Manuskrip yang Ditemukan di Accra

21402160

Judul: Manuskrip yang Ditemukan di Accra
Penulis: Paulo Coelho
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Maret 2014
ISBN: 9786020302799
Jumlah Halaman: 208
Blurb:

Apakah kesuksesan itu? Kesuksesan adalah bisa pergi tidur setiap malam dengan jiwa yang damai.

1099. Gerbang-gerbang Yerusalem tengah dikepung. Di dalam tembok kota, orang-orang berkumpul untuk mendengarkan kata-kata bijak seorang lelaki misterius yang dikenal sebagai sang Guru. Mereka bertanya tentang rasa takut, musuh, kekalahan, dan perjuangan; mereka merenungkan tekad untuk berubah, kebajikan dalam kesetiaan serta kesendirian; dan mereka mengajukan pertanyaan tentang keindahan, seks dan keluwesan, cinta, kebijaksanaan, dan masa depan. Dan berabad-abad kemudian, jawaban-jawaban orang bijak itu masih tetap berlaku sebagai rekam jejak nilai-nilai manusia yang tak lekang dimakan waktu.

Di tangan Paulo Coelho, Manuskrip yang Ditemukan Di Accra menunjukkan siapa diri kita; ketakutan dan harapan kita untuk masa depan berasal dari pengetahuan serta keyakinan yang ada dalam diri kita, bukan dari kesulitan yang mengepung kita.

*

“Kesetiaan berakar dari rasa hormat, dan rasa hormat adalah buahnya cinta.” –Hal. 173

Alasan pertama dan utama kenapa saya akhirnya mengambil Manuskrip yang Ditemukan di Accra (selanjutnya disebut Manuskrip) dari rak toko buku dan membawanya ke kasir adalah (nama) Paulo Coelho. Meskipun banyak orang barangkali belum pernah baca novelnya, tapi saya yakin mereka pernah dengar namanya. Dan setelah saya baca beberapa karya Paulo Coelho, saya sangat menyarankan orang-orang di masa hidupnya di dunia fana ini untuk membaca paling tidak satu novel Paulo Coelho. Saya pribadi, pertama kali mengenal Paulo Coelho melalui Sebelas Menit (Eleven Minutes) berkisah tentang seorang pelacur yang menemukan arti kenikmatan dalam rasa sakit. Halah.

Setelah Sebelas Menit, saya baca karya Paulo Coelho yang lain seperti Sang Alkemis, Veronika Memutuskan Mati, Brida, dan Sang Penyihir dari Portobello.

Kesukaan terhadap novel-novel Paulo Coelho itulah yang mengantarkan saya ke buku Manuskrip ini. Saya sebut ‘buku’ karena Manuskrip tidak masuk kategori novel menurut selera saya. Manuskrip tidak memiliki pembukaan, konflik, penyelesaian, dan akhir. Sesuai judulnya, Manuskrip merupakan sebuah teks yang ditulis berabad-abad lalu, ditemukan, dan dijadikan warisan sejarah. Oleh Paulo Coelho, teks tersebut disajikan kembali dalam bentuk buku. Yup, Manuskrip bukanlah tulisan asli Paulo Coelho.

Meski bukan novel, Manuskrip merupakan tulisan panjang dengan rentang waktu (penceritaan) yang sangat pendek. Hanya semalam, yaitu malam sebelum gerbang-gerbang Yerusalem dikepung. Orang-orang kota memutuskan untuk melawan, namun karena pada dasarnya mereka bukan tentara maka mereka memerlukan semacam motivasi sebelum memulai ‘perang’ keesokan harinya. Selain itu, karena merasa akan gugur dalam pertarungan tersebut, mereka perlu menegaskan kembali pemahaman mereka tentang arti hidup.

Sudah merasa diceramahi? 🙂

Disajikan dalam bentuk tanya jawab, Manuskrip menghadapkan masyarakat pada seseorang  yang dikenal dengan sebutan Guru. Rakyat bertanya tentang segala kegelisahan yang selama ini mereka rasakan kemudian Sang Guru, yang dalam hal ini bertindak ibarat motivator, menjawab pertanyaan tersebut dengan kalimat-kalimat motivasi–kalau nggak bisa dibilang ayat suci. Pertanyaan mereka pun bervariasi mulai dari perihal keindahan, kesendirian, cinta, seks, kematian, hingga masa depan. Saking menyeluruhnya tema pertanyaan yang diajukan, rasanya Manuskrip bisa dijadikan panduan hidup (di segala aspek). Ini kalau di Hindu bisa diibaratkan dengan Slokantara, nih. Semacam kitab etika. *segmented*

“Bila tak pernah sendirian, mana mungkin kau mengenal dirimu sendiri. Dan bila tak mengenal dirimu sendiri, kau pun mulai takut akan kekosongan.”
–Hal. 40

Dengan harapan yang tinggi akan karya-karya Paulo Coelho terdahulu, saya agak kecewa dengan Manuskrip. Mungkin lebih ke masanya yang kurang pas. Buku motivasi yang secara gamblang mencekoki kita dengan kalimat-kalimat indah seharusnya saya baca bertahun-tahun lalu, bersamaan dengan ketika saya menggemari serial Chicken Soup. Kalau sekarang, saya lebih menikmati panduan hidup yang disampaikan secara implisit melalui tokoh-tokoh dalam novel. Terlepas dari selera saya yang saat ini sedang tidak menikmati buku motivasi, Manuskrip tetaplah bacaan yang berguna. Banyak ilmu serta pencerahan-pencerahan, yang sebenarnya tak lekang oleh waktu, yang saya yakin penting untuk diketahui banyak orang.

Seandainya teks dalam Mansukrip ini terang-terangan disebut sebagai kitab suci maka lima bintang dari saya, tetapi karena bukan maka tiga bintang rasanya cukup. Nah, sejalan dengan itu, seandainya saya bisa bertemu Paulo Coelho, hal pertama yang akan saya tanyakan adalah, “Nggak berniat bikin agama baru, Om?”

***

Advertisements

Daftar Bacaan Oktober 2016

*

Sudah nggak paham lagi ada apa dengan bulan Agustus dan September karena kegiatan baca saya sangat berantakan. Bukan mau bilang kalau saya pembaca yang teratur atau apa, tapi dari sekian buku yang saya tetapkan di awal bulan, banyak yang akhirnya tidak terbaca. Seringnya, di tengah bulan bukannya baca sesuai daftar, tetapi malah tertarik dengan buku lain yang seakan minta banget buat dibaca. Entahlah. Apa membuat daftar merupakan ide yang buruk, atau saya hanya sekadar butuh penyegaran?

Penyegaran, seolah-olah membaca adalah kegiatan yang monoton dan membosankan, padahal sebagai hobi, membaca harus dilakukan dengan senang hati.

Sebentar, mau copas kata-kata Neil Gaiman dulu tentang membaca. Sebagai berikut:

“Saya percaya bahwa kita punya kewajiban untuk membaca karena merasa suka, baik membaca di area privat maupun di tempat umum. Kalau kita membaca untuk menyenangkan diri, kalau orang lain melihat kita membaca, kita akan paham, kita sedang mengasah imajinasi. Kita menunjukkan pada orang lain bahwa membaca adalah hal yang baik.”

Selain tentang membaca, Neil Gaiman juga berpendapat soal bahasa, sebagai berikut:

“Kita punya kewajiban untuk menggunakan bahasa. Mendorong diri kita: untuk menemukan arti sebuah kata dan bagaimana cara menyebarluaskan kata tersebut, untuk berkomunikasi dengan jelas, mengatakan apa yang kita maksud. Kita seharusnya tidak berusaha untuk membekukan bahasa, atau menganggap bahwa bahasa adalah benda mati yang harus dipuja melainkan kita harus memperlakukannya sebagai benda hidup, yang mengalir, yang meminjam kata, yang arti dan pelafalannya berubah seiring berjalannya waktu.”

Well, Neil Gaiman keren banget, tapi alasan saya membaca belum sampai ke yang serius macam meningkatkan kepintaran, mengembangkan kinerja otak, memerangi Alzheimer, menjadi lebih kritis, meningkatkan kemampuan menulis, bahkan sebagaimana kata Neil Gaiman di atas, saya belum segitu hebatnya untuk menjadi influencer kegiatan membaca.

Pada akhirnya, dari sekian banyak alasan orang membaca, yang paling relate buat saya adalah membaca, supaya tidak merasa sendiri atau kesepian.

*

Back to business, bulan Oktober katanya bulan horor karena ada perayaan Halloween, tapi untungnya tidak semua reading challenge mengambil tema yang seram-seram. Fiuh.

005

1. Cinta Memang Neraka (Love is Hell) –  Melissa Marr, Scott Westerfeld, Justine Larbalestier, Gabrielle Zevin, Laurie Faria Stolarz. Kumpulan cerpen horor karya beberapa penulis luar ini untuk baca bareng #Bacaisme dengan tema buku genre horor. 

2. Pasung Jiwa – Okky Madasari. Untuk #TantanganBacaGRI dari @bacaituseru bulan Oktober 2016 dengan tema buku yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. Novel ini sudah diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Gramedia dengan judul Bound.

3. Liburan Para Alien (Aliens On Vacation) – Clete Barrett Smith. Untuk reading challenge @MondayFF dengan teman buku yang judulnya terdiri dari tiga kata. Baru ngeh kalau novel ini adalah trilogi, dan belum yakin juga akan bisa dapat buku kedua dan ketiganya.

Siap menantang diri sendiri dengan berbagai tema? Yuk!

*

Bagi yang belum tahu, sebelumprolog adalah blog saya yang secara khusus didedikasikan untuk membicarakan buku. Sedangkan blog utama saya adalah mandewi.com. Sila berkunjung. Ada catatan tentang bagaimana menulis kalimat pertama yang cetar membahana di sana. :)

***

[Giveaway] – Kalimat Pertama Sebuah Cerita

*

Hai, giveaway saya hadir lagi. Kalau baca judulnya, barangkali sudah terbayang apa tema giveaway kali ini. Sudah? Belum?

Pertama-tama, baca dulu artikel berikut ini:

Menulis Kalimat Pertama Sebuah Cerita

Yes, saya berencana untuk membuat episode dua dari tulisan tersebut. Untuk itu, saya perlu bantuan kalian untuk membagikan kalimat pertama dari novel yang kalian baca. Kali ini saya membatasi hanya novel, ya. Jangan (kumpulan) cerpen, apalagi buku non-fiksi.

Saya akan pilih tiga orang pemenang yang kalimat pertama novelnya paling sesuai dengan (konsep) tulisan kalimat-pertama-episode-dua saya nantinya. Ketiga pemenang akan mendapatkan buku-buku berikut:

fullsizerender-2

1. Komik dari Twit-nya Raditya Dika (ilustrasi: Milfa Saadah) & Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain
2. Rahasia Selma (Linda Christanty) & How to Script a Kiss (proyek kumcer yang terinspirasi dari lagu-lagu grup band The Script)
3. Hari Tak Selamanya Malam – Suryawan WP

Hadiahnya lumayan ya untuk nambah-nambah isi rak buku. x)) Trus, bagaimana cara ikutan giveaway-nya. Yuk, simak yang berikut ini:
1. Follow dulu @mandewi di Twitter. *ketjup*
2. Bagikan info giveaway ini lewat berbagai media. Bebas. Jangan lupa tagar #GAKalimatPertama.
3. Pilih kalimat pertama paling keren dari novel-novel yang kalian baca, lalu sampaikan jawabannya di:

a. kolom komentar di bawah ini dengan menyertakan judul novel dan penulisnya, juga info akun media sosial kalian yang paling aktif; atau
b. twit kalimat pertama/twitpic halaman pertama novel tersebut, jangan lupa sertakan judul novel dan penulisnya, mention @mandewi, dan gunakan tagar #GAKalimatPertama.

4. Jawaban kalian saya tunggu sampai hari Jumat, 30 September 2016 pukul 22.30 WIB. Pengumuman pemenang, tanggal 3 Oktober 2016 di info giveaway ini juga (nanti akan diperbarui).

Yuk, buka-buka lagi novel koleksi kamu dan pilih kalimat pertama yang cetar membahana! Ditunggu~~

============

[Update: 3 Oktober 2016]

Dari 22 kalimat pertama yang sudah masuk untuk giveaway ini, saya memilih lima kalimat pertama (plus satu kalimat pertama dari saya pribari) untuk saya pakai di tulisan ini. Kelima kalimat pertama milik peserta giveaway yang saya pakai sekaligus menandakan bahwa kelima peserta tersebut berhak atas paket buku yang saya sediakan.

Selamat kepada:

@_loisninawati
@irfanaulia
@nindasyahfi
@afanditeguh
@indtari

Sila sampaikan data pengiriman ke email saya di mandewi.mandewi@gmail.com. Paket buku akan segera dikirim begitu data kelima peserta saya terima lengkap. Semoga  paket buku tersebut segera sampai di tangan kalian.

***

Daftar Bacaan September 2016

*

Bikin target sendiri, tapi tidak ditepati sendiri. Manusia~~

Iya, Agustus kemarin #TantanganBacaGRI dari Goodreads Indonesia (@bacaituseru) mengambil tema ‘buku yang berusia lebih dari seratus tahun’. Saya pun memilih Anna Karenina (pertama kali terbit tahun 1878) terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2007. Sebenarnya saya sudah pernah mencoba membaca Anna Karenina sebelumnya. Penasaran saja, karya klasik yang masih dibicarakan orang sampai sekarang berarti secara kualitas tidak perlu diragukan. Selain itu, juga karena pengin baca bukunya dulu sebelum nonton filmnya.

Lalu karena satu dan lain hal, tantangan baca itu nggak berhasil ditaklukkan. Bahkan sampai tanggal 5 September ini saya baru sampai di halaman 380 dari 500an halaman. Lambat banget.

Anna Karenina, bagus sih. Tapi detail-nya agak membosankan karena melibatkan politik zaman dulu, membosankan karena tema seperti itu bukan kegemaran saya. Sebaliknya, buat yang suka sejarah dan politik, tentu akan suka. Makanya, saya bacanya fokus ke kisah cinta antara Anna Karenina dan Vronskii aja, deh. Lebih ringan daripada urusan kebangsawanan, bisnis, politik dan sebagainya. Barangkali nggak semua film adaptasi novel harus saya tonton setelah baca bukunya. Agak sulit terwujud kalau tetap memaksakan diri.

Selain tentang Anna Karenina, dua kalimat tadi juga bisa saya terapkan pada film Me Before You. Begitu tahu bahwa film ini berdasarkan novel (best seller pula), langsung deh timbul keinginan untuk baca novelnya dulu. Tapi tapi tapi, bukunya belum terbeli tapi filmnya sudah tayang. Ya sudah lah yaa, akhirnya kemarin saya nonton Me Before You. 😀 Alasan utama untuk nonton film ini tentunya karena genrenya romance, kedua karena adaptasi novel, terakhir karena terpengaruh iklan yang bilang bahwa ini film bagus.

Well, review Me Before You dari penonton yang belum baca novelnya, bisa saya ringkas sebagai berikut: Me Before You adalah tontonan yang menyenangkan, dari awal sampai akhir. Utamanya karena tokoh Louisa yang nyentrik abis, plus cerewet. Sebaliknya tokoh Will yang menjadi pahit karena mengalami hidup juga lumayan, hmm kurang judes sih tapi cukup. Konfliknya meski agak mainstream tapi bagus, yang bikin sedikit berbeda tentu keputusan Will yang tidak bisa diganggu gugat. Gambarnya kece. Memanjakan mata. Love banget. ❤ Bagi yang suka film drama, boleh lah nonton Me Before You.

Nah, berhubung novel Me Before You tidak akan masuk daftar bacaan bulanan dalam waktu dekat, yuk pilah pilih buku lain sebagai daftar bacaan September 2016. Tapi ingat, jangan sampai target yang dibikin sendiri malah dilanggar sendiri ya.

FullSizeRender

1. Wonder (R. J. Palacio).

2. Of Love and Other Demons (Gabriel Garcia Marquez). Agak nggak yakin apakah ini adalah kisah roman dan mengandung unsur ‘kasih tak sampai’, tapi akan dicoba dulu membaca buku ini untuk baca bareng @_bacaisme September 2016 dengan tema ‘kasih tak sampai’. Kalau ada, berarti nggak perlu ganti buku.

3. Manuskrip yang Ditemukan di Accra (Paulo Coelho). Karena tipis, maka ini didedikasikan untuk reading challenge dari @MondayFF dengan tema: ‘buku yang punya lebih dari 150 halaman’.

Satu lagi reading challenge yang belum ditentukan bukunya apa, yaitu #tantanganbacaGRI September 2016. Tema untuk September adalah buku yang dipinjam dari perpustakaan. Artinya harus ke perpustakaan dulu baru pilih buku yang hendak dibaca, sedangkan sampai sekarang belum tahu kapan akan ke perpustakaan. Let’s see aja perpustakaan mana yang akan kedatangan saya di bulan September ini.

Kalau kalian, ada rencana baca apa di bulan September ini? Share, dooong… :’D

*

Bagi yang belum tahu, sebelumprolog adalah blog saya yang secara khusus didedikasikan untuk membicarakan buku. Sedangkan blog utama saya adalah mandewi.com. Sila berkunjung. Ada catatan perjalanan saya ke Dataran Tinggi Dieng di sana. :)

***

Sesi Motivasi/Konsultasi Bersama @alexandrarheaw

268

Judul: Twivortiare 2
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit: Desember 2014
Jumlah halaman: 488
ISBN: 9786020311364
Blurb:

“You know you’re in love with the right person when falling in love with him turns you into the best version of yourself.”

Setiap pasangan punya cerita masing-masing, kadang manis, kadang juga pahit. Enam tahun setelah Divortiare dan dua tahun setelah Twivortiare, Alexandra dan Beno kembali hadir melalui akun Twitter @alexandrarheaw. Melalui buku ini, kita kembali diajak “mengintip” kehidupan mereka sehari-hari, pemikiran Alexandra yang witty dan selalu apa adanya, bahkan merasakan langsung interaksi antar karakter-karakter yang diceritakannya. Membaca Twivortiare 2 seperti mendengarkan sahabat sendiri bercerita tentang manis dan pahitnya hidup, tentang pilihan, kesalahan masa lalu, dan tentang makna sesungguhnya dari kesempatan kedua.

*

Pengin tahu rasanya follow cuma satu akun di Twitter? Coba baca Twivortiare dan Twivortiare 2 karya Ika Natassa, karena novel-novel tersebut disajikan dalam bentuk kumpulan twit dari akun si tokoh utama, Alex (@alexandrarheaw). Ketika baca Twivortiare dulu, nggak nyangka akan ada lanjutannya. Jadi begitu Twivortiare 2 terbit, penasaran ingin baca.

Untuk Twivortiare 2, rentang waktu ceritanya hampir dua tahun. Tahun pertama, cerita lebih ditekankan pada usaha Alex dan Beno yang ingin segera punya anak tetapi tak kunjung berhasil. Kekecewaan Alex setiap kali mendapatkan siklus bulanannya diperparah dengan tuntutan kerabat yang kerap kali bertanya “Sudah ‘isi’ belum?”

Lalu twit mengenai tuntutan kerabatnya tersebut diikuti serangkaian twit motivasi mengenai kesabaran dan kepasrahan.

“When you reach a certain age, your maternal/paternal instinct just arise. You just started to love playing with babies, holding them.” –hal. 79

Agak repetitif juga ketika beberapa kali Alex mengungkapkan kekecewaannya setiap kali datang bulan. Untungnya, twit Alex diselingi dengan cerita (kalau nggak bisa dibilang racauan) tentang kehidupan sehari-hari, khususnya menyangkut pekerjaan dan rumah tangga. Mengenai pekerjaan, Alex termasuk yang sering mengeluhkan situasi rapat yang bertele-tele, dan sebagainya. Kalau mengingat betapa media sosial (katanya) dijadikan alat bagi bagian HRD suatu perusahaan untuk memantau (calon) pekerjanya, agak geleng-geleng juga melihat betapa Alex seterbuka itu mengeluhkan kondisinya di kantor. Meskipun sering juga Alex menceritakan sisi positif kantornya, tapi tentu kecenderungan manusia adalah lebih mudah mengingat hal buruk dibandingkan hal baik. Setiap baca twit Alex yang mengeluhkan kantor, saya jadi ingat twit keluhan di akun sendiri dan mendadak, “Oh, begini toh rasanya jadi followers yang baca keluhan saya. Haha..” Semacam bercermin gitu, deh.

Kemudian, mengenai rumah tangga. Nah ini yang saya suka. Karena banyak sekali cerita tentang kelakukan Beno di Twivortiare 2. Mulai dari yang remeh macam hobinya makan Bengbeng, sampai beratnya pekerjaan sebagai dokter bedah yang lumayan sering dapat panggilan mendadak. Saking banyaknya cerita tentang Beno, saya sampai merasa bahwa Ika Natassa a.k.a Alex benar-benar mengeksploitasi Beno. Ha! Demi apa? Demi pembaca/fans/groupies yang senantiasa halu sama dokter bedah nan ganteng banget ituuu! Ya, siapa yang nggak gemes sama Beno yang dari luar terlihat dingin dan kaku tetapi ternyata mesum juga? Eh.

“Sometimes a woman needs to play dress up to feel beautiful, Ben. | Sama aku, kamu nggak usah pake apa-apa juga cantik. Makanya di rumah aja.” –hal. 360

Ya ya ya.. Penonton bahagiaa~~

Semakin bahagia ketika akhirnya drama Alex yang berkali-kali gagal hamil, akhirnya berhenti. Karena apa? Ya, karena akhirnya hamil. Yeay! Eh, semoga ini bukan termasuk spoiler, ya karena hamil adalah hal yang wajar dalam rumah tangga dan kecil kemungkinan juga novel metropop hanya berisi kemurungan mengenai tokohnya yang nggak hamil-hamil. Novel metropop rasanya kurang pas kalau sesuram itu.

Well, di  masa kehamilan Alex ini, pembaca dipaparkan dengan suka duka perempuan yang baru pertama kalinya hamil, lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran-kekhawatiran. Ada banyak kekhawatiran yang diungkap Alex melalui twitnya dan dijawab oleh followers-nya dan interaksi antara Alex dan followers-nya ini semakin membuat @alexandrarheaw terasa seperti akun asli, bukannya rekaan. Interaksi Alex dan followers-nya bisa dibilang aktif karena Alex juga kerap membuka sesi tanya-jawab mengenai hubungan percintaan, dan tentunya dijawab berdasarkan pengalaman/pemikiran Alex sendiri. Cocoklah buat pembaca yang galau mengenai status/kejelasan/kelanjutan hubungannya dengan pasangan. Selebtwit/Mario Teguh gitu.

“Ini nasihat buat para perempuan di timeline gue: do not be an option to someone, you should be his only choice. Titik.” –hal. 88

“Don’t try to change your spouse. Not gonna work. And even if he does, you might regret it later because that’s not the person you fell in love with.” –hal. 226

Lalu banyak perempuan pun baper~~

Twivortiare 2 beralur maju dan berfokus pada dua kondisi itu tadi, sebelum dan selama Alex hamil. Nggak banyak kejutan di novel ini, semuanya berjalan normal dan kisah mereka diakhiri dengan kalem. Tapi setidaknya dari novel ini, saya bisa dapat banyak kutipan bagus buat nambah-nambah isi Instagram. Heu. Penasaran, Alex bisa ngetwit banyak banget kalimat motivasi bagus gitu, dapat dari mana ya? Gimana caranya ‘memetik’ sesuatu dari sekitar untuk di-convert jadi kalimat bagus–karena saya yakin nggak semuanya berdasarkan pengalaman pribadi? Hmm. Pertanyaan bagus untuk sang penulis, nih.

Tapi, satu poin penting dari Twitter yang nggak diikutkan Ika Natassa di bukunya adalah waktu (jam) twit. Buat saya ini penting, karena beda jam beda juga bahasannya. Twitter gitu, loh. Cepat sekali topik berganti. Kadang baca serangkaian twit Alex dalam sehari jadi berasa nggak nyambung, yang pasti karena rentang waktu antartwit lumayan panjang. Tapi lagi, maklum saja lah. Ada Beno ini. Yha!

Lima bintang untuk Beno, tiga untuk twit motivasi Alex, tiga untuk ceritanya, dua untuk penyajiannya. Rata-rata: 3,25 menurut kalkulator saya.

***

 

*) Review ini dibuat untuk reading challenge @MondayFF bulan Agustus 2016 dengan tema: buku yang sudah lama kamu punya tapi selalu tertunda dibaca. Twivortiare 2 sudah berkali-kali masuk keluar daftar bacaan bulanan, tetapi selalu ‘kalah’ oleh buku lain. Akhirnya bulan ini memutuskan untuk baca, karena masih ada dua novel Ika Natassa yang antre untuk dibaca–sebagai persiapan sebelum nonton filmnya. Harus berurut bacanya, biar sip. x)

Gila Atau Tidak Gila Hanyalah Perkara Sudut Pandang

028

Judul: Lho
Penulis: Putu Wijaya
Penerbit: Balai Pustaka
Tahun terbit: 1982
Jumlah halaman: 163
ISBN: –
Blurb: –

*

Lagi-lagi saya harus bilang bahwa saya suka novel yang tokoh utamanya, secara psikologis, agak berbeda dengan terminologi ‘normal’ di masyarakat. Ini poin pertama dan utama yang bikin saya menikmati membaca Lho.

“Itu, maksudku keinginan-keinginan jahat yang melintas dengan cepat yang tidak mungkin sama sekali dilaksanakan–bahkan yang sama sekali tidak pernah aku laksanakan–tetapi yang memberi kenikmatan.” –hal. 29

Poin kedua adalah deskripsi yang baik mengenai ketidaknormalan tokoh aku tersebut. Saya dibuat mengangguk setuju dengan setiap gerak geriknya. Perjalanan logika tokoh aku dari awal sampai akhir cerita juga tidak bisa (atau tidak perlu) dibantah karena setiap alasan yang ia kemukakan sebelum melakukan suatu tindakan terasa masuk akal. Inilah enaknya membaca cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama, kecil kemungkinan kita menyalahkan diri sendiri.

Ketiga, bromance di novel ini kental sekali. Tidak ada perempuan yang menjadi sentral cerita dan terlibat secara berlebihan dengan tokoh aku. Hanya ada dua tokoh perempuan di novel ini yang patut diperhitungkan yaitu yang mempekerjakan aku sebagai kernet truk, dan perempuan sebagai kekasih-singkat aku yang kemunculannya saya anggap hanya untuk melengkapi siklus hidup aku sebagai laki-laki khususnya dan sebagai manusia umumnya. Sebaliknya yang menonjol adalah hubungan pertemanan dan pekerjaan antarlelaki. Aku dan Zen (teman yang tulus membantu aku untuk sembuh dari gejala kegilaan, dan somehow hubungan mereka terasa menghangatkan hati), aku dan Bing (yang tidak pamrih), aku dan lelaki yang mempekerjakannya (sangat profesional). Tidak basa basi. Tidak drama. Semuanya berjalan jujur sebagaimana adanya.

Keempat, bab-bab disajikan pendek sehingga mampu mengurangi kemungkinan timbulnya perasaan bosan. Tapi pada dasarnya, jalinan kalimat Putu Wijaya memang tidak datar, sih.

Kelima, Lho adalah karya Putu Wijaya pertama yang saya baca dan saya mendapat kesan (pertama) yang baik. Semoga karya beliau berikutnya konsisten sesuai dengan selera saya. Haha. Agak merasa terlambat membaca karya Putu Wijaya karena rata-rata karya beliau diterbitkan oleh Balai Pustaka sebelum tahun 2000 dan ketika itu saya belum aktif membaca. Tapi toh lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Terakhir, penting untuk memeriksa kembali bagaimana cara kita memandang diri sendiri. Karena cara pandang tersebut rupanya sangat memengaruhi proses pengambilan keputusan di kehidupan sehari-hari. Bila merasa bahwa diri kita adalah orang jahat maka kita akan cenderung melihat orang lain dengan curiga, begitu juga sebaliknya. Di novel Lho, tokoh aku mengingatkan pembaca bahwa sekalipun orang lain menganggap kita gila, jangan sampai kita merasa sebagai orang gila. Gila atau tidak gila, itu kan hanya masalah sudut pandang.

“Aku ingin kembali menemukan basa-basi. Di  mana setiap orang berusaha untuk memoles dirinya sedikit dalam sikap maupun perbuatan, supaya manis. Dengan begitu hidup memang palsu akan tetapi tidak menjemukan.” –hal.

 

***

Dru dan Kisah Lima Kerajaan

Dru

Judul: Dru dan Kisah Lima Kerajaan
Penulis: Clara Ng, Ilustrasi oleh Renata Owen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit: April, 2016
Jumlah halaman: 208
ISBN: 9786020321592
Blurb:

“Bagaimana cara menyembunyikan pikiran?”
“Kamu ingin tahu caranya? Cobalah mencurinya dari pikiran kami.”
“Bagaimana cara mencuri pikiran kalian?”
“Caranya ada di dalam pikiran kami.”

Alkisah, seorang gadis cilik mencari selendangnya yang hilang, bertemu dengan lima raja yang kesepian.

Seekor Keong Emas bertutur asal usul pohon Kapaltaru, membuka perjalanan menembus jagat, untuk menebus satu kesalahan.

*

Dru adalah anak perempuan berusia dua belas tahun yang sangat lincah. Suatu ketika, Dru sedang asyik memetik rambutan. Hasil petikannya ia lemparkan begitu saja ke tanah untuk kemudian dikumpulkan lalu dinikmati. Tanpa diduga, seorang anak laki-laki memunguti dan memakan hasil jerih payah Dru! Hal tersebut menyulut emosi dalam diri Dru sehingga terjadi perselisihan antara Dru dan anak laki-laki tersebut. Peristiwa itu diketahui Ibu dan itu membuat Ibu menangis. Ibu juga mengingatkan bahwa Dru tidak boleh ‘sok jagoan’.

“Dru harus bisa mengontrol emosinya dan tidak boleh menjadi gadis yang congkak, demikian kata Ibu.” –hal. 15

Atas perbuatannya, Dru dihukum tidak boleh ke mana-mana. Jadilah ia terkurung di kamarnya dan hanya bisa menatap laut dari birai jendela. Pada saat ia asyik memandang laut, angin kencang menerbangkan selendang yang ada di bahu Dru. Ia berusaha meraih selendangnya tetapi gagal. Lalu sesuatu terjadi, Dru melihat buih-buih ombak menjelma menjadi kupu-kupu yang sangat besar. Dru melompat ke punggung kupu-kupu berharap kupu-kupu tersebut membawanya mendapatkan selendangnya kembali. Di tengah usahanya, Dru malah terjatuh ke dalam lubang dan berakhir di sebuah negeri ajaib.

Petualangan Dru di lima kerajaan pun dimulai.

*
Bagi saya, bacaan untuk anak-anak haruslah bacaan yang mudah dimengerti, memberi ruang yang cukup untuk berimajinasi, dan tentu saja bernilai. Dru dan Kisah Lima Kerajaan (Dru) mengakomodasi semuanya. Penggunaan kalimat yang sederhana dan jelas serta alur maju dan tidak berbelit-belit tentu saja membuat anak merasa nyaman ketika membaca tulisan panjang. Terlebih lagi bila si anak adalah pembaca yang masih tergolong hijau. Selain itu, kemudahan untuk memahami bacaan akan secara langsung memengaruhi gambaran yang dihasilkan anak di benaknya. Deskripsi-deskripsi yang baik jelas akan membantu memantik daya khayal anak. Menyajikan Dru satu paket dengan ilustrasi-ilustrasi indah juga merupakan pilihan yang tepat, mengingat imajinasi tidak hanya dapat dilatih melalui jalinan kalimat tetapi juga melalui gambar. Anak-anak dibantu membayangkan seperti apa rupa Bibi Keong dengan jam di punggungnya dan Raja Nala yang setengah harimau. Lalu, setelah dihadapkan pada petualangan demi petualangan, akan sangat baik jika anak bisa mendapatkan pengetahuan baru dari apa yang ia baca.

Kegiatan membaca yang dibiasakan ke anak merupakan upaya orangtua untuk menunjukkan cara belajar yang menyenangkan. Ini kepercayaan saya, sih. Belajar di sini bukan belajar hal-hal formal seperti di sekolah, tetapi lebih ke belajar mengenai apa, sih, isinya dunia di luar sana. Sangat baik membuat anak tahu bahwa ada berbagai macam jenis manusia dan ada berbagai macam permasalahan hidup beserta jalan keluarnya. Adegan pertama saja bisa digolongkan dalam ‘permasalahan hidup’ dan bisa jadi bahan diskusi yang baik antara anak dan orangtua. Anak laki-laki yang mengambil rambutan Dru, apakah ia bisa disebut sebagai pencuri? Apakah ia bersalah? Bahkan, apakah rambutan yang dipetik Dru dari pohon-yang-bukan-miliknya bisa dikatakan sebagai milik Dru? Duh, kenapa jadi serius.

Well, selain menjadi bacaan yang menyenangkan, menyambung bahasan mengenai membaca-adalah-belajar, Dru juga menyediakan ruang bagi anak untuk meluaskan perbendaharaan kata. Clara Ng dengan baik menggunakan masygul, birai, horizon, pekak, dan sebagainya yang barangkali terdengar asing di telinga anak. Nah, untuk yang satu ini para orangtua harus lebih dahulu tahu arti kata-kata tersebut, untuk berjaga-jaga seandainya si anak bertanya.

 

“Bukalah matamu. Selama kamu percaya, keajaiban akan menampilkan keberadaannya.” –hal. 41

Secara keseluruhan, Dru adalah bacaan yang bagus. Saya menyukai Dru karena tampil dalam versi hardcover, saya menyukai desain sampul Dru, saya menyukai dominasi warna oranye dan emas yang menimbulkan kesan ceria dan lincah. Sangat cocok untuk cerita petualangan. Ilustrasi karya Reanta Owen yang memanjakan mata semakin menambah sisi positif novel ini. Saya juga menyukai nilai-nilai budaya yang disisipkan dalam Dru. Menurut Clara Ng, Dru mengandung unsur petualangan Alice di Negeri Ajaib (karena Clara Ng adalah fans berat Alice) dipadukan dengan lokalitas. Saya menemukan Alice dijelmakan pada tokoh Dru sendiri, pada bagian ketika Dru masuk lubang, juga fenomena Dru yang bisa membesarkan atau mengecilkan tubuhnya di dunia ajaib. Sedangkan unsur lokal muncul di dalam dunia ajaib itu sendiri. Ada Pandu dan kelima anaknya yang terdengar sama dengan Pandawa, penggunaan nama-nama yang bernuansa wayang banget seperti Patala dan Wrekodara, serta selipan budaya lokal seperti kuda lumping.

“Semua raksasa berukuran sekecil bunga ketika masih kanak-kanak, Dru. Mereka akan tumbuh cepat dan pesat ketika melewati usia dua belas tahun.” –hal. 139

Saya akan sangat bahagia bila ada lebih banyak lagi buku cerita anak seperti Dru.

***

Baca Bareng #Bacaisme Agustus 2016

IMG_5200

Baca bareng #bacaisme masih berlanjut! Setelah liburan selama sebulan, bacaisme akan melanjutkan hasil polling mengenai tema bacaan bulanan. Polling tersebut menghasilkan tema:

“SASTRA BALAI PUSTAKA”

 

Menurut wikipedia, (angkatan) Balai Pustaka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Referensi buku yang masuk kategori ini bisa dilihat di sini, di sini, dan di sini. Yuk, dipilih untuk segera dibaca.

Oiya, berikut ini ada semacam panduan hore untuk yang ikutan baca bareng #bacaisme:

1. Tantangan baca ini berlangsung sejak tulisan ini di-publish s.d 31 Agustus 2016.

2. Format buku bebas. Boleh buku cetak, e-book maupun audio book.

3. Kalau sudah tahu buku apa yang akan kamu baca, boleh juga sebutkan info buku tersebut di kolom komentar postingan ini atau langsung mention @_bacaisme.

4. Bagikan info mengenai event baca bareng ini supaya semakin banyak yang ikutan. Semakin rame, semakin seru!

5. Follow @_bacaisme dong. :))

6. Selama membaca buku tersebut, kamu boleh memberi ulasan-ulasan pendek di Twitter (bisa komentar atas desain sampulnya, pembukaan ceritanya, kutipan yang menarik, dll). Gunakan tagar #bacaisme supaya gampang dilacak.

7. Setelah membaca habis buku pilihanmu, silakan membuat ulasannya di blog (bisa WordPress, Blogspot, Tumblr, web pribadi), catatan Facebook, atau langsung di Goodreads.. Bagikan tautan ulasan kamu di Twitter, mention @_bacaisme dan gunakan tagar #bacaisme.

8. HADIAH? Tentu saja ada hadiahnya! Semua yang ikut baca bareng berkesempatan memenangkan paket buku di akhir periode. Nama akan diundi dan yang keluar sebagai pemenang boleh memilih dari daftar buku yang nanti akan disiapkan.

9. Info lainnya akan di-update via Twitter.

Nah, silakan buat yang ingin ikut baca bareng #bacaisme kali ini. Jika kegiatan ini ramai, mungkin bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya seperti diskusi bersama atau bahkan kopdar bareng. Yuuk~~

***

Daftar Bacaan Agustus 2016

*

Setelah melewati bulan Juli tanpa satu pun postingan di blog ini, akhirnya gairah bercerita ini kembali juga. *kibas poni*

Di bulan Juli kemarin, meskipun saya tidak membuat blogpost terkait daftar bacaan dan review buku, kegiatan membaca tetap berjalan normal. Selain buku-buku baru, saya juga berlagak selow dengan mencoba membaca ulang buku favorit. Daftar bacaan saya untuk bulan Juli 2016 adalah Olenka (Budi Darma) untuk memenuhi kegiatan baca bareng #bacaisme bulan Juli dengan tema Sastra Balai Pustaka (tapi oleh bacaisme, baca bareng Juli digeser ke Agustus 2016), Cinta dan Kesialan-Kesialan (Lang Leav) untuk memenuhi #tantanganbacaGRI Juli dari @bacaituseru dengan tema buku puisi, dan Attachment (Rainbow Rowell).

Sedangkan untuk bacaan Agustus 2016, selamat datang:

414

1. Anna Karenina (Leo Tolstoi). Novel klasik berusia lebih dari seratus tahun, pas untuk menjawab #tantanganbacaGRI Agustus 2016 dari @bacaituseru. Yang saya punya adalah versi e-book, dan novel ini berjumlah halaman lebih dari 500. Semoga mata ini kuat, ya. :’)

2. Lho (Putu Wijaya). Baru ngeh kalau ini termasuk sastra terbitan Balai Pustaka. Pakai yang mana nih untuk baca bareng #bacaisme? Olenka yang sudah dibaca atau Lho? :p

3. Twivortiare 2 (Ika Natassa). Merasa gagal karena belum baca Twivortiare 2 (dan novel lain yang terbit kemudian) padahal saya termasuk yang menggemari karya-karya Ika Natassa. Semoga novel ini sama menghiburnya dengan novel Ika Natassa yang lain. Beno!! ❤

Mengenai baca ulang buku favorit, yang beruntung adalah Eleven Minutes (Paulo Coelho). Gara-gara membaca ulang, saya baru sadar bahwa tema BDSM sudah pernah saya baca jauh sebelum saya membaca Fifty Shades of Grey. Memang ya, membaca ulang membuat kita menyadari hal-hal yang dulu sempat terlewatkan. Favorit banget nih Eleven Minutes.

Btw, saya masih utang menyelesaikan Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)! :O Padahal teater Bunga Penutup Abad akan diselenggarakan di bulan ini. *brb*

*

Bagi yang belum tahu, sebelumprolog adalah blog saya yang secara khusus didedikasikan untuk membicarakan buku. Sedangkan blog utama saya adalah mandewi.com. Sila berkunjung. Ada catatan perjalanan saya ke Dataran Tinggi Dieng di sana. :)

***