A Copy of My Mind: Film Vs. Novel

068
Judul: A Copy of My Mind
Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: April 2016
Jumlah Halaman: 199
ISBN: 9786023754014
BLurb:

Sari, pegawai salon kecantikan, adalah seorang pencandu film. Ia bertemu Alek—si penerjemah DVD bajakan—saat Sari mengeluh tentang buruknya kualitas teks terjemahan di pelapak DVD.

Tak butuh waktu lama hingga keduanya saling jatuh cinta. Sari dan Alek melebur di antara riuh dan bisingnya Ibu Kota. Cinta membuat keduanya merasa begitu hidup di tengah impitan dan kerasnya Jakarta.

Namun, hidup keduanya berubah ketika Sari ditugaskan untuk memberi perawatan wajah seorang narapidana. Ia diutus pergi ke rutan tempat Bu Mirna—terdakwa kasus korupsi yang melibatkan pejabat negara—ditahan. Rutan itu berbeda dari rutan pada umumnya. Di sana Sari melihat penjara yang fasilitasnya bahkan lebih baik dari kamar indekosnya.

Sari dan Alek terlambat menyadari bahaya sedang mengancam nyawa keduanya, saat Sari secara sengaja mengambil satu keping DVD dari rumah tahanan Bu Mirna.

*

Meski saya tidak menjalani hidup sekeras Sari menjalani hidup di Jakarta, tapi set cerita yang Jakarta banget, sukses mengena. Sepakat dengan kata beberapa review(-er) yang saya baca mengenai film A Copy of My Mind (ACoMM), bahwa Joko Anwar merekam Jakarta masa kini dengan sangat baik. Detail mengenai Jakarta yang diceritakan dengan kata-kata oleh Dewi Kharisma Michellia juga sama. Tersaji dengan sangat baik dalam ACoMM versi novel.

Entahlah apa alasan besar Joko Anwar, Grasindo, Dewi Kharisma Michellia, atau siapa pun yang ada di balik proyek ini, setuju untuk meluaskan dunia A Copy of My Mind dari (hanya) film menjadi film dan novel. Karena hasilnya tidak terlalu luas juga, sih. Adegan demi adegan dalam novel tidak jauh berbeda dengan apa yang kita saksikan di film, adapun yang bertambah adalah narasi alias isi kepala kedua tokoh utama. Sari dan Alek. Sari yang miskin tapi (kok) nggak ngotot pengin kaya, Alek yang tadinya cuma pengin bertahan hidup kemudian pengin punya uang banyak untuk mewujudkan cita-cita Sari membeli home theatre. Sari yang tukang ngutil dan Alek yang tukang (taruhan) balapan liar. Sari yang terjebak dalam drama para koruptor, lalu Alek yang menanggung akibatnya. Tapi pada akhirnya, Sari juga kena batunya terkait apa yang dialami Alek.

“Dia orangnya asyik, bisa ramah banget ke orang. Tapi, aslinya sinis sama dunia dan orang-orang di sekitarnya, seperti lu juga. Pokoknya, lu bakal benar-benar mabuk kepayang sama cewek satu ini.” –Hal. 57

Dibilang kompleks, tidak juga. Membingungkan, iya. Ada (plot) yang berlubang di versi film dan sempat membuat saya bertanya kenapa begini kenapa begitu. Apa orang-orang suruhan itu begitu bodohnya? Lalu di versi novel, semua terjelaskan. Mereka ya begitu itu. Wow.

Tapi terlepas dari uraian di atas dan gaya bercerita Dewi Kharisma Michellia yang tetap menjadi favorit saya, juga timbul perasaan bahwa pengetahuan saya tentang film sedang diuji. Adakah yang tahu film apa yang dimaksud penulis di kalimat ini: “…serial televisi monster pisang yang berupaya menaklukkan dinasti kera karena kera-kera itu menewaskan orang tua si monster pisang.” (Hal. 9)

Atau ini: “…trilogi film di mana di suatu perjalanan dengan kereta seorang perempuan yang merasa hidupnya sebatang kara bertemu lelaki yang yang merasa hidupnya sebatang kara juga.” (Hal. 10)

Atau ini: “…film Perancis tentang dua sahabat yang sejak kecil sampai dewasa menganggap hidup mereka seperti permainan. Ada sebuah kaleng mainan yang selalu mereka bawa bersama dan kaleng itu jadi saksi permainan-permainan yang terjadi di antara mereka.” (Hal. 97)

Ada yang tahu?

Kalau saya, sih, nggak tahu. Iya, pengetahuan saya tentang film memang payah. *nunduk* Tapi penasaran! Apakah benar-benar ada film sebagaimana yang ia tuliskan dalam novel ACoMM, atau itu hanya sekadar imajinasi?

Well, kalau kalian sudah sempat nonton (film) ACoMM, nggak ada salahnya baca ACoMM versi novel untuk lebih paham tentang karakter Sari dan Alek. Banyak pertanyaan yang akan terjawab. Tapi buat yang belum nonton filmnya, wajib banget baca ACoMM versi novel. Roman, sedikit komedi, banyak ironi, gamblangnya penggambaran mengenai polah koruptor negeri, dan Dewi Kharisma Michellia.

Keren!

***

Advertisements

[Api Awan Asap] Menjaga Sinergi dengan Alam

FullSizeRender (5)

Judul: Api Awan Asap
Penulis: Korrie Layun Rampan
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2015
Jumlah Halaman: 169
ISBN: 9786023750009
Blurb:

Di sebuah kawasan, tepi Sungai Nyawatan, penduduk membangun lou (betang, rumah panjang). Dari lou itu, dua sahabat -Jue dan Sakatn- setelah menempuh perjalanan 300 kilometer, memasuki gua untuk mengambil sarang burung walet. Jue yang baru sebulan menikahi Nori, putri Petinggi Jepi, bertugas masuk ke dalam gua sambil pinggangnya diikat dengan tali plastik; sementara Sakatn menunggu di luar. Karena diam-diam Sakatn juga mencintai Nori, Sakatn lalu mengerat tali plastik itu. Akibatnya, Jue tersesat dalam gua yang gulita.

(blurb di atas adalah versi Goodreads, agak berbeda dengan blurb di belakang buku)

*

Api Awan Asap, novel karya Korrie Layun Rampan ini mematahkan pendapat saya sebelumnya bahwa novel-novel pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ akan sulit menjadi favorit. Sebelum ini, saya sudah membaca Dadaisme, Tabula Rasa, Kei, dan Napas Mayat. Meskipun isu/ide yang mereka angkat di novel-novel tersebut patut mendapat acungan jempol, tetapi jalinan kalimat penulis di masing-masing karyanya itu bukanlah selera saya. Lambat, cenderung datar hingga sempat menyentuh pangkal rasa bosan. Iya, ini murni masalah selera. Tapi saya suka Saman dan Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, kok. x))

Berbeda dengan Api Awan Asap. Ide yang diangkat sama menariknya dengan Dadaisme, Kei, dan Napas Mayat, tetapi sisi romannya cukup unik, apalagi ditambah jalinan kalimat yang tegas dan penyajian cerita yang membuat saya mengingat lagi bahwa saya juga memiliki keinginan untuk menyajikan novel dengan cara yang sama: latar waktu cerita sangat pendek. Meskipun diselingi kilas balik  tetapi di akhir setiap bab, cerita kembali ke masa sekarang. Cerita baru bergerak di seperlima akhir. Sangat singkat.

Rasanya, Api Awan Asap lebih tepat dikategorikan sebagai novela karena hanya terdiri dari 169 halaman. Barangkali jumlah halaman sedemikian itu juga yang menyebabkan novel ini terasa padat. Sama sekali tidak bertele-tele.

Api Awan Asap mengambil latar kehidupan suku Dayak (Benuaq) di Kalimantan Timur, tepatnya Desa Dempar. Warga desa yang dipimpin oleh Petinggi Jepi menggambarkan bagaimana idealnya sebuah peradaban dibangun, sinergi dengan alam harus senantiasa di jaga.  Tradisi Dayak menentukan bahwa kawasan hutan dibagi dalam enam macam peruntukan. Peruntukan pertama adalah lou (rumah panjang orang Dayak) alias tempat tinggal warga. Kedua, adalah seluasan tanah yang dikhususkan untuk menanam buah-buahan seperti lai, durian, langsat, nangka, encepm payakng, encepm bulau, keramuq, rambutan, cempedak, dan sebagainya. Pada dataran yang tidak terjangkau banjir, warga akan menanam kopi, lada, serta buah-buahan yang menjadi milik pribadi. Pada lahan yang terjangkau banjir, warga menanam rotan, enau, kedawung, petai dan pohon-pohon tanaman keras lainnya. Ketiga, ladang. Setelah dirambah, kawasan ladang tersebut ditanami padi. Apabila dirasa tidak subur, maka warga akan membuka lahan di sebelahnya untuk lahan baru. Demikian seterusnya, dalam suatu lingkaran waktu, sang peladang kembali lagi ke tanah asal. Keempat, adalah kawasan hutan untuk mengambil bahan bangunan rumah, pembuatan perahu, dan segala yang berhubungan dengan kehidupan warga lou. Kelima, kawasan yang dijadikan ajang tempat mencari hasil hutan yang khusus disediakan seperti damar, rotan hutan, sarang burung atau lebah madu. Keenam, adalah hutan bebas. Orang-orang dari desa lain dan kawasan lain dapat mengambil hasil bumi dan berburu di kawasan tersebut. Bahkan mereka juga dapat menjadikan kawasan itu sebagai kampung baru. Karena berada di luar persekutuan lou, tanah itu dianggap tak bertuan.

Bagaimana ya kondisi peradaban di sana sekarang ini, mengingat novel ini tidak menyebutkan seting waktu secara spesifik (novel ini diterbitkan pertama kali tahun 1999, jika ini membantu)? Bahkan menurut saya, judul “Api Awan Asap” merujuk pada perambahan hutan dengan cara-cara yang tidak semestinya. Dikatakan bahwa orang kota yang melakukan perambahan hutan tak tahu cara memanfaatkan hutan tanpa merusak. Mereka bahkan tidak tahu cara membakar hutan dengan benar. Asap yang muncul akibat pembakaran tersebut menjadi masalah yang sempat disinggung dalam novel.

“Cinta sejati adalah hati yang bersentuhan dengan hati. Jiwa dengan jiwa. Suatu desiran yang tak akan mampu diterjemahkan oleh kata-kata manusia.” –Hal. 120

Terlepas dari isu lingkungan yang diangkat dengan sangat baik, sisi roman antara Nori-Jue-Sakatn juga membuat geregetan. Nori, sebagai tokoh utama, membuat saya terkesan dengan ketangguhan sekaligus keteguhannya. Membesarkan Pune sendirian karena ditinggal mati Jue sebulan setelah hari pernikahan mereka. Berkali-kali dilamar Sakatn tetapi selalu mengatakan bahwa Jue masih hidup dalam hatinya. Bahwa menerima lamaran Sakatn sama artinya dengan berkhianat. Nori begitu setia terhadap Jue. Di lain pihak, Sakatn begitu setia terhadap Nori, hingga ia memutuskan untuk tidak menikah dan rela menanti kesediaan Nori menerima lamarannya selama dua puluh tahun. Dua puluh tahun. Ternyata ada orang yang mampu bertahan selama itu untuk menunggu sesuatu yang tak pasti.

Misteri mengenai sikap Nori dan Sakatn terjawab dengan sangat baik di akhir kisah. Ending Api Awan Asap merupakan salah satu akhir kisah yang berkesan. Semacam fiksi mini. Seperti menceritakan bagaimana sebuah bom dibuat, siapa yang membuat, bagaimana bentuknya, apa yang bisa diakibatkan oleh bom tersebut, lalu diakhiri dengan boom! Bom tersebut meledak. Selesai.

Lima bintang untuk Api Awan Asap.

***

Menjadi Bookstagrammer? Kenapa Tidak!

Saya termasuk yang terlambat membuat akun di Instagram (IG). Alasannya, saya nggak pengin IG saya jadi semacam album Facebook (yang isinya campur-campur) karena kalau sama saja, buat apa punya dua wadah untuk satu fungsi. Lalu setelah mempertimbangkan apa yang kira-kira bisa saya buat di IG, akhirnya didapat keputusan bahwa IG saya adalah tempatnya berbagi kutipan buku. Meskipun belakangan ini diselipi banyak foto kopi serta hiburan lain tapi percayalah itu hanya untuk selingan saja, kok.

Semuanya berjalan baik-baik saja dan saya merasa keren-keren saja sampai timbulnya rasa penasaran terhadap ‘dunia’ di luar sana. Mulailah saya melakukan penelusuran terhadap beberapa hashtag alias tanda pagar (tagar) terkait buku. Mulai dari #kutipanbuku, #bookquotes, #bookish, #booklovers hingga ‘nyasar’ ke #bookstagram dan #bookphotography. Kok keren-keren! :O

MAU BIKIN YANG BEGITU JUGA!

Tapi berhubung saya nggak punya bakat di bidang fotografi, maka saya memperhatikan hal-hal lain selain teknis pengambilan gambar. Yang menarik perhatian saya, dan saya rasa lebih mudah diaplikasikan untuk menghasilkan foto buku yang satu tingkat lebih keren dibandingkan foto yang selama ini saya hasilkan, adalah penggunaan properti foto. Melihat #bookphotography di akun-akun Instagram buku unik, saya seperti baru sadar kalau ada yang namanya bunga, mini figure berbagai tokoh, kotak berbagai ukuran, lampu-lampu lucu, bahkan ranting pohon!

Nah, berdasarkan hasil pengamatan saya terhadap foto-foto buku, berikut ini aksesori/properti sederhana yang banyak banget dipakai. Rasanya ini bisa dicontoh untuk menjadi bookstagrammer pemula. x))

1. Bunga. Siapa yang bisa menyangkal keindahan bunga? Apalagi sejak dahulu, bunga itu identik sebagai sesuatu yang digunakan untuk mempercantik (apa saja). Bahkan satu tangkai bunga bisa membuat perbedaan yang besar. Semakin cocok lagi apabila buku yang difoto menggunakan properti ini adalah yang bergenre roman. Pas!

040 045 054

2. Kacamata. Bagi saya, kacamata bisa memberi kesan nerd. Barangkali karena yang namanya bookstagrammer (seharusnya) adalah si tukang baca. Nerd juga berarti orang yang suka banget akan satu hal tertentu, jadi pengguna aksesori ini saya anggap sebagai book nerd.

057 059 055

3. Secangkir Kopi. Saya rasa ini berkaitan sangat erat dengan budaya ngopi dan/atau nongkrong (di warung kopi) yang tumbuh pesat belakangan ini. Ngopi/nongkrong memberi kesan santai.

039 037 038

4. Snacks. Mulai dari semangkuk buah sampai biskuit yang masih terbungkus rapi, asalkan bisa memberi nilai tambah pada foto, silakan. Kalau saya pribadi, nggak bisa baca sambil makan jadi kalau ada snacks di foto buku saya maka itu tak lebih dari sekadar properti foto. :))

052 064 069

5. Alat tulis.  Rasa-rasanya ini properti yang paling sederhana juga standar tapi jangan-jangan itu juga yang jadi pertimbangan utama penggunaan aksesori ini. Mudah ditemukan. Tetapi meskipun sederhana, penggunaanya di banyak foto sangatlah berhasil.

060 063 056

6. Lampu hias LED. Penggunaan lampu hias LED mampu memberi kesan hangat dan elegan. Tapi rasanya butuh usaha lebih, ya. Hmm.

061 048 053

7. Alas bermotif. Ini adalah satu cara meningkatkan tampilan foto yang effortless. Cukup dengan satu motif tertentu dan foto pun jadi nggak monoton. Tapi hati-hati, jangan sampai perpaduan alas bermotif dengan sampul buku terkesan nabrak (motif).

041 066 062

8. Binatang peliharaan. Menjadikan anjing atau kucing sebagai model foto pastinya susah-susah gampang. PR utamanya adalah bikin mereka mau anteng. Setiap lihat foto buku yang melibatkan (model) binatang peliharaan, reaksi pertama saya sudah pasti tersenyum! Cute!

034 058 050

9. Aksesori lainnya. Lilin aromaterapi, seringnya yang berwarna-warni. Mini figure atau merchandise resmi buku bersangkutan. Kamera, selain karena alasan estetika bisa jadi karena bookstagrammer tersebut suka fotografi atau malah ‘merangkap’ sebagai traveler? Hmm. Produk tertentu, bisa untuk sekadar properti atau bisa juga karena sengaja promosi. Nggak masalah. :))

070 035 033  049 068 067

Yess, itu tadi hasil pengamatan saya terhadap fenomena bookstagrammer. Di antara kalian, adakah yang punya akun IG khusus buku? Coba kasih tahu akun IG kalian. Saya mau berkunjung. :))

***

Blogging: Have Fun and Get The Money

fullsizerender-4

Judul: Blogging: Have Fun and Get the Money
Penulis: Carolina Ratri
Penerbit: Stiletto Book
Tahun Terbit: Desember 2015
Jumlah Halaman: 240
ISBN: 9786027572447
Blurb:

Bagi seorang blogger, mempunyai blog yang mendatangkan pemasukan pasti jadi cita-cita. Sedangkan bagi brand, blogger semakin diperhitungkan untuk menjadi partner dalam strategi marketing mereka melalui kerja sama job review. Namun, untuk sampai ke tahap itu, kita perlu membekali diri dengan keterampilan yang cukup. Buku ini membahas berbagai tip, seperti:

– Menentukan tema blog
– Mencari ide tulisan
– Mempelajari teknik menulis yang baik
– Mempercantik tampilan blog
– Cara mendapatkan job review
– Cara kerja Google Adsense
– Memopulerkan blog dengan SEO dan media sosial
– Sampai, profil para blogger senior

Pada akhirnya, akan banyak yang bisa kita dapatkan dari blog. Tak hanya untuk bersenang-senang dan dapat uang, tapi juga jejaring, serta personal branding.

*

Eka Kurniawan dalam sebuah kesempatan pernah berkata bahwa buku yang baik adalah buku yang berhasil ‘mengganggu’ pembacanya. Mengganggu di sini bisa berarti macam-macam, ya. Nah, bagi saya, Blogging: Have Fun and Get the Money (#BloggingHaveFun) ini masuk kategori ‘mengganggu’. Di halaman awal, saya sudah diingatkan untuk mempertimbangkan kembali alasan saya ngeblog. Menyalurkan hobi, ajang curhat, mendapatkan penghasilan, sarana belajar, atau sekadar untuk gaya-gayaan? Kemudian, kalau memang mau serius ngeblog, maka kita harus tahu dasar-dasar ngeblog yang baik dan benar. Apalagi kalau ngeblog untuk mendapatkan penghasilan, maka harus serius mempelajari teknik-teknik dasar SEO, cara kerja Google Adsense, dan sebagainya. Susah, ya?

Nggak juga. Karena kita bisa mulai (belajar) dari yang paling dasar. Dan #BloggingHaveFun bisa jadi media belajar yang baik.

Hal pertama yang saya pelajari mengenai ngeblog dengan serius, adalah sebaiknya blog kita memiliki niche. Akan lebih baik lagi kalau niche tersebut langsung tergambarkan dari nama blog kita. Blog buku misalnya, sebaiknya alamat blog mengandung kata ‘book(s)’ atau ‘buku’.

Lalu, sebelumprolog ini blog apa? :/

Saya yang tadinya semangat menetapkan niche untuk sebelumprolog, jadi mendadak pesimistis. Untung saja di bagian berikutnya, penulis bilang bahwa: kalau tidak di alamat blog, maka kata kunci sebagai niche blog bisa disematkan di tagline blog. Yeah!

sebelumprolog: baca buku yang perlu dibicarakan

#BloggingHaveFun juga ‘mengganggu’ saya di bagian Tip-Tip Dasar SEO, Google Adsense, dan Program Afiliasi. Sebagai orang yang awalnya ngeblog untuk bersenang-senang, istilah-istilah tersebut sangatlah asing. Lebih detil lagi, saya baru menyadari tentang penggunaan long tail keyword sebagai salah satu tip SEO dasar. Penggunaan long tail keyword dalam artikel bertujuan untuk meningkatkan keyword density. Keyword density ini akan menentukan seberapa baik artikel kita menurut mesin pencari. Penasaran, saya mencoba menemukan rekomendasi long tail keyword untuk kata kunci ‘review novel’ karena inilah niche sebelumprolog. Melalui ubersuggest, ini hasil yang saya dapatkan:

FullSizeRender (3) FullSizeRender (2)

Hal lain yang tak kalah penting dibandingkan teknis ngeblog tadi tentu saja menulis sebagai kegiatan utama ngeblog. Meskipun kita tahu bagaimana mendaftarkan blog kita di Google Adsense atau program afiliasi tertentu, pekerjaan ngeblog kita tidak akan ajeg bila kita tak tahu bagaimana cara menulis yang baik. Tentang bagaimana menulis artikel yang baik, penulis mengupasnya tuntas di Bab 3: Blogging is Writing.

“Tulisan Anda akan benar-benar bebas plagiarisme ketika tidak ada tiga kata yang sama berurutan dan berada pada topik atau kategori artikel yang sama.” –Hal.99

Fiuh, ternyata ngeblog bisa menjadi kegiatan yang sangat serius, ya. Tetapi dengan penyajian yang terstruktur dan penggunaan kalimat yang sangat mudah dimengerti, #BloggingHaveFun membuat saya jadi bersemangat untuk meningkatkan traffic sebelumprolog. Meningkatkan traffic saja dulu yang diusahakan. Mengenai apakah blog ini akan berhasil mendapatkan job review atau tidak, akan kita lihat nanti. 🙂

Well, secara keseluruhan, banyak sekali ilmu baru yang saya pelajari dari buku ini. Tinggal praktiknya saja, nih. Semoga bisa konsisten sehingga ilmu yang dipelajari tak sia-sia.

Blogging with heart, money will follow.” –Indah Julianti Sibarani (hal.191)

Lima bintang untuk #BloggingHaveFun.

***

[Matilda] Bacaan Wajib Para Orangtua

FullSizeRender (1)

Judul: Matilda
Penulis: Roald Dahl
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: Agustus 2010
Jumlah Halaman: 261
ISBN: 9789795111672
Blurb:

Matilda sangat jenius, selain juga amat perasa. Sebelum berusia lima tahun, dia sudah membaca karya-karya pengarang besar. Tapi orangtuanya menganggap dia hanya seperti ketombe yang menjengkelkan. Matilda memutuskan untuk mengurus dirinya sendiri. Ketika “diserang” Miss Trunchbull, kepala sekolahnya yang amat kejam, dia baru sadar ternyata dirinya punya kekuatan supernatural. Lalu Matilda memakai kekuatan istimewanya itu untuk menyelamatkan sekolahnya, terutama guru kesayangannya, Miss Honey.

*

Lebih besar dari sekadar bacaan anak-anak, rasanya Matilda lebih penting untuk dibaca oleh para orangtua. Dari bab pertama, pembaca sudah dihadapkan pada dua tipe orangtua: yang bangga dengan anaknya seburuk apa pun sang anak, atau yang tidak peduli pada anaknya sebaik apa pun sang anak. Sebagai (calon) orangtua, kita (akan) termasuk yang mana?

Orangtua Matilda, yang kedua.

“Terkadang bisa dijumpai juga orangtua yang bersikap sebaliknya: mereka ini sama sekali tidak peduli terhadap anak-anak mereka. Dan ini tentu saja lebih buruk daripada para ayah dan ibu yang terlalu besar kasih sayangnya.” –hal. 9

Mengenai mengapa Matilda tak diindahkan oleh orangtuanya, pembaca tak diberi penjelasan. Tahu-tahu Matilda dianggap sebagai pengganggu oleh orangtuanya yang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Agak menyesakkan dada, sih. Punya anak tetapi bersikap tak peduli. Tidak berhenti sampai di situ, mereka bahkan menganggap kemampuan Matilda berbicara di usia satu setengah tahun sebagai kecerewetan. Mereka juga tidak percaya bahwa di usianya yang kelima, Matilda sudah lancar membaca buku-buku karya pengarang besar (orangtuanya menganggap bahwa Matilda hanya melihat-lihat gambar yang ada di dalam buku itu), atau menghitung dengan cepat dan benar (orangtuanya menganggap Matilda mengintip catatan ayahnya sehingga bisa menjawab dengan benar). Benci pada anak sendiri? Heu?

Syukurnya, selain jenius, karakter Matilda juga bisa dibilang dewasa. Ia memutuskan untuk mencari kesibukan sendiri alih-alih memusingkan sikap orangtuanya tersebut. Sosok Matilda menjadi semakin adorable karena bentuk pelariannya adalah membaca buku. Matilda bahkan membaca buku karya pengarang, yang di saya sendiri buku-buku tersebut masih bertengger manis di reading list. Charlotte Bronte, H.G. Wells, Jane Austen, John Steinback, Charles Dickens, Graham Greene, C.S. Lewis, dan lain-lain. You name it. Selain itu, Matilda sebenarnya bukan anak yang mudah emosi, ia juga tidak membenci ayah dan ibunya, tetapi toh di beberapa kesempatan ia tetap membalas dendam. Hehe. Tidak ada yang tahu perbuatan Matilda kepada orangtuanya, sehingga tak ada celah bagi tokoh mana pun untuk menceramahi pembaca mengenai apa yang baik dan tidak baik dilakukan anak terhadap orangtua yang jahat.

Berbicara tentang ceramah, hanya sedikit pesan moral yang disampaikan secara eksplisit di novel ini, yaitu oleh Miss Honey, guru kelas Matilda. Itu pun untuk menjelaskan bahwa pekerjaan orangtua Matilda di bidang jual beli mobil, disertai tindakan tertentu yang dapat dikategorikan sebagai penipuan. Terlebih lagi, mereka melakukannya dengan sadar dan bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri. Tentu sikap buruk seperti itu tak perlu diperdebatkan (baik atau buruk) sebagaimana ‘tindakan bermoral’ lainnya.

Kembali ke sikap orang dewasa, selain (karakter) orangtua Matilda yang memaksa kita bercermin, ada beberapa contoh kelakukan orangtua/orang dewasa yang membuat kita berpikir, khususnya mengenai sikap kita kepada anak-anak. Di antaranya, tokoh kepala sekolah yang begitu getol mengumpat.

FullSizeRender

Overall, betapa menyenangkan mengetahui Matilda merupakan novel anak yang tidak dipenuhi dengan pesan moral. Termasuk tentang kepala sekolah yang hobi mengumpat, tak ada tokoh yang bersuara untuk menegaskan bahwa mengucapkan kata-kata kasar adalah perbuatan yang sopan atau tidak sopan. Roald Dahl membiarkan anak membaca, menikmati, menyimpulkan sendiri apa yang baik dan tidak baik. Barangkali, anak tak perlu diatur atau diarahkan agar meyakini suatu pendapat tertentu karena anak adalah individu yang bebas.

Tapi, orangtua yang khawatir mungkin tidak akan menyodorkan Matilda untuk dibaca oleh anak-anak mereka karena novel ini penuh dengan perbuatan jahat (orang dewasa yang jahat, dan anak-anak yang tukang balas dendam).

Lima bintang untuk Matilda yang adorable, dewasa dan merdeka.

***

Gelak Sedih dan Cerita-Cerita Lainnya

Cf4r3kBUYAE3E4i

Judul: Gelak Sedih dan Cerita-Cerita Lainnya
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: April 2005
Jumlah Halaman: 182
ISBN: 9792213481
Blurb:

Cerpen-cerpennya ditulis padat gizi dengan penokohan dan setting cerita yang kompleks. Pembaca disodorkan sinisme dan lelucon, melankoli dan fantasi, sejarah dan dongeng, yang nyata dan yang ngibul, dikocok sedemikian rupa menjadi kisah-kisah yang menyegarkan dan kadang penuh kejutan.

Setiap cerita di dalam kumpulan ini akan menjadi tidak menarik jika diringkas menjadi sebuah sinopsis untuk kepentingan publikasi di sini. Jadi, disarankan Anda untuk membelinya dan membuktikan sendiri kebenaran paragraf di atas.

(sumber blurb: Goodreads, karena malas  mengetik blurb sebagaimana tercetak di sampul belakang buku fisiknya)

*

Penulis yang menghasilkan banyak karya berupa cerpen, terkadang menggabungkan cerpen-cerpen yang telah ada di buku kumpulan cerpen (kumcer) sebelumnya ke dalam buku kumcer yang terbit kemudian. Seperti Seno Gumira Ajidarma yang sudah memiliki beberapa kumcer, lalu tahu-tahu menerbitkan (lagi) cerpen-cerpennya dalam kumcer berjudul “Senja dan Cinta yang Berdarah”. Kenapa, ya? Bagi penggemar berat si penulis, kembali ke Eka Kurniawan, barangkali tak akan keberatan mengoleksi semua buku karya beliau meski banyak cerpen terbit di dua buku berbeda. Kalau saya, seandainya nanti ada buku “Koleksi Lengkap Cerpen Eka Kurniawan”, sudah pasti akan membeli buku tersebut dan mengabaikan kumcernya yang lain.

Kumcer karya Eka Kurniawan yang berjudul Gelak Sedih dan Cerita-Cerita Lainnya ini pun serupa. Terdiri dari delapan belas cerpen yang sembilan di antaranya merupakan cerpen baru, sedangkan sembilan lainnya merupakan cerpen yang sudah pernah terbit di buku kumcer Corat-coret di Toilet. Saya sudah membaca Corat-coret di Toilet, jadi tidak perlu waktu lama untuk menyelesaikan membaca sembilan cerpen baru di kumcer ini.

Terhadap karya Eka Kurniawan dalam bentuk cerpen, saya tidak bisa bilang sesuai selera saya banget karena saya lebih menyukai/menikmati karya beliau dalam bentuk novel. Itu dari segi jalinan kalimat dan cara berceritanya, ya. Sedangkan untuk ide/tema/isu yang diangkat, saya sepakat dengan kalian bahwa Eka Kurniawan ini keren.

Berdasarkan hal tersebut, beberapa cerpen dalam kumcer ini juga menjadi favorit saya karena ide/isu/tema yang diangkat unik bagi saya. Ini dia:

1.
Lelaki Sakit. Cerpen ini bercerita tentang laki-laki yang sengaja sakit agar diputuskan oleh tunangannya. Heu? Rasanya unik saja. Pertama, saya belum pernah baca cerita tentang orang yang sengaja sakit supaya dijauhi orang lain. Sakit itu bukannya tak enak, ya? Kenapa tidak dengan cara selingkuh saja? Selain terjamin akan ditinggalkan oleh tunangan, selingkuh tentu tak sesakit sakit.

2.
Bercinta dengan Barbie. Cerpen ini, somehow, lucu. Seorang laki-laki mengetahui mantra untuk mengubah boneka menjadi manusia dan mengubah manusia menjadi boneka. Dengan kemampuannya, ia memantrai boneka Barbie untuk dijadikan teman bercinta. Barbie tentu lebih menarik daripada istrinya yang gembrot dan tidak menggairahkan. Lama kelamaan, ia terpikir untuk mengambil keuntungan dari kemampuannya itu. Ia pun memantrai banyak boneka Barbie lalu menjadikan mereka pelacur di tempat protitusi yang ia buka. Bukan main. *tepuk tangan*

3.
Corat-coret di Toilet. Sesuai judulnya, cerpen ini salah satu yang sudah pernah terbit di kumcer berjudul sama, dan tetap jadi favorit saya. Tempat mencurahkan keluh kehidupan (karena buruknya pemerintahan) ternyata bukanlah anggota dewan yang adalah wakil kita itu, melainkan dinding toilet. :))

Kawan-kawan, tolong jangan corat-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan sebab kebersihan merupakan sebagian dari iman. Toilet bukan tempat menampung uneg-uneg. Salurkan saja aspirasi Anda ke bapak-ibu anggota dewan, please ….” –hal. 118

*

Masih banyak cerpen-cerpen Eka Kurniawan dengan tema unik, dan saya yakin akan beri kalian pengalaman yang sama sekali baru ketika membacanya. Penggemar militan Eka Kurniawan tentu harus membaca kumcer ini, tetapi bagi pencinta cerpen pada umumnya, beberapa cerpen dalam kumcer ini termasuk yang wajib baca.

3,5 bintang untuk kumcer ini.

***

Merayakan Rima di Senin Rasa Jumat

Cd1tKT_WAAAU4oC

Judul: Rabu Rasa Sabtu
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Jumlah Halaman: 239
ISBN: 9786020318806
Blurb:

Seorang gadis bernama Ayang menderita kelainan batuk, sebenarnya karena dikutuk setiap kali dipeluk. Nasib Ayang benar-benar malang. Ia menderita. Setiap kali batuk satu giginya tanggal, hingga akhirnya ia ompong. Pandangannya kosong. Untuk mengganti giginya yang tanggal, dipasang gigi anjing. Tapi suara Ayang jadi melengking…

Kutipan di atas ada dalam buku ini. Tapi itu bukan cerita yang sesungguhnya, karena kejadian membentuk ceritanya sendiri. Setiap kata mengajak kata yang berdekatan, lalu ada kalanya bergenit menyaru sebagai puisi, atau berusaha membentuk kalimat. Misalnya bahwa Ayang sudah ditentukan umurnya–meskipun mati karena batuk kurang dramatis, dan ada lelaki yang suka
menggendong, mencintainya, walaupun Ayang tinggal separuh. Barangkali itu terjadi karena Rabu selalu bergegas ke arah Sabtu yang selama ini menunggu.

*

Sudah membaca kalimat pertama pada blurb di atas? Terasa berima tidak?

Yup, rima.

Itulah hal pertama yang menarik perhatian saya ketika membaca halaman awal novel ini. Rima bertebaran di banyak sudut dan membuat saya merasa bahwa Arswendo sedang bermain-main dengan kata. Barangkali novel ini sekaligus adalah jurnal hasil penelitiannya akan kamus-rima. Di beberapa tempat, rima memang terasa pas. Di tempat lain, terasa lepas (dari konteks). Apakah sebuah kata bisa merasa terpaksa ditempatkan dalam kalimat? Apakah sebuah kata bisa merasa tidak nyaman karenanya?

“Selain jorok, mereka tak pernah kapok dan sudah biasa diolok-olok.” –hal. 18

“Mereka spontan ber-toss. Saking gembiranya bibir Way sampai mencos. Pembeli lain kelihatannya ikut gembira, tak ada yang melengos.” –hal. 53

“Jalmo makin kikuk, tapi senyum Mama Tera tak membuatnya terpuruk. Kakinya diselonjorkan agar tidak tertekuk.” –hal. 56

Terlepas dari masalah rima, perasaan saya menjadi tak menentu ketika membaca Bagian Satu novel ini. Sungguh haru menyaksikan seseorang yang jatuh cinta di masa-masa akhir hidupnya. Bahagia dan tidak bahagia pada saat yang bersamaan. Bagi yang sehat dan merasa akan hidup lama, barangkali cinta adalah sesuatu yang biasa. Masih panjang waktu untuk menikmati cinta dalam berbagai wujudnya. Sebaliknya, bagi yang sekarat dan merasa hidup akan segera berakhir, mencintai adalah sesuatu yang wah. Mewah.

“Cinta adalah ketidakpastian yang menyenangkan, cinta adalah hidup. Kalaupun sebentar lagi mati, paling tidak aku sudah merasakan ini. Dan ini namanya bahagia.” –hal. 62

Adalah Wayang Supraba, biasa dipanggil Way, menderita batuk yang aneh. Batuk aneh yang tak sembuh meskipun sudah diobati dengan berbagai cara. Batuk aneh yang bisa merenggut nyawa Way kapan saja. Sempat dirawat intensif di rumah sakit namun tak menunjukkan perkembangan berarti, orangtua Way memutuskan untuk membawa Way pulang dan merawatnya di rumah. Segala peralatan kedokteran lengkap disediakan, untuk berjaga-jaga seandainya penyakit Way kumat di waktu yang tak terduga.

Pada suatu hari, saat keadaannya lumayan baik, Way datang ke kantor ibunya dan bertemu dengan salah satu pegawai bernama Jalmo yang kemudian diajak/diperintah untuk menemani Way berenang. Berawal dari berenang, lama-lama Jalmo dan Way malah saling menyatakan perasaan sayang.

Mauuuu…

*

Novel berjudul Senin Rasa Jumat, eh Rabu Rasa Sabtu, ini sangat tepat menggambarkan perasaan saya yang bingung. Bukan bingung akan hari seperti halnya Way yang setiap kali tersadar dari koma selalu merasa bahwa jarum jam tak bergerak.  Membuatnya mengalami semacam disorientasi waktu. Melainkan saya bingung dengan fokus cerita. Apakah ini cerita tentang kematian, tentang buaya putih, atau tentang orientasi seksual? Apakah ini cerita tentang Way atau Jalmo? Bahkan saya bingung dengan keberadaan beberapa tokoh. Siapa Ratu? Siapa Jauhari Efendi? Mengapa harus ada porsi cerita yang cukup besar tentang mereka? Siapa Juwe? Untuk apa ia dimunculkan kembali?

Bagi pembaca lain, mungkin pertanyaan tersebut tak sempat muncul karena pada dasarnya novel ini sangat bisa dinikmati. Tapi bagi saya yang sedang belajar menulis, rasanya ingin sekali pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh penulis. Atau paling tidak, editornya.

Secara keseluruhan, sebagai penggemar karya-karya Arswendo terdahulu, saya bersenang hati. Beliau konsisten dengan nuansa cerita yang ndeso down to earth. Meski Way berasal dari keluarga yang kaya raya, keberadaan Jalmo yang orang biasa, seting cerita (Bagian Dua) di pinggir sungai di Desa Eretan, ditambah lagi dengan cerita rakyat tentang buaya putih, membuat saya tersenyum senang.

Kalau boleh memilih satu kalimat untuk menggambarkan apa yang ingin disampaikan penulis melalui novel ini, maka kutipan berikut rasanya yang paling tepat:

“Kematian dan kelamin itu kekuasaan Tuhan. Bukan kuasa kita. Jadi kalau menyangkut kematian dan kelamin, saya tinggal terima saja. ” –hal. 202

Bagaimana? Setuju dengan Arswendo atau tetap mau ribut tentang keberadaan kaum LGBT?

***

 

 

[Fifty Shades of Grey] Praktik Prostitusi ala Christian Grey

image

Judul: Fifty Shades of Grey
Penulis: E.L. James
Penerbit: Arrow Books
Tahun Terbit: April 2012
Jumlah Halaman: 514
ISBN: 0099579936
Blurb:

When literature student Anastasia Steele interviews successful entrepreneur Christian Grey, she finds him very attractive and deeply intimidating. Convinced that their meeting went badly, she tries to put him out of her mind – until he turns up at the store where she works part-time, and invites her out.

Unworldly and innocent, Ana is shocked to find she wants this man. And, when he warns her to keep her distance, it only makes her want him more.

But Grey is tormented by inner demons, and consumed by the need to control. As they embark on a passionate love affair, Ana discovers more about her own desires, as well as the dark secrets Grey keeps hidden way from public view.

*

Fifty Shades of Grey adalah roman–bercerita tentang perjalanan cinta kedua tokoh utamanya–dengan kisah yang standar. Anastasia Steele yang hanyalah seorang gadis biasa jatuh cinta pada Christian Grey yang adalah seorang pangeran tampan.

Namun kisah ini menjadi tidak biasa karena didukung oleh karakter Christian yang … unik. Di satu sisi, ia adalah seorang pelaku bisnis yang profesional, tegas, disiplin. Karakter-karakter tersebut berhasil membuat Christian menjadi biliuner di usia 27 tahun. Di sisi lain, ia senang menyewa perempuan untuk dijadikan objek eksperimen ketika berhubungan seks. Satu perempuan, satu kontrak, jangka waktu tiga bulan. Kesenangan ini membuat Christian hendak menjadikan Anastasia sebagai perempuan sewaan keenambelas.

Hubungan yang awalnya direncanakan sebagai hubungan profesional, ternyata menjadi lebih personal. Anastasia dideskripsikan memiliki sesuatu yang membuat Christian tidak bisa menjauh. Alih-alih segera menyelesaikan negosiasi kontrak sewa-menyewa, mereka malah menjalin hubungan seperti sepasang kekasih. Christian memperlakukan Anastasia dengan sangat terhormat, menjaga, mengenalkan Anastasia kepada keluarganya, sedemikian rupa hingga Anastasia jatuh cinta dengan mudah dan gundahnya.

Membaca cerita dari sudut pandang Anastasia, membuat saya terpaksa jatuh cinta juga kepada Christian. Bahkan kekurangan-kekurangan Christian, dengan mudah tersamarkan oleh deskripsi, misalnya, kemeja putih dan celana bahan yang jatuh sempurna di pinggul Christian.

Sudahlah masalah cinta-cintaan, yang lebih menarik perhatian saya ketika membaca novel panas ini adalah perihal perjanjian antara Dominant (pihak penyewa, dalam hal ini adalah Christian) dan Submissive (pihak yang disewa, dalam hal ini Anastasia).

“The fundamental purpose of this contract is to allow the Submissive to explore her sensuality and her limits safely, with due respect and regard for her needs, her limits, and her well-being.”

Sejak awal novel, Christian dengan blak-blakan meminta Anastasia untuk menjadi Submissive sembari menyodorkan konsep surat perjanjian yang berisi hak dan kewajiban kedua belah pihak, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Dominant kepada Submissive. Submissive juga punya hak untuk menentukan kapan ia mau atau tidak mau diperlakukan dengan cara tertentu. Dan apabila Submissive berkata tidak, maka Dominant berkewajiban untuk menghentikan keinginannya. Selain hak dan kewajiban, perihal sanksi juga dijabarkan. Submissive dilarang melanggar isi kontrak, karena ada hukuman yang akan ditimpakan kepadanya. Jenis hukuman ditentukan sepenuhnya oleh Dominant.

Poin-poin dalam perjanjian tersebut, selain membahas hal-hal terkait kegiatan ketika berhubungan seks, juga memuat kehendak Dominant untuk memastikan bahwa Submissive selalu berada dalam kondisi prima. Untuk itu, Submissive berkewajiban menjaga kesehatan dengan memakan hanya makanan yang telah ditentukan, tidur minimal 8 jam sehari (yang kemudian dinegosiasi menjadi 6 jam), olahraga rutin empat kali seminggu (dinegosiasi menjadi tiga kali dalam seminggu), pemeriksaan kesehatan secara rutin, dan sebagainya.

Pada akhirnya, prostitusi bermartabat yang mereka praktikkan memiliki dasar hukum yang harus ditaati. Dan karena isi perjanjian yang ditandatangani merupakan hasil dari proses negosiasi, maka dapat dipastikan tidak ada pihak yang dirugikan.

“I want to hurt you. But not beyond anything that you couldn’t take. Why? I just need it.” –hal. 503

Barangkali bisnis prostitusi along with feminism issue harus mencontoh cara-cara Christian. Sebelum seseorang menggunakan jasa Pekerja Seks Komersial (PSK), harus ada perjanjian tertulis mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kedua pihak. Bila terjadi pelanggaran, maka ada sanksi yang dikenakan.

Jangan ada lagi kasus di mana pihak perempuan mendapat siksaan tanpa bisa melawan/membela diri.

Bagaimana bila dibuat perjanjian bahwa sebelum bertransaksi, kedua belah pihak, misalnya, harus berada dalam keadaan bersih dan wangi? Bisa saja karena bau badan, salah satu pihak merasa tidak nyaman, lalu menyindir/mengejek lawannya, lalu pihak lawan tersinggung dan membunuh si penyindir. Bisa terjadi, kan?

Nikmat tak didapat, bui jadi akhirat.

Jadi, membuat perjanjian tertulis rasanya bukan ide buruk. You know, just in case.

***

Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi

images

Judul: Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi
Penulis: M. Aan Mansyur
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: Mei, 2015
Jumlah Halaman: 276
ISBN: 9797808165
Blurb:

“Kau percaya masa depan masih memiliki kita?”
“Akan selalu ada kita. Aku percaya.”

NANTI tidak bisa begitu saja menoleh dan pergi dari masa lalu meskipun ia sudah berkali-kali melakukannya. Terakhir, ia mengucapkan selamat tinggal dan menikah dengan lelaki yang kini berbaring di makamnya itu.

Aku tidak pernah ingin mengucapkan selamat tinggal.
Aku tidak pernah mau beranjak dari masa lalu.

Masa lalu, bagiku, hanyalah masa depan yang pergi sementara.

Namun, ada saatnya ingatan akan kelelahan dan meletakkan masa lalu di tepi jalan. Angin akan datang menerbangkannya ke penjuru tiada. Menepikannya ke liang lupa. Dengan menuliskannya, ke dalam buku, misalnya, masa lalu mungkin akan berbaring abadi di halaman-halamannya.

Maka, akhirnya, kisah ini kuceritakan juga.

*

Warisan apa yang sudah kita siapkan jelang kematian? Atau, apakah kita memiliki waktu untuk menyiapkan warisan tersebut?

Untung bagi Jiwa Matajang, ada manuskrip yang tertinggal sebagai warisan. Manuskrip,  yang menceritakan perasaan Jiwa setelah ditinggal kekasihnya menikah dengan laki-laki lain, ini bisa disebut sebagai semi-biografi yang ia tulis sendiri. Di dalam cerita, Jiwa memang seorang penulis. Semi-biografi, karena dalam manuskrip juga terselip banyak pengalaman Jiwa sejak masa kecil hingga saat-saat sebelum kematian menjemput.

“Salah satu hal menyenangkan yang sering kulakukan setelah dewasa adalah mengatakan kepada anak-anak yang kutemui agar tidak menjadi orang dewasa, Jika terpaksa harus menjadi dewasa, kataku, tetaplah menjadi seorang anak kecil.” –hal. 36

Seberapa nyata sebuah karya fiksi?

Seorang penulis tentu saja akan memilih sendiri bagian mana di hidupnya untuk diselipkan dalam karya( fiksi)nya. Dan orang lain yang kebetulan ada di sana mengalami hal yang sama, bisa saja menyetujui/membantah. Dalam novel ini, Nanti, kekasih Jiwa yang menikah dengan laki-laki lain itu, menjadi pihak yang juga ada di beberapa pengalaman yang ditulis Jiwa. Nanti membaca manuskrip yang ditinggalkan Jiwa dan mengomentari banyak bagian. Komentar Nanti menjadi catatan kaki dalam novel ini. Tetapi karena saya ingin menikmati cerita Jiwa tanpa interupsi, maka catatan kaki darimu akan saya baca nanti, ya, Nanti.

Selain itu, seperti apa yang M. Aan Mansyur perlihatkan kepada publik melalui akun-akun media sosialnya, di novel ini pun ia konsisten menyuarakan kepedihan (selain hal perpisahan dengan ayahnya dan kesetiaan ibunya).

“Es tan corto el amor, y es tan largo el olvido. Cinta sekejap saja, melupakannya butuh waktu lama.” –hal. 172

*

Bisa seberapa narsiskah seorang penulis?

Barangkali karena memasukkan informasi mengenai penulis besar klasik peraih Nobel dan seterusnya dan seterusnya sudah terlalu mainstream, maka M. Aan Mansyur memasukkan dirinya sendiri ke dalam karyanya ini. Narsis cara baru. Dengan kata lain:

Narsis lvl: M. Aan Mansyur

Tapi seberapa narsis pun seorang penulis, tentu bisa dimaafkan apabila karyanya bisa dinikmati. Dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi ini memang bisa dinikmati. Empat bintang untuk cara bertutur M. Aan Mansyur yang dengan jalinan kalimat yang indah. Dan tentu saja, banyak kalimat bagus untuk dikutip. :))

***