui jadi akhirat.

Jadi, membuat perjanjian tertulis rasanya bukan ide buruk. You know, just in case.

***

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

images

Judul: Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: Mei, 2015
Jumlah Halaman: 276
ISBN: 9797808165
Blurb:

“Kau percaya masa depan masih memiliki kita?”
“Akan selalu ada kita. Aku percaya.”

NANTI tidak bisa begitu saja menoleh dan pergi dari masa lalu meskipun ia sudah berkali-kali melakukannya. Terakhir, ia mengucapkan selamat tinggal dan menikah dengan lelaki yang kini berbaring di makamnya itu.

Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.
Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.

Masa lalu, bagiku, hanyalah masa depan yang pergi sementara.

Namun, ada saatnya ingatan akan kelelahan dan meletakkan masa lalu di tepi jalan. Angin akan datang menerbangkannya ke penjuru tiada. Menepikannya ke liang lupa. Dengan menuliskannya, ke dalam buku, misalnya, masa lalu mungkin akan berbaring abadi di halaman-halamannya.

Maka, akhirnya, kisah ini kuceritakan juga.

*

Warisan apa yang sudah kita siapkan jelang kematian? Atau, apakah kita memiliki waktu untuk menyiapkan warisan tersebut?

Untung bagi Jiwa Matajang, ada manuskrip yang tertinggal sebagai warisan. Manuskrip,  yang menceritakan perasaan Jiwa setelah ditinggal kekasihnya menikah dengan laki-laki lain, ini bisa disebut sebagai semi-biografi yang ia tulis sendiri. Di dalam cerita, Jiwa memang seorang penulis. Semi-biografi, karena dalam manuskrip juga terselip banyak pengalaman Jiwa sejak masa kecil hingga saat-saat sebelum kematian menjemput.

“Salah satu hal menyenangkan yang sering kulakukan setelah dewasa adalah mengatakan kepada anak-anak yang kutemui agar tidak menjadi orang dewasa, Jika terpaksa harus menjadi dewasa, kataku, tetaplah menjadi seorang anak kecil.” –hal. 36

Seberapa nyata sebuah karya fiksi?

Seorang penulis tentu saja akan memilih sendiri bagian mana di hidupnya untuk diselipkan dalam karya( fiksi)nya. Dan orang lain yang kebetulan ada di sana mengalami hal yang sama, bisa saja menyetujui/membantah. Dalam novel ini, Nanti, kekasih Jiwa yang menikah dengan laki-laki lain itu, menjadi pihak yang juga ada di beberapa pengalaman yang ditulis Jiwa. Nanti membaca manuskrip yang ditinggalkan Jiwa dan mengomentari banyak bagian. Komentar Nanti menjadi catatan kaki dalam novel ini. Tetapi karena saya ingin menikmati cerita Jiwa tanpa interupsi, maka catatan kaki darimu akan saya baca nanti, ya, Nanti.

Selain itu, seperti apa yang M. Aan Mansyur perlihatkan kepada publik melalui akun-akun media sosialnya, di novel ini pun ia konsisten menyuarakan kepedihan (selain hal perpisahan dengan ayahnya dan kesetiaan ibunya).

“Es tan corto el amor, y es tan largo el olvido. Cinta sekejap saja, melupakannya butuh waktu lama.” –hal. 172

*

Bisa seberapa narsiskah seorang penulis?

Barangkali karena memasukkan informasi mengenai penulis besar klasik peraih Nobel dan seterusnya dan seterusnya sudah terlalu mainstream, maka M. Aan Mansyur memasukkan dirinya sendiri ke dalam karyanya ini. Narsis cara baru. Dengan kata lain:

Narsis lvl: M. Aan Mansyur

Tapi seberapa narsis pun seorang penulis, tentu bisa dimaafkan apabila karyanya bisa dinikmati. Dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi ini memang bisa dinikmati. Empat bintang untuk cara bertutur M. Aan Mansyur yang dengan jalinan kalimat yang indah. Dan tentu saja, banyak kalimat bagus untuk dikutip. :))

***

The Perks of Being a Wallflower

*

Dear, Charlie.

Masa lalu yang buruk memang begitu, ia suka berdiam lama dalam kepala dan menakut-nakuti diri kita untuk melangkah ke masa depan. Bahkan, menakut-nakuti diri kita ketika menjalani saat sekarang. Yang saya tahu, seberapa kuat masa lalu memengaruhi kita ditentukan oleh seberapa kuat diri kita untuk melawannya.

Iya. Awalnya saya pikir bahwa masa lalu itu perlu dilawan.

Dan setelah membaca surat-suratmu, saya tahu bahwa masa lalu bukan untuk dilawan tetapi diterima lalu dijadikan kawan. Apalagi oleh orang yang berperasaan halus sepertimu. Melawan (baik dengan kekerasan fisik atau kata-kata), tentu menjadi pilihan terakhirmu untuk menyelesaikan masalah. Saya setuju.

Mengenai ‘melawan’ saya sempat terkejut ketika kamu membela Patrick sedemikian hebat hingga membuat semua orang seperti tak percaya. Orang yang terlihat lemah dan cengeng ternyata bisa mengayunkan tinju. Wow!

Sampaikan salam saya kepada Patrick, dan Sam. Mereka adalah tipe sahabat yang juga ingin saya miliki. Setia, menerima apa adanya, membuat kamu merasa lebih baik. Membuat kamu merasa bahwa kamu tidak sendirian, khususnya ketika orang-orang menganggapmu aneh. Bersyukurlah karena kamu punya mereka.

Charlie, kita tahu bahwa tidak semua orang bisa diajak bicara. Sehingga menemukan seseorang yang bisa dijadikan teman bicara seperti mendapatkan hadiah tanpa kita minta. Saya menganggap kamu teman, kalau kamu tak keberatan. Saya suka mendengar cerita-ceritamu. Kamu menyampaikannya dengan jujur dan sederhana. Sesuatu yang sulit ditemui belakangan ini. Tetaplah menulis cerita-cerita yang membuat saya tersenyum, merenung, dan cerita-cerita tabu (yang takut dibicarakan oleh orang lain). Tabu seperti masturbasi, minuman keras, obat-obatan terlarang, dan pelecehan seksual yang kerap terjadi di depan mata tetapi tak disadari. Saya perlu merasa bahwa dunia ini tidak baik, tidak sebaik yang didengungkan. Sulit untuk melihat adanya perubahan ke arah yang lebih baik ketika semua orang menganggap segala sesuatunya sudah baik.

Sebagai orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, saya tahu kamu paham maksud saya.

Tetaplah menulis, tetaplah jujur. Tetaplah berusaha menyenangkan semua orang, namun kali ini dengan tambahan: jangan lupa untuk juga menyenangkan diri sendiri. Bukankah bahagia itu untuk dibagi. Dan berbagi berarti kamu juga mendapat bagian.

Tetaplah menyukai Sam, terkadang memiliki seseorang untuk disukai membuat kita waras. Tetaplah berharap kabar darinya meski kini kalian terpisah jarak. Tetaplah menjaga perasaan-perasaan dan orang-orang yang menurutmu penting. Jangan biarkan orang lain membuatmu melakukan apa yang tak kamu kehendaki. Tetaplah menjadi seseorang yang bebas.

Charlie, meskipun kamu mengucapkan salam perpisahan di suratmu yang terakhir, kamu tahu saya akan tetap di sini. Membaca buku-buku yang kamu suka, sembari menunggu cerita-ceritamu tentang buku-buku yang lain. Ah, betapa banyak yang bisa saya ambil dari kamu. Semoga begitu juga sebaliknya.

Untuk itu, saya berterima kasih tetapi saya tetap menunggu.

Love,

M

***

img_0052

Judul: The Perks of Being a Wallflower

Penulis: Stephen Chbosky

Penerbit: MTV Books and Pocket Books

Tahun terbit: Februari 1999

Jumlah halaman: 213

ISBN: 0671027344

 

***

Cuma Sapardi yang Boleh Menulis Hujan Bulan Juni

IMG_7825

Judul: Hujan Bulan Juni
Penulis: Sapardi Djoko Damono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Juni, 2015
Jumlah Halaman: 133
ISBN: 9786020318431
Blurb:
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.

Bagaimana mungkin.

*

Ada perkataan, cuma Sapardi yang boleh menulis seperti ini. Mau tak mau ikut tersenyum juga membaca kalimat tersebut.

Jika berbicara mengenai konflik yang disajikan, saya setuju bahwa novel ini terlalu kecil untuk (nama) Sapardi yang mega. Hujan Bulan Juni versi novel, bercerita tentang sepasang kekasih yang berbeda budaya dan agama. Meski berkali-kali dinarasikan bahwa kedua orang ini mengatakan ‘ya’ atas lamaran kekasihnya, toh mereka tak kunjung menikah karena masih belum menemukan jalan keluar atas perbedaan tersebut.

Tetapi di lain pihak, novel ini menawarkan cara bercerita yang asyik. Kocak. Digambarkan melalui kedua tokoh utamanya di beberapa adegan. Misalnya, ketika mereka melakukan perjalanan darat dari Menado (Sapardi dan Mirna Yulistianti menggunakan Menado, bukan Manado) ke Gorontalo. Perjalanan darat merupakan ide Sarwono yang mencoba mencuri-curi kesempatan.

“… delapan sampai sepuluh jam menyusuri pantai utara Sulawesi pasti memberinya kesempatan sangat lapang untuk menyudutkan Pingkan agar mau tak mau menjawab ‘ya’ kalau nanti dilamarnya di perjalanan. Kalaupun bukan karena setuju, setidaknya karena sudah merasa capek sehingga bilang ‘ya’ saja. Hehehe.” –hal.28

Yup, lengkap dengan ‘hehehe’. Bagaimana tidak tersenyum coba? Hehehe.

Lain Sarwono lain pula Pingkan. Kekocakan Pingkan digambarkan melalui celetukan-celetukan pendek. Salah satunya ketika Sarwono mengirim pesan melalui WhatsApp (WA) yang mengatakan bahwa ia merindukan Pingkan. Atas pesan tersebut, perempuan yang bingung dengan asal usulnya ini menjawab, “Sedaaap.”

Penyajian yang kocak, membuat kisah mengenai perbedaan latar belakang seperti yang dialami Sarwono dan Pingkan–yang sebenarnya bisa diceritakan sebagai sesuatu yang demikian pelik—dibawa  Sapardi menjadi lebih mudah dinikmati. Ringan. Ringan sekali, sampai-sampai saya dibuat tak lagi mementingkan apakah pada akhirnya mereka berhasil menikah atau tidak. Yang lebih penting dari itu adalah dengan cara apa lagi mereka menikmati waktu bersama selama mungkin. Live for the moment.

Selain kocak dan ringan, novel ini juga sangat kekinian. Banyak WA dan selfi bertebaran di sepanjang narasi.

Sarwono membalas WA itu dengan selfi yang merekam tampangnya dengan dagu …
WA pertama yang diterimanya dari Pingkan disertai selfi bersama …
Toar suka terharu membaca WA adiknya yang berulang kali …

Kekinian bingitz, kan?! 😀

Selain konflik dan gaya bercerita, pastinya ada isu-isu tertentu yang diangkat. Misalnya, selain sebagai dosen, Sarwono menulis puisi. Menurut Pingkan, Sarwono ini cengeng, juga jualan gombal melalui puisi. Puisi jualan gombal? Hmm.. Ini menarik.

Selain itu, yang lebih utama, tentu saja mengenai kenusantaraan. Pingkan ini orang Menado atau orang Jawa, sih? Ayahnya Tonsea (Menado), tetapi ibunya lama tinggal di Makassar sebagai perantau dari Solo. Perihal ini, kerap menjadi bahan candaan antara Sarwono dan Pingkan.

“Ayah pernah bilang dari mana pun asal usul Ibu terserah, bukan masalah, asal tidak dari Neraka.” -hal.18

Terakhir, tentu saja puisi. Karena apalah Sapardi tanpa puisi. Di halaman 44-45 serta halaman 66 ada satu kalimat panjang tanpa tanda baca. Kalimat sangat panjang yang ketika dibaca, saya simpulkan bahwa ini adalah puisi. Karena rasa puisi.

Pun puisi berjudul Tiga Sajak Kecil kemudian menutup novel ini.

Secara keseluruhan, Hujan Bulan Juni adalah bacaan yang menyenangkan. Bolehlah tiga bintang untuk Sarwono yang koplak.

***

Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta


Judul: Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta
Penulis: Herdiana Hakim
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: Maret, 2015
Jumlah Halaman: 304
ISBN: 9797807916
Blurb:
Di sebuah kota lama bernama Jepara, aku belajar makna cinta yang sesungguhnya. Juga bahwa manusia tidak sempurna, dan cinta selalu memilih jalannya.
*
Jika hidup mengecewakanmu, apa yang akan kau lakukan? Jenny Ayu Maharani memilih melarikan diri. Sejauh mungkin. Ternyata, semesta berkata lain. Ia tidak hanya melintasi jarak, tetapi juga waktu, ke sebuah kota lama bernama Jepara.
Kala puncak karier dan kebahagiaan sudah di depan mata, Jenny mendapati dirinya terpuruk ke lubang terdalam. Segala harapannya padam.
Di tengah kekalutan itu, ia bertemu Diana Danika, pengagum Raden Ajeng Kartini yang seolah bisa membaca pikirannya. Bersama Diana, ia melarikan diri dari realitas rumit yang membelit. Namun, entah bagaimana, alunan suara ganjil melemparkan Jenny melintasi tempat dan waktu—bertemu sang Putri Jepara.
Dua perempuan berbeda masa pun seakan ditakdirkan bertemu, berbagi kisah yang tak pernah usang, tentang hidup, cinta, dan impian. Ketika masa lalu lebih indah daripada masa kini, haruskah Jenny kembali?

*

“Tidak semua ambisi kita harus dikejar. Kadang, kita juga perlu berkorban untuk orang-orang yang kita sayangi.”—hal. 240

Jadi perempuan manja, salah. Jadi perempuan mandiri, juga salah. Jadi salah kalau berlebihan, ya. Paling pas itu memang yang sedang-sedang saja. Halah. :’D

Jenny adalah salah satu contoh perempuan yang mandiri banget. Banget. Saking mandirinya bahkan ia jarang pulang ke Bogor bertemu ibunya, karena fokus mengejar karir di Jakarta. Sekalinya memutuskan untuk pulang, adalah karena mendapat berita bahwa ibunya terserang stroke ringan. Oh, my.

Di Bogor, selain berhadapan dengan ibunya yang sedang sakit, Jenny juga dihadapkan pada kemungkinan bertemu ayahnya yang sudah bertahun-tahun pergi meninggalkan mereka berdua. Kepergian ayahnya bertahun-tahun lalu meninggalkan luka mendalam karena Jenny beranggapan bahwa ayahnya lebih memilih perempuan lain daripada ia dan ibunya.

Karena merasa belum siap bertemu sang ayah, Jenny berpikir untuk menghindar. Pada saat itulah, ia teringat brosur wisata Napak Tilas Kartini milik Diana, teman kantornya. Pada saat mendesak, Jenny tidak sempat memikirkan cara lain untuk menghindari ayahnya selain ikut perjalanan tersebut.

Begitulah, cerita tentang Kota Lama pun dimulai.

*

Kalau biasanya pembaca dihadapkan pada novel tentang perempuan lemah yang kemudian harus menjadi kuat karena menghadapi permasalahan tertentu, di novel ini justru sebaliknya. Jenny adalah sosok alpha. Kuat. Dominan. Terbiasa pegang kendali dan perfeksionis. Saking dominannya, ia berusaha untuk teguh pendirian mengenai akan hidup sendiri selamanya dan tidak akan memaafkan ayahnya.

Tapi si tokoh utama ini malah ‘dipaksa’ untuk menurunkan standar/mengubah prinsip demi kebahagiaan dirinya dan orang di sekitarnya. Di bagian ini, terjawab mengapa novel ini menyandingkan Jenny dengan Kartini.

Kedua perempuan alpha ini ternyata sama-sama ‘dipaksa’ menurunkan standar mereka demi membahagiakan orang lain. Menurunkan standar. Kartini, akhirnya bersedia menikah dan dimadu. Meski ia menjadi satu-satunya istri resmi (istri resmi kedua, setelah istri resmi Djojoadiningrat yang pertama meninggal dunia), tetapi sang suami juga memiliki tiga garwa ampil alias selir. Tadinya, Kartini berkeras tidak mau dipoligami. Ia sangat benci praktik poligami, meskipun ayahnya sendiri adalah pelaku poligami. Hehe. Tapi toh akhirnya, ia tunduk juga. Bersedia dimadu karena ingin membahagiakan ayahnya. Ya, ayahnya jauh lebih menginginkan pernikahan itu terjadi daripada Kartini sendiri.

Hidup bersama Kartini selama empat tahun (1900-1904), Jenny diperlihatkan mengenai bagaimana semangat seorang Kartini memajukan sesama. Sangat berbeda dengan Jenny yang hanya memikirkan diri sendiri. Juga bagaimana Kartini akhirnya menyerah, dan menerima pinangan laki-laki yang kelak menjadi suaminya. Demi membahagiakan ayahnya, bukan membahagiakan dirinya.

Dan keputusan-keputusan lain.

Kartini menjadi semacam panutan bagi Jenny untuk mengambil keputusan bagi hidupnya di masa sekarang.

*

Buruknya, pengetahuan saya tentang Kartini hanya sebatas, Jepara, emansipasi dan Habis Gelap Terbitlah Terang. Jadi saya tidak tahu apakah kalimat di halaman 240, yang saya kutip di awal review ini, yang dalam cerita diucapkan oleh Kartini, benar-benar pernah ia ucapkan di dunia nyata. Juga kalimat-kalimat layak-kutip lainnya. Namun, minimnya pengetahuan saya tentang Kartini justru membuat saya seperti membaca sesuatu yang baru. Fresh. Saya bisa menikmati setiap adegan tanpa terpengaruh apa yang telah saya ketahui sebelumnya.

Dan yang paling penting, karena membaca novel ini, saya jadi ingin segera membuka halaman demi halaman Habis Gelap Terbitlah Terang dan Panggil Aku Kartini Saja, yang sudah saya punya sejak lama. Karena sama seperti Jenny yang kagok ketika harus kembali ke masa sekarang, saya juga ingin kembali mengunjungi masa-masa itu. Barangkali membaca surat-surat Kartini bisa mengobati rasa rindu saya.

Bagaimana tidak, lebih dari separuh novel ini menceritakan Tiga Serangkai: Kartini, Kardinah, dan Roekmini, serta kehidupan mereka di zaman itu. Saya susah terbiasa dengan deskripsi mengenai kain dan kebaya, nama-nama tokoh yang biasanya hanya bisa dibaca di buku pelajaran sejarah, dan aktivitas, tradisi serta kemeriahan acara-acara besar di zaman itu.

Deskripsinya bagus, dan berhasil membawa saya ke sana.

Apalagi gaya penceritaan Herdiana Hakim nggak mendayu-dayu. Jalinan kalimatnya tegas. Semakin menguatkan sosok alpha dalam diri Jenny.

*

Dari profil penulis di halaman belakang novel, saya tahu bahwa ini adalah novel perdana Herdiana Hakim. WOW. Dengan detail yang keren mengenai Kartini and all, saya benar-benar salut dengan karya perdananya. Rasanya nggak berlebihan kalau saya apresiasi Kota Lama & Sepotong Cerita Cinta dengan memberi lima bintang. *jempol*

*

Beberapa kutipan favorit:

Jenny: Aku setuju. Jadi bukan jabatan, gelar, atau harta seseorang yang menjadikannya bangsawan… | Kartini:  …melainkan hati dan nuraninya. –hal.142

Kartini: Seharusnya, orang bisa banyak belajar dari sejarah, hanya saja penyajian dalam buku pelajaran yang ada kurang menarik. –hal.216

Jenny: Dari dulu aku hanya memusingkan definisi cinta. Sebenarnya, siapa yang peduli? Yang penting, saat aku merasa nyaman bersama seseorang, aku hanya ingin orang itu ada dalam hidupku sampai aku mati. –hal.301

***

 

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran

Judul: Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran
Penulis: Mark Haddon
Penerbit: KPG
Tahun terbit: Juli 2012
Jumlah halaman: 344
ISBN: 9789799104779
Blurb:

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran merupakan novel misteri pembunuhan yang lain daripada yang lain.

Sang detektif, sekaligus pencerita, bernama Christopher Boone. Christopher berusia limabelas tahun dan dia menyandang Sindrom Asperger, sejenis autisme. Dia mahir komputer dan memecahkan soal-soal matematika, tapi kikuk berhubungan dengan orang lain. Dia senang segala sesuatu berjalan teratur terpola, dan masuk akal, tapi benci warna kuning dan cokelat. Dia belum pernah bepergian seorang diri lebih jauh daripada ke ujung jalan rumahnya, tapi ketika menemukan anjing tetangganya mati terbunuh, dia pun menempuh perjalanan menakutkan yang akan menjungkirbalikkan seluruh dunianya.

*

Ini gara-gara anjing mati, ceritanya jadi ke mana-mana. x))) In a good way tentunya.

Pada novel Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran (untuk selanjutnya disebut Insiden Anjing), setelah menemukan anjing tetangganya mati, Christopher memulai ‘tugas’ sebagai detektif untuk menemukan siapa pembunuh anjing tersebut. Hasil penyelidikan tersebut ia tuliskan dalam sebuah buku (ceritanya, novel ini adalah buku itu). Proses pencarian itu ternyata tidak mulus, dan cerita mengenai usaha itu malah terdistraksi cerita lain. Cerita tentang Christopher dan ayah-ibunya.

Sama dengan novel pada umumnya bahwa sebuah cerita pembuka hanyalah cerita pembuka–karena keseluruhan novel tentu berbicara lebih banyak daripada sekadar cerita pembuka itu– di sini pun, insiden kematian anjing bernama Wellington tersebut hanya ‘pintu’ bagi pembaca untuk menyelami kehidupan si tokoh utama.

*

Yang menarik dari novel ini adalah kesukaan si tokoh utama akan matematika, dan dengan alasan tertentu ia memberi nomor bab menggunakan bilangan prima. Unik, baru kali ini saya membaca novel yang dimulai dari bab 2 lalu langsung lompat ke bab 3, 5, 7, 11, dst. Coba deh, kalau dikonversi ke penomoran bab yang ‘normal’, bab terakhir (bab 233) sama dengan bab berapa? Hehe..

Ya, awalnya saya pikir ini tipe novel yang babnya diacak, ternyata memang disengaja seperti itu.

Hal lain yang menarik bagi saya adalah dengan deskripsi yang sangat detail mengenai mengapa Christopher melakukan suatu hal, saya justru merasa Christopher ini sangat cute. Saya kerap tersenyum-senyum ‘mendengar’ seorang pemilik sindrom Asperger berbicara dan menceritakan segala hal menggunakan logika mereka. Banyak yg membuat saya menggumam,
“Iya, juga ya.”
“Oh, jadi menurut mereka seperti itu.”
“Sebenarnya mereka dan kita tidak seberbeda itu.”

Menurut logikanya juga, ada perbedaan mendasar antara metafora, simile, dan white-lie (tentang ini, mungkin akan saya bahas lebih lengkap sebagai tulisan tersendiri).

Selalu suka baca cerita yang tokoh utamanya ‘lain’. Terlebih lagi, jalinan kalimatnya enak dibaca. Tidak 100% baku, karena di beberapa bagian akan ditemukan ‘nangis’ bukannya ‘menangis’, dsb. Tapi rasanya itu malah membuat novel berat ini jadi terkesan ringan.

*

Insiden Anjing menjadi ‘anggota’ terbaru dalam daftar novel yang tak disangka-sangka ternyata bagus. Kenapa tak disangka-sangka? Karena saya membeli novel ini secara random. Tidak ada ekspektasi apa-apa, tidak mencari tahu melalui Goodreads, tidak ada usaha mencari info/resensi/apa pun terkait novel ini. Yang membuat saya memutuskan membeli adalah judul dan sampulnya. Saking minimnya (keinginan saya untuk mencari) informasi, saya baru tahu setelah membaca 20 halaman pertama–dan merasa bahwa tokoh aku ini agak istimewa, kemudian saya membaca blurb dan kecurigaan itu terbukti benar–bahwa Christopher ternyata mengidap Sindrom Asperger.

Selain tokoh utama yang berhasil menjadi tokoh utama, dua tokoh lain juga menarik perhatian. Siapa lagi kalau bukan orangtua Christopher. Bagaimana tantangannya mengasuh seorang anak yang tidak suka disentuh, bisa diam–benar-benar diam–selama berjam-jam, atau berteriak tiba-tiba? Juga sedikit bicara sehingga tak banyak orang paham apa yang sedang terjadi dalam kepalanya. Sang ayah berusaha menjadi ayah yang baik meski tak sempurna. Sebaliknya, sang ibu menyerah di awal, meski pada akhirnya ia menyadari bahwa Christopher adalah cintanya. ❤

Secara keseluruhan, Insiden Anjing memberi efek heart-warming.

Akhir novel ini menurut saya belum selesai untuk cerita mengenai Christopher–dan kalau mau diselesaikan ya akan sampai kisah hampir-mati Christopher–tapi setidaknya, misteri kematian Wellington sebagai garis besar novel ini berhasil terjawab. Artinya tugas Christopher sebagai detektif selesai, artinya lagi, ia sudah bisa mengakhiri buku yang ia tulis.

*

Ngomong-ngomong, yang saya baca adalah versi terjemahan, jadi terima kasih untuk penerjemahnya. Pekerjaan yang tidak mudah pastinya.

Lima bintang tanpa ragu untuk Insiden Anjing. Keren!

***

Btw, review ini saya ikutkan dalam Reading Challenge @MondayFF bulan November dengan tema: buku yang kamu suka banget, sulit mendapatkannya, dan tidak akan kamu pinjamkan kepada orang lain. Sebenarnya agak sulit memenuhi kriteria ini, karena saya punya banyaaaakkk sekali buku favorit. Tetapi Insiden Anjing adalah anggota terbaru dalam rak buku-favorit saya, so, yes, semoga buku ini memenuhi kriteria tema yang ditentukan. 🙂

[Jas Putih] Merenungkan Kembali Kesungguhan Menjalankan Profesi

Judul: Jas Putih
Penulis: Ni Komang Ariani
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tahun terbit: November, 2014
Jumlah Halaman: 232
ISBN: 9786020251882
Blurb:
Yama terlihat seperti seorang calon suami idaman, seorang dokter anak yang sedang menanjak kariernya. Too good to be true. Bahkan terasa terlalu sempurna bagi Kay. Kenyataan itu membuat Kay merinding. Dan entah kenapa, dia juga merasa bimbang.

Ketika akhirnya kebimbangan Kay pupus, dan ia begitu yakin Yama akan membawanya ke rumah hangat yang diimpikannya, Kay dihadapkan pada kenyataan yang sangat mengejutkan tentang Yama. Dendam masa kecil membuat laki-laki itu menjelma menjadi monster. Kay merasa hari-harinya dipayungi awan gelap yang tidak pernah berakhir. Betapa inginnya ia menemukan udara segar yang bisa mengembalikan hidupnya. Mungkinkah Sunu, laki-laki beraroma segar tetumbuhan, bisa menyelamatkannya?

*

Jas Putih bercerita tentang Kay dan Yama. Bagaimana mereka berpacaran hingga Yama akhirnya memutuskan bahwa Kay adalah calon istri yang tepat baginya. Sudah berkali-kali Yama mengajak Kay menikah, tetapi jawaban Kay selalu kebisuan. Kay tidak menjawab iya atau tidak. Ia mencintai Yama tetapi ada setitik keraguan dalam hatinya yang membuat Kay tidak kunjung mengiyakan ajakan laki-laki itu untuk menikah.

Hingga akhirnya, Yama yang seorang dokter terkenal, terjerumus dalam emosi sesaat. Akibatnya ia terpuruk dan frustasi. Karena kegagalannya mengontrol emosi tersebut jugalah, Kay memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Meskipun seharusnya Kay berbahagia karena ia tidak jadi menikahi Yama yang ternyata tak sebaik sangkaannya, sebagai seorang perempuan tetap saja Kay merasa kecewa dan berduka hati. Hingga ia memilih untuk menyepi di Bali bersama sahabatnya, Melly. Dengan harapan, sunyi alam pedesaan bisa mengembalikan gairah hidup Kay yang sempat jatuh. Di tempat sunyi tersebut, mereka mengenal Sunu, seorang pemuda desa yang lebih memilih untuk menjadi petani daripada bekerja kantoran dan menghasilkan banyak uang. Dari Sunu, Kay belajar banyak hal, terutama tentang pilihan-pilihan dalam hidup.

*

Barangkali kita tak pernah mengenal orang lain dengan baik. Bahkan untuk mengenal diri sendiri, kita harus melalui banyak hal. Seumur hidup rasanya tak cukup untuk mengetahui apa isi kepala kita sendiri. Begitu juga dengan Kay. Lima tahun berpacaran dengan Yama, tak serta merta membuat Kay mengenal kekasihnya luar dalam. Bahkan dalam beberapa kesempatan, sahabatnya Melly kerap mengingatkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam diri Yama, dan peringatan tersebut tidak digubris oleh Kay, hingga akhirnya ia mengalami sendiri sesuatu-yang-salah tersebut, dan hal itu menjadi dasar bagi Kay untuk memutuskan apakah ia akan menerima pinangan Yama atau tidak.

Ketika pertama kali mengetahui novel ini, yang menarik perhatian saya adalah nama penulisnya. Ni Komang Ariani. Bali banget. *salaman* 😀 Dan hal tersebut membuat keinginan saya untuk membaca Jas Putih, semakin besar (harapan terhadap buku ini juga semakin besar). Nama penulisnya sendiri lebih dahulu saya ketahui dari jualbukusastra.com. Ada beberapa buku karya beliau yang dijual di sana, dan sudah lama ingin saya miliki (akhirnya kesampaian dengan membeli langsung dari penulisnya!). Terlebih lagi, semua buku yang dijual di jualbukusastra.com, rasanya bisa menjadi referensi buku-buku wajib-baca.

Dari semua karya beliau, saya putuskan untuk membaca yang terbaru.

Harapan saya tercapai. Yang menyenangkan dari novel Jas Putih ini adalah gaya tulisan yang sederhana tapi (meninggalkan kesan yang) dalam. Gaya tulisan seperti ini rasanya khas majalah Femina karena dulunya novel ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di majalah tersebut. Tokoh-tokohnya juga menarik. Karakternya kuat terutama Yama, Melly dan Sunu. Kuat, maksudnya menonjol, ya. Yama dengan semangatnya untuk mengubah hidup dari miskin ke banyak harta. Melly yang realistis mengenai kelanjutan hidupnya setelah berpisah dari sang suami, dan Sunu yang down to earth. Justru Kay yang tampak datar. Bisa dimaklumi, karena Kay adalah tokoh yang mengalami masalah, jadi pembawaannya rada mellow.

Tidak ada tokoh yang too good to be true. Semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan itu membuat mereka tampak lebih nyata.

Hal menyenangkan lainnya dari novel ini adalah sebagian cerita berlatar tempat di Bali. Selain menjadi ajang untuk ‘pulang’, saya juga jadi tahu ada desa bernama Puhe. Puhe adalah desa tempat Kay dan Melly menyepi. Dari ceritanya, sih, Puhe bagus juga untuk dijadikan tempat tinggal bagi wisatawan yang ingin merasakan suasana Bali yang jauh dari hingar bingar Kuta, Nusa Dua juga Ubud, meskipun Puhe terletak sekitar lima kilometer dari Ubud.

Satu pertanyaan saya untuk Jas Putih: ada proofreader-nya atau tidak, ya? Karena banyak sekali terdapat kelebihan kata yang, ketika proses proofreading, seharusnya dicoret dan diperbaiki sebelum novel naik cetak. Tidak menganggu isi cerita, sih, cuma agak menganggu kenyamanan membaca.

Secara keseluruhan, Jas Putih termasuk novel yang wajib dibaca. Banyak hal yang menarik untuk direnungkan, khususnya sebelum mengambil keputusan terkait pekerjaan, harta, cinta, juga pernikahan. Hal-hal yang lekat di banyak orang.

4/5 bintang untuk Jas Putih, dan tentu saja akan membaca karya Ni Komang Ariani yang lain.

*

Beberapa kutipan seru di novel ini:

Kamu tidak jadi menikahi laki-laki yang tidak benar. Itu kemujuran. Keberuntungan. Kamu kok malah menganggapnya berantakan? –hal.2

Perceraian bukan berarti sesuatu yang parah, Kay. Bukankah segala yang mungkin membuat kita bahagia, layak untuk diperjuangkan. –hal.25

Dan kamu tidak pernah terlihat menangis sekalipun. Perempuan macam apa kamu? –hal.132

Kemiskinan dan kekayaan bisa membawa penderitaan. Aku memilih untuk tidak menderita. –hal. 170

***

[Midah Simanis Bergigi Emas] Ujian Perempuan

Judul: Midah Simanis Bergigi Emas
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tahun Terbit: Cetakan 5, Februari 2010
Jumlah Halaman: 132
ISBN: 978979973127

Blurb:

Midah, pada awalnya berasal dari keluarga terpandang dan berguna. Karena ketidakadilan dalam rumah, ia memilih kabur dan terhempas di tengah jalanan Jakarta tahun 50-an yang ganas. Ia tampil sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan “si manis bergigi emas” dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga…

*

Midah Simanis Bergigi Emas (selanjutnya disingkat Midah) ini merupakan buku pertama karya Pramoedya Ananta Toer yang saya baca. Dengan melihat nama penulisnya saja, saya sudah memiliki harapan yang tinggi sejak membuka halaman pertama Midah. Dan ternyata, harapan saya terpenuhi. Tidak tanggung-tanggung, novel ini saya ganjar dengan lima bintang di Goodreads.

Sesuai judulnya, buku ini menceritakan kehidupan Midah, utamanya mengenai keperkasaan Midah sebagai perempuan dengan banyak cobaan. Beberapa hal penting yang terjadi dalam hidupnya, antara lain: dianaktirikan oleh orangtuanya terutama karena kehadiran adik-adiknya, dijodohkan dengan laki-laki buncit yang ternyata sudah beristri, menolak menjadi madu sehingga Midah lebih memilih pergi dari suaminya lalu hidup di jalanan dalam keadaan hamil, menghidupi diri sendiri dan anaknya dengan menjadi penyanyi bersama rombongan pengamen dan tentu saja mendapat perlakuan tak baik, bertemu dengan laki-laki yang ia cintai tapi tak mencintainya. Sepertinya Pram ingin menunjukkan bahwa perempuan harus kuat dan tak boleh menyerah pada hidup (well, laki-laki juga, sih).

Ada beberapa tokoh penting dalam novel ini, misalnya: orangtua Midah (secara umum, sangat menyayangi Midah dan anak-anak mereka yang lain), Midah (bagi Midah, mungkin ia tidak sedang berlaku kuat tetapi hanya berusaha untuk tetap hidup dan dapat menghidupi anaknya, sedangkan bagi kita Midah ini pejuang luar biasa), Riah (pembantu di rumah orangtua Midah, menolong Midah ketika Midah pertama kali melarikan diri dari rumah suaminya yang buncit dan sudah beristri itu), ketua rombongan pengamen (menemukan Midah dan bersedia menerima Midah untuk menyanyi bersama rombongan pengamennya), Ahmad (laki-laki yang dicintai Midah, bukan orang yang bertanggung jawab).

Dari sekian banyak tokoh tersebut, yang paling menggelitik adalah tokoh Hadji Abdul, ayah Midah. Ia diceritakan sebagai orang yang taat beragama. Sehingga sebuah kaul pun dianggap sebagai dosa. Ketika itu, Hadji Abdul berkaul karena ingin memiliki anak kedua. Ketika ia menyadari bahwa kaul merupakan sebuah dosa, ternyata terlambat, istrinya keburu hamil. Sebagai ‘penebusan’ atas dosa kaul tersebut, Hadji Abdul memberikan segalanya untuk anaknya yang baru lahir tersebut. Jangan sampai anak titipan tuhan ini kekurangan sesuatu. Dimanjakan betul. Inilah yang membuat Midah menjadi terlupakan. Tetapi, memang dasar orangtua, seorang Hadji Abdul tetaplah menyayangi semua anaknya. Bahkan ketika ia tahu Midah sedang dalam kesulitan, ia menerima Midah di rumahnya kembali. Katanya dalam sebuah percakapan di halaman 69, “Dia anakku.” | “Tapi bapak kan seorang haji? Seorang saleh? Seorang beribadah?” | “Biar binatang sekalipun kalau dia anakku, dia tetap anakku.”

Dengan alur maju dan gaya penceritaan yang sederhana (awal-konflik-akhir), tidak membuat Midah menjadi membosankan. Saya suka jalinan kalimat Pram di sini. Intense. Membuat buku (yang memang tipis) ini habis dibaca dalam sekali duduk. Ending-nya tidak terlalu wow tetapi begitulah seharusnya. Karena sepanjang novel pembaca diajak ‘berlari’, sehingga ending yang tepat ya yang bisa mengajak pembaca kembali merasa santai.

Ah, seandainya saya bisa bertemu Pram, saya akan peluk beliau sambil membisiki, “Om Pram, untuk cobaan hidup Midah yang sebanyak itu, novelnya terlalu tipis. Jadi ceritanya terlalu padat. Tulis lagi edisi panjangnya, ya, Om. Please…”

Dasar pembaca! Sudah dikasih hati masih minta jantung. ^^

***

Ditulis untuk reading challenge MondayFlashFiction bulan Maret. Iya, ini reviu yang terlambat. Ehe.