KAPPA: Bicara Pinjam Lidah

Judul: Kappa
Penulis: Ryunosuke Akutagawa
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit: 2016
ISBN: 9786024240950
Blurb:

Kappa menggambarkan karikatur kehidupan masyarakat modern Jepang yang maju setelah mengalami zaman teknologi modern, tetapi mengalami kemerosotan derajat rohani. Makhluk kappa dan masyarakatnya merupakan buah imajinasi Ryunosuke Akutagawa.

Akutagawa dipandang sebagai salah satu sastrawan terkemuka Jepang. Banyak yang menganggapnya setara dengan Gustave Flaubert. Selain Kappa, buah penanya yang terkenal antara lain: Rashomon dan Dalam Hutan.

Akutagawa meninggal pada tanggal 24 Juli 1927 dalam usia 35 tahun karena bunuh diri. Tak diketahui pasti penyebabnya, walaupun ia sendiri pernah berkata, seandainya ia bunuh diri, itu karena kabut ketakutan

*

Di Jepang, kappa adalah sebuah mitologi. Tampilan fisiknya  serupa anak sepuluh tahun, berdiri tegak dan dapat berbicara dalam bahasa manusia, memiliki paruh, di kepalanya yang berambut pendek terdapat lekukan cekung yang berisi air sedikit. Hidupnya di air, dan biasa keluar di malam hari untuk mencuri semangka, apel, dan hasil ladang lainnya.

Saya senang mengkhayal bahwa Ryunosuke Akutagawa menggunakan dunia kappa untuk menyampaikan apa yang takut ia sampaikan dalam wujudnya sebagai manusia.  Tentu saja karena isu yang hendak disampaikan cukup sensitif serius. Ada tiga isu yang menarik perhatian saya: pembatasan kelahiran, pembantaian pekerja, dan agama kepercayaan.

Terkait pembatasan kelahiran, sebelum lahir ke dunia, calon bayi kappa akan ditanyai mengenai kesediaannya untuk dilahirkan. Iya, calon bayi kappa sudah bisa bicara sejak dalam kandungan. Misal si calon bayi tidak mau dilahirkan dengan alasan tertentu, maka calon bayi akan hilang begitu saja dan perut sang ibu akan kempes lagi. Terkait pembantaian pekerja, banyak kappa pekerja yang di-PHK seiring pesatnya perkembangan teknologi sehingga tenaga mereka tidak lagi dibutuhkan. Untuk menghindari peningkatan angka pengangguran sebagai akibat dari PHK besar-besaran, pengusaha dibolehkan oleh undang-undang untuk membunuh para pekerja. Tidak hanya membunuh, mereka juga dibolehkan memakan daging para pekerja itu. Terakhir, terkait kepercayaan. Di dunia kappa ada agama sebagaimana agama di dunia manusia, tetapi yang paling utama adalah (agama) Modernisme atau Pemujaan Hidup. Sebentar, Modernisme? Ini nyindir dunia manusia, ya? *insecure*

“Aku tidak ingin dilahirkan. Pertama, karena aku tidak ingin mewarisi darahmu. Kegilaanmu sudah cukup mengerikan untuk dipikirkan. Kedua, karena aku yakin, bahwa kehidupan kappa terlalu mengerikan.” –Hal. 16

Semoga banyak yang setuju bahwa fantasi merupakan salah satu cara penulis untuk menyampaikan isi kepala, kegelisahan, atau isu yang menjadi perhatiannya dengan lebih aman. Karena di dunia literasi apalagi di genre fantasi, penulis bebas berimajinasi menciptakan dunia/tokoh/karakter/kondisi apa pun. Sehingga ketika didebat, tinggal bilang, “Itu kan novel fiksi.” seperti isu tentang…ah, sudahlah.

Membaca Kappa adalah membaca ide. Dan ide semestinya memang pendek, sependek Kappa yang berhenti di halaman 83. Dan karena ini ide maka minim konflik. Bisa dianggap juga sebagai esai atau artikel wisata ke dunia lain. Tapi barangkali dengan tulisan sependek itu, Ryunosuke Akutagawa sudah merasa cukup menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.

4 bintang!

***

Advertisements