[Api Awan Asap] Menjaga Sinergi dengan Alam

FullSizeRender (5)

Judul: Api Awan Asap
Penulis: Korrie Layun Rampan
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Cetakan kedua, 2015
Jumlah Halaman: 169
ISBN: 9786023750009
Blurb:

Di sebuah kawasan, tepi Sungai Nyawatan, penduduk membangun lou (betang, rumah panjang). Dari lou itu, dua sahabat -Jue dan Sakatn- setelah menempuh perjalanan 300 kilometer, memasuki gua untuk mengambil sarang burung walet. Jue yang baru sebulan menikahi Nori, putri Petinggi Jepi, bertugas masuk ke dalam gua sambil pinggangnya diikat dengan tali plastik; sementara Sakatn menunggu di luar. Karena diam-diam Sakatn juga mencintai Nori, Sakatn lalu mengerat tali plastik itu. Akibatnya, Jue tersesat dalam gua yang gulita.

(blurb di atas adalah versi Goodreads, agak berbeda dengan blurb di belakang buku)

*

Api Awan Asap, novel karya Korrie Layun Rampan ini mematahkan pendapat saya sebelumnya bahwa novel-novel pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ akan sulit menjadi favorit. Sebelum ini, saya sudah membaca Dadaisme, Tabula Rasa, Kei, dan Napas Mayat. Meskipun isu/ide yang mereka angkat di novel-novel tersebut patut mendapat acungan jempol, tetapi jalinan kalimat penulis di masing-masing karyanya itu bukanlah selera saya. Lambat, cenderung datar hingga sempat menyentuh pangkal rasa bosan. Iya, ini murni masalah selera. Tapi saya suka Saman dan Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, kok. x))

Berbeda dengan Api Awan Asap. Ide yang diangkat sama menariknya dengan Dadaisme, Kei, dan Napas Mayat, tetapi sisi romannya cukup unik, apalagi ditambah jalinan kalimat yang tegas dan penyajian cerita yang membuat saya mengingat lagi bahwa saya juga memiliki keinginan untuk menyajikan novel dengan cara yang sama: latar waktu cerita sangat pendek. Meskipun diselingi kilas balik  tetapi di akhir setiap bab, cerita kembali ke masa sekarang. Cerita baru bergerak di seperlima akhir. Sangat singkat.

Rasanya, Api Awan Asap lebih tepat dikategorikan sebagai novela karena hanya terdiri dari 169 halaman. Barangkali jumlah halaman sedemikian itu juga yang menyebabkan novel ini terasa padat. Sama sekali tidak bertele-tele.

Api Awan Asap mengambil latar kehidupan suku Dayak (Benuaq) di Kalimantan Timur, tepatnya Desa Dempar. Warga desa yang dipimpin oleh Petinggi Jepi menggambarkan bagaimana idealnya sebuah peradaban dibangun, sinergi dengan alam harus senantiasa di jaga.  Tradisi Dayak menentukan bahwa kawasan hutan dibagi dalam enam macam peruntukan. Peruntukan pertama adalah lou (rumah panjang orang Dayak) alias tempat tinggal warga. Kedua, adalah seluasan tanah yang dikhususkan untuk menanam buah-buahan seperti lai, durian, langsat, nangka, encepm payakng, encepm bulau, keramuq, rambutan, cempedak, dan sebagainya. Pada dataran yang tidak terjangkau banjir, warga akan menanam kopi, lada, serta buah-buahan yang menjadi milik pribadi. Pada lahan yang terjangkau banjir, warga menanam rotan, enau, kedawung, petai dan pohon-pohon tanaman keras lainnya. Ketiga, ladang. Setelah dirambah, kawasan ladang tersebut ditanami padi. Apabila dirasa tidak subur, maka warga akan membuka lahan di sebelahnya untuk lahan baru. Demikian seterusnya, dalam suatu lingkaran waktu, sang peladang kembali lagi ke tanah asal. Keempat, adalah kawasan hutan untuk mengambil bahan bangunan rumah, pembuatan perahu, dan segala yang berhubungan dengan kehidupan warga lou. Kelima, kawasan yang dijadikan ajang tempat mencari hasil hutan yang khusus disediakan seperti damar, rotan hutan, sarang burung atau lebah madu. Keenam, adalah hutan bebas. Orang-orang dari desa lain dan kawasan lain dapat mengambil hasil bumi dan berburu di kawasan tersebut. Bahkan mereka juga dapat menjadikan kawasan itu sebagai kampung baru. Karena berada di luar persekutuan lou, tanah itu dianggap tak bertuan.

Bagaimana ya kondisi peradaban di sana sekarang ini, mengingat novel ini tidak menyebutkan seting waktu secara spesifik (novel ini diterbitkan pertama kali tahun 1999, jika ini membantu)? Bahkan menurut saya, judul “Api Awan Asap” merujuk pada perambahan hutan dengan cara-cara yang tidak semestinya. Dikatakan bahwa orang kota yang melakukan perambahan hutan tak tahu cara memanfaatkan hutan tanpa merusak. Mereka bahkan tidak tahu cara membakar hutan dengan benar. Asap yang muncul akibat pembakaran tersebut menjadi masalah yang sempat disinggung dalam novel.

“Cinta sejati adalah hati yang bersentuhan dengan hati. Jiwa dengan jiwa. Suatu desiran yang tak akan mampu diterjemahkan oleh kata-kata manusia.” –Hal. 120

Terlepas dari isu lingkungan yang diangkat dengan sangat baik, sisi roman antara Nori-Jue-Sakatn juga membuat geregetan. Nori, sebagai tokoh utama, membuat saya terkesan dengan ketangguhan sekaligus keteguhannya. Membesarkan Pune sendirian karena ditinggal mati Jue sebulan setelah hari pernikahan mereka. Berkali-kali dilamar Sakatn tetapi selalu mengatakan bahwa Jue masih hidup dalam hatinya. Bahwa menerima lamaran Sakatn sama artinya dengan berkhianat. Nori begitu setia terhadap Jue. Di lain pihak, Sakatn begitu setia terhadap Nori, hingga ia memutuskan untuk tidak menikah dan rela menanti kesediaan Nori menerima lamarannya selama dua puluh tahun. Dua puluh tahun. Ternyata ada orang yang mampu bertahan selama itu untuk menunggu sesuatu yang tak pasti.

Misteri mengenai sikap Nori dan Sakatn terjawab dengan sangat baik di akhir kisah. Ending Api Awan Asap merupakan salah satu akhir kisah yang berkesan. Semacam fiksi mini. Seperti menceritakan bagaimana sebuah bom dibuat, siapa yang membuat, bagaimana bentuknya, apa yang bisa diakibatkan oleh bom tersebut, lalu diakhiri dengan boom! Bom tersebut meledak. Selesai.

Lima bintang untuk Api Awan Asap.

***

Advertisements