Sungu Lembu dalam Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi

 raden-mandasia
Judul: Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana Publishing
Tahun Terbit: 2016
Jumlah Halaman: 448
ISBN: 9789791079525
Blurb:

SUNGU LEMBU menjalani hidup membawa dendam. Raden Mandasia menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya. Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung.

Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa wahyu, bertemu dengan juru masak menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca—cermin-cermin di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.

Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki makian Anda dalam waktu berdekatan—mungkin bersamaan.

*

“Ia kadang tak perlu senjata dalam pengertian sesungguhnya. Musuhnya sangat dekat, ada dalam dirinya, hawa nafsunya sendiri.” –hal. 84

Ini lucu. Ingin membunuh seorang raja tetapi suka dan kagum dengan kondisi negeri yang dipimpin oleh raja tersebut. Iya, awalnya Sungu Lembu benci buta dengan Watugunung. Alasannya, karena Watugunung kebetulan adalah raja sebuah negeri bernama Gilingwesi yang mengakuisisi paksa negeri asal Sungu Lembu, Banjaran Waru. Dari sini saja, saya sudah diperlihatkan bagaimana dengan informasi yang kurang dari separuh, seseorang sudah bisa merasakan benci yang sungguh. Tetapi seiring bertambahnya usia serta pengalaman dan informasi yang sebagian besar ia dapat dari petualangannya bersama Raden Mandasia, Sungu Lembu tumbuh menjadi pembenci yang tabah. Keinginan untuk membalas dendam tetaplah ada namun kini ia lakukan dengan penuh kesadaran, tenang, dan tidak meledak-ledak. Barangkali kedewasaan ada kaitannya dengan kemampuan untuk mengendalikan diri.

Omong-omong, yang sedang dibahas adalah novel berjudul Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi tetapi kenapa saya membuka tulisan ini dengan membicarakan Sungu Lembu? Pertama, karena bagi saya Sungu Lembu lebih menarik daripada Raden Mandasia. Kedua, karena novel ini diceritakan melalui sudut pandang Sungu Lembu dan 69% novel menggambarkan perjalanan hidup termasuk usahanya untuk membalas dendam. Ketiga, sama dengan nomor satu. Halah.

Jadi, silakan baca Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi kalau kalian suka:

1. Yusi Avianto Pareanom, karena tak kenal maka tak sayang. Tahu kan, that moment ketika kalian suka/tidak dengan seseorang maka semua tindakan orang tersebut menjadi terlihat menyenangkan/menyebalkan. Jadi, yes, suka dengan penulisnya akan membuat kalian lebih mudah menerima karyanya. Tapi menjadikan Raden Mandasia sebagai bahan perkenalan dengan Om Yusi juga boleh. Boleh banget, malah. Karena selalu ada kali pertama untuk semua hal, dan saya yakin perkenalan ini akan menjadi perkenalan yang hangat.

2. Cerita kolosal/silat/epos. Meskipun novel ini diberi label dongeng kontemporer, tapi masih sangat terasa kesan kolosalnya. Mulai dari cerita, latar, hingga penyajiannya. Era perang, seting kerajaan, pemilihan nama tokoh, deskripsi. Bisa dianggap novel petualangan juga, karena Sungu Lembu dan Raden Mandasia melakukan perjalanan ke Gerbang Agung, mirip-mirip perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci. Nah, berhubung bacaan dan tontonan saya sangat terbatas mengenai yang kolosal-kolosal, yang terbayang ketika baca Raden Mandasia adalah Mahabharata (Nyoman S. Pendit) dan Pendekar Tongkat Emas. Tahunya cuma itu.

3. Cerita satir. Entahlah apa Raden Mandasia bisa dikategorikan satir atau nggak, tapi salah satunya begini:

Sungu Lembu (SL): Bukan keturunan raja juga boleh (memimpin Banjaran Waru)?
Banyak Wetan (BW): Mengapa tidak, jika ia orang yang terbaik?
SL: Mana ada rakyat jelata yang sanggup memimpin kerajaan?
BW: Memangnya bodoh pintarnya seseorang ditentukan mutlak oleh garis keturunan? Aku percaya bahwa suatu saat anak petani atau tukang kayu bisa menjadi pemimpin negeri ini kalau ia memang cakap.

Banyak Wetan junjunganku!

4. Cerita vulgar. Nyai Manggis tentulah menjadi bintang dalam hal ini. Pemilik rumah judi plus plus ini bekerja sama dengan Sungu Lembu dalam usaha mereka membunuh Watugunung. Sejarah Sungu Lembu dan Nyai Manggis rada serupa suramnya. Lalu di bagian mana vulgarnya Nyai Manggis? Ya misal kutipan dari halaman 78 ini, sedikit tapi cukup untuk bikin panas dingin.

Nyai Manggis (YM): “Raden.”
SL: “Ya, Nyai?”
YM: Di atas sedikit.”

*benerin kacamata* Jelas ini bacaan dewasa.

5. Merasa wajib membaca karya pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK). Sebagai penyuka baca, saya sepakat bahwa KSK menentukan nomine dengan pas. Yang menjadi nomine saja keren-keren, maka pemenangnya adalah yang paling keren dari yang paling keren. Selain itu, sebagai ajang penghargaan yang bergengsi di Indonesia, baca karya pemenang KSK bisa jadi bahan untuk masuk ke kelompok-kelompok sastrawan elite kelas kakap.

Secara keseluruhan, terlepas dari penggunaan jatmika dan anjing yang terlalu sering, Raden Mandasia membawa kata-kata unik ke permukaan seperti kerambit, rungsing (rongseng), madah, dan bahar. Dipadu dengan atmosfer kolosal serta cerita kepahlawanan tadi, Raden Mandasia terasa entahlah, tua. Mungkin karena cerita silat/kepahlawanan berjaya di masa ketika orang tua kita masih remaja. Jadi di masa sekarang, kisah semacam itu terkesan jadul vintage.

Dengan alasan yang sama, Raden Mandasia juga menjadi bacaan yang segar. Setelah dijejali dengan novel-novel masa kini dengan tema berat, nyastra abis, atau suram/depresi, Raden Mandasia bagai gerimis di tengah terik siang.

LIMA BINTANG!

***