Sesi Motivasi/Konsultasi Bersama @alexandrarheaw

268

Judul: Twivortiare 2
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun terbit: Desember 2014
Jumlah halaman: 488
ISBN: 9786020311364
Blurb:

“You know you’re in love with the right person when falling in love with him turns you into the best version of yourself.”

Setiap pasangan punya cerita masing-masing, kadang manis, kadang juga pahit. Enam tahun setelah Divortiare dan dua tahun setelah Twivortiare, Alexandra dan Beno kembali hadir melalui akun Twitter @alexandrarheaw. Melalui buku ini, kita kembali diajak “mengintip” kehidupan mereka sehari-hari, pemikiran Alexandra yang witty dan selalu apa adanya, bahkan merasakan langsung interaksi antar karakter-karakter yang diceritakannya. Membaca Twivortiare 2 seperti mendengarkan sahabat sendiri bercerita tentang manis dan pahitnya hidup, tentang pilihan, kesalahan masa lalu, dan tentang makna sesungguhnya dari kesempatan kedua.

*

Pengin tahu rasanya follow cuma satu akun di Twitter? Coba baca Twivortiare dan Twivortiare 2 karya Ika Natassa, karena novel-novel tersebut disajikan dalam bentuk kumpulan twit dari akun si tokoh utama, Alex (@alexandrarheaw). Ketika baca Twivortiare dulu, nggak nyangka akan ada lanjutannya. Jadi begitu Twivortiare 2 terbit, penasaran ingin baca.

Untuk Twivortiare 2, rentang waktu ceritanya hampir dua tahun. Tahun pertama, cerita lebih ditekankan pada usaha Alex dan Beno yang ingin segera punya anak tetapi tak kunjung berhasil. Kekecewaan Alex setiap kali mendapatkan siklus bulanannya diperparah dengan tuntutan kerabat yang kerap kali bertanya “Sudah ‘isi’ belum?”

Lalu twit mengenai tuntutan kerabatnya tersebut diikuti serangkaian twit motivasi mengenai kesabaran dan kepasrahan.

“When you reach a certain age, your maternal/paternal instinct just arise. You just started to love playing with babies, holding them.” –hal. 79

Agak repetitif juga ketika beberapa kali Alex mengungkapkan kekecewaannya setiap kali datang bulan. Untungnya, twit Alex diselingi dengan cerita (kalau nggak bisa dibilang racauan) tentang kehidupan sehari-hari, khususnya menyangkut pekerjaan dan rumah tangga. Mengenai pekerjaan, Alex termasuk yang sering mengeluhkan situasi rapat yang bertele-tele, dan sebagainya. Kalau mengingat betapa media sosial (katanya) dijadikan alat bagi bagian HRD suatu perusahaan untuk memantau (calon) pekerjanya, agak geleng-geleng juga melihat betapa Alex seterbuka itu mengeluhkan kondisinya di kantor. Meskipun sering juga Alex menceritakan sisi positif kantornya, tapi tentu kecenderungan manusia adalah lebih mudah mengingat hal buruk dibandingkan hal baik. Setiap baca twit Alex yang mengeluhkan kantor, saya jadi ingat twit keluhan di akun sendiri dan mendadak, “Oh, begini toh rasanya jadi followers yang baca keluhan saya. Haha..” Semacam bercermin gitu, deh.

Kemudian, mengenai rumah tangga. Nah ini yang saya suka. Karena banyak sekali cerita tentang kelakukan Beno di Twivortiare 2. Mulai dari yang remeh macam hobinya makan Bengbeng, sampai beratnya pekerjaan sebagai dokter bedah yang lumayan sering dapat panggilan mendadak. Saking banyaknya cerita tentang Beno, saya sampai merasa bahwa Ika Natassa a.k.a Alex benar-benar mengeksploitasi Beno. Ha! Demi apa? Demi pembaca/fans/groupies yang senantiasa halu sama dokter bedah nan ganteng banget ituuu! Ya, siapa yang nggak gemes sama Beno yang dari luar terlihat dingin dan kaku tetapi ternyata mesum juga? Eh.

“Sometimes a woman needs to play dress up to feel beautiful, Ben. | Sama aku, kamu nggak usah pake apa-apa juga cantik. Makanya di rumah aja.” –hal. 360

Ya ya ya.. Penonton bahagiaa~~

Semakin bahagia ketika akhirnya drama Alex yang berkali-kali gagal hamil, akhirnya berhenti. Karena apa? Ya, karena akhirnya hamil. Yeay! Eh, semoga ini bukan termasuk spoiler, ya karena hamil adalah hal yang wajar dalam rumah tangga dan kecil kemungkinan juga novel metropop hanya berisi kemurungan mengenai tokohnya yang nggak hamil-hamil. Novel metropop rasanya kurang pas kalau sesuram itu.

Well, di  masa kehamilan Alex ini, pembaca dipaparkan dengan suka duka perempuan yang baru pertama kalinya hamil, lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan dan kekhawatiran-kekhawatiran. Ada banyak kekhawatiran yang diungkap Alex melalui twitnya dan dijawab oleh followers-nya dan interaksi antara Alex dan followers-nya ini semakin membuat @alexandrarheaw terasa seperti akun asli, bukannya rekaan. Interaksi Alex dan followers-nya bisa dibilang aktif karena Alex juga kerap membuka sesi tanya-jawab mengenai hubungan percintaan, dan tentunya dijawab berdasarkan pengalaman/pemikiran Alex sendiri. Cocoklah buat pembaca yang galau mengenai status/kejelasan/kelanjutan hubungannya dengan pasangan. Selebtwit/Mario Teguh gitu.

“Ini nasihat buat para perempuan di timeline gue: do not be an option to someone, you should be his only choice. Titik.” –hal. 88

“Don’t try to change your spouse. Not gonna work. And even if he does, you might regret it later because that’s not the person you fell in love with.” –hal. 226

Lalu banyak perempuan pun baper~~

Twivortiare 2 beralur maju dan berfokus pada dua kondisi itu tadi, sebelum dan selama Alex hamil. Nggak banyak kejutan di novel ini, semuanya berjalan normal dan kisah mereka diakhiri dengan kalem. Tapi setidaknya dari novel ini, saya bisa dapat banyak kutipan bagus buat nambah-nambah isi Instagram. Heu. Penasaran, Alex bisa ngetwit banyak banget kalimat motivasi bagus gitu, dapat dari mana ya? Gimana caranya ‘memetik’ sesuatu dari sekitar untuk di-convert jadi kalimat bagus–karena saya yakin nggak semuanya berdasarkan pengalaman pribadi? Hmm. Pertanyaan bagus untuk sang penulis, nih.

Tapi, satu poin penting dari Twitter yang nggak diikutkan Ika Natassa di bukunya adalah waktu (jam) twit. Buat saya ini penting, karena beda jam beda juga bahasannya. Twitter gitu, loh. Cepat sekali topik berganti. Kadang baca serangkaian twit Alex dalam sehari jadi berasa nggak nyambung, yang pasti karena rentang waktu antartwit lumayan panjang. Tapi lagi, maklum saja lah. Ada Beno ini. Yha!

Lima bintang untuk Beno, tiga untuk twit motivasi Alex, tiga untuk ceritanya, dua untuk penyajiannya. Rata-rata: 3,25 menurut kalkulator saya.

***

 

*) Review ini dibuat untuk reading challenge @MondayFF bulan Agustus 2016 dengan tema: buku yang sudah lama kamu punya tapi selalu tertunda dibaca. Twivortiare 2 sudah berkali-kali masuk keluar daftar bacaan bulanan, tetapi selalu ‘kalah’ oleh buku lain. Akhirnya bulan ini memutuskan untuk baca, karena masih ada dua novel Ika Natassa yang antre untuk dibaca–sebagai persiapan sebelum nonton filmnya. Harus berurut bacanya, biar sip. x)

Advertisements